October 30, 2012

Everthing Happen for a Reason

"It's Ok, just breathing, Mira"...
Itulah kata yang sering saya ucapkan untuk mengingatkan diri sendiri ketika dalam keadaan yang kurang kondusif. Sama seperti malam tadi, sepertinya kesunyian begitu lekatnya memelukku dalam keheningan yang semakin terasa dingin. Walau nyatanya mata ini terasa begitu lelah, pikiranku masih terus berlari-lari berupaya merangkai partikel-partikel kisah yang terurai melalui catatan-catatan hati. 

Hidup, adalah sebuah proses di mana akan selalu ada serangkaian kisah yang kita lalui dalam setiap langkah yang kita tempuh. Adanya kita di dunia ini pun tidak terlepas dari sebuah permulaan, hingga menuju sebuah akhir di mana kita tak lagi mampu berpijak. Ya, itulah yang dinamakan 'Prosesi', ada awal dan ada akhir.

Pernahkah mendengar sebuah kata, "Everything happen for a reason"?
Kata itu jelas tersampaikan dalam sebuah film layar lebar yang sempat tayang beberapa waktu yang lalu. Kata yang memiliki makna begitu dalam, bahkan ketika kita mencoba meneleaah ke dalamnya, tak ada satu pun yang bisa mengelak, bahwa nyata... itu benar adanya. 

Berbagi tentang cerita seorang sahabat dalam rumah maya ini, tak lantas memberiku rasa nyaman. Karena di sinilah (*mungkin) babak baruku dimulai. Bukan karena merasa tidak nyaman dengan cerita mereka, tapi sungguh, semua ini menjadi cambuk bagiku agar tetap dan berusaha ada untuk mereka. "That's what's friend are for, right?" Sekalipun harus kuakui, aku bukanlah sahabat satu-satunya yang siap siaga menemani mereka dalam setiap kesulitan. 

Tak bisa dipungkiri, rasa sedih dan perasaan hati tersayat menghampiri hati ini ketika ada yang tidak biasa kutemukan dalam sosok itu. Ada yang berbeda kali ini, karena catatanmu tak lagi terangkai dalam sebuah bait-bait indah. Dia telah menjelma menjadi seseorang yang begitu tegar dan seolah ingin mengatakan pada dunia, "Inilah Aku", yang tetap mencari tawa dalam di balik air mataku. Dalam temaramnya Senja, sebuah sinar memancar dalam dirinya dan menyilaukan setiap mata yang memandangnya. "Hey, ada apa denganmu, sahabat?". Tanpa perlu waktu yang lama, Tuhan telah menitipkan catatan kisah kehidupannya padaku. "Aku bisa apa?". Kini, muramnya Senja bisa jadi menghampiriku di saat Senja yang sebenernya bertahan dalam kegelapan. Cukup... kali ini aku tak kuasa, berpura-pura bahwa segalanya akan baik-baik saja. Seperti kataku tadi, aku bukanlah sahabat terhebat yang kau pikirkan. Kali ini aku rapuh. Ingin rasanya aku memelukmu di setiap hening yang membawamu pada sebuah asa yang tak berujung. huuft.... Lets breathing... Kita semua tahu dan meyakini akan sebuah permualaan dan akhiran. Jika kita terlahir ke dunia ini, maka ikhlaskanlah diri kita untuk kembali kepadaNYA dalam keadaan apapun. Dan kita tidak pernah tahu, siapa yang akan lebih dulu menghadap sang Ilahi. Yakinlah akan kebesaranNya, sahabatku. Doaku selalu untukmu. 

Belum habis rasa sedih ini, kabar tentang kematian aku terima dari salah satu sahabat terdekatku. Lagi, kulihat mendung dari wajah-wajah yang sangat kukenal. Saat itu, nampaknya senyum bukanlah sahabat terbaik baginya. Hanya airmata dan doa yang terlihat ketika Sang Ibunda pergi untuk selama-lamanya. Aku bernafas kembali dalam rangkaian malam-malam beberapa hari terakhir ini. Aku merenungi setiap hal yang terjadi, bukan tanpa alasan Allah Swt mengajakku untuk melihat setiap kejadian yang menimpa orang-orang terdekatku. Aku yakin bahwa Allah Swt memiliki alasan dengan semua ini. Apakah itu?, akupun tak mengetahuinya.. Bersabarlah, sahabatku. Kau telah mengupayakan segalanya secara maksimal. Jika kini Sang Bunda telah tenang di siniNya, itu karena Allah menghendaki seperti itu. Memang berat sekali kehilangan sosok yang telah begitu banyak memberikan hidupnya untuk kita. Tapi yakinlah, keikhlasan Sang Bunda semasa hidupnya, telah menjadikanmu seorang wanita kuat dan tegar. Karena engkau seperti apa yang Mamamu katakan, Anakkon hi do hamoraon di au (Anakku adalah kekayaanku, kebangganku)

Keluar sejenak dalam kepenatan yang menyeretku pada sebuah kesedihan, akhirnya aku mulai bisa bangkit kembali dan tetap memberikan apa yang bisa kuberikan untuk mereka. Senyuman, pelukan hangat dan doa untuk mereka. Hingga akhirnya aku mulai terhibur dengan kegiatanku yang lain. Namun, ternyata Allah Swt berkehendak yang lain lagi. Usai melewati kegembiraan bertemu dengan teman-teman baru, nafasku kembali sesak ketika Allah Swt menitipkan kembali 1 kisah dari seorang sahabat. Tapi kenapa, Ya Allah? Kali ini harus kuakui, aku bukanlah sahabat terdekatnya. Namun dengan seijinMu, rangkaian kata hingga tetesan air matanya mengalir dari mulutnya dan sampai pada pendengaranku, hingga akhirnya tercerna dalam hati dan pikiranku. Ya Allah, Tak ada satupun yang mampu melawanMu ketika Engkau sudah berkehendak. 
Aku tak bisa membayangkan, bagaimana perasaan sahabatku itu ketika harus menerima kenyataan bahwa orang yang diandalkannya mampu memberikan nafkah, harus terkondisikan di rumah dan belom memiliki pekerjaan pengganti? Bersyukur sahabatku itu memiliki keahlian menjahit. Setidaknya, itulah harapan dia saat ini, agar senantiasa mampu menopang kebutuhan keluarga yang tidak sedikit. Be strong my dear, yakinlah bahwa Allah Swt akan selalu ada untukmu dan keluarga.

Apakah ini bagian dari rencanaMU, ya Allah? Engkau tunjukkan setiap episode kehidupan dari orang-orang yang dekat denganku? Apakah Engkau sedang memperlihatkan bahwa masalahku tidaklah seberat apa yang mereka hadapi? Sementara Engkau Maha tahu, aku baru saja bangkit dari keterpurukanku. Sesak rasanya dada ini. Aku ingin bernafas sesaat, ya Allah... Kisah mereka membuatku pilu.

Aku kembali menata hati dan pikiranku, dan mulai berprasangka yang lebih baik padaNya. Everything happen for a reason. Allah Swt memilihku dengan jalanNya, dan aku tak mungkin berpaling. Sekalipun kisah mereka membuatku pilu, aku adalah seorang teman untuk mereka, yang harus memiliki lebih banyak kekuatan dan kesabaran untuk membantu mereka berdiri. Aku mulai menyadari, bahwa sahabat di sekeliling kita adalah keluargaku. Merekalah yang nantinya akan turut mendoakanku ketika kontrak duniaku usai.

Cukup sampai di situ? Belum :)
Berada di rumah beberapa hari ini membuatku lebih produktif untuk memutar otak dan pikiran akan sebuah karya. Aku yang sebenernya tidak memiliki keahlian menulis ini, ingin sekali rasanya memiliki sebuah catatan yang terangkum dalam sebuah buku. Namun entah rencanaNya untukku. Aku hanya akan terus mengupayakannya, karena aku memiliki mimpi, dan di sini ingin kupertegas, bahwa mimpi adalah nafas kehidupanku. Hingga akhirnya, kembali lagi seorang sahabat datang padaku...

"Mira, kemarin aku hampir saja mau bercerai dengan suamiku". Sontak, nafas yang mulai teratur kembali lagi terasa sesak mendengar apa yang diutarakan oleh sahabatku. Dan kali ini, Insya Allah aku lebih kuat menerima sebuah catatan kehidupan dengan episode yang berbeda.

"Ya Allah, kenapa? Apa yang terjadi?" tanyaku.
Tak ada satu wanitapun di dunia ini yang rela ketika mendapati pasangan hidupnya bermain api dengan orang ketiga. Apalagi hubungan yang terjalin terlewati begitu jauhnya. Jika aku harus membayangkan apa yang sahabatku rasakan kala itu, tentu saja akan sangat memekik hati. Bagaimana mungkin, kenapa, apa yang salah? Sementara aku tau sahabatku itu berjuang lebih dari 4 tahun menjalani keseharian tanpa suami di dekatnya dikarenakan tugas kantor yang selalu mengkondisikan dirinya berada jauh dari keluarga.
Drop? terlhat jelas sekali dari raut wajahnya, lagi-lagi akupun harus menarik nafas mendengar kisah ini.
Aku bisa apa lagi, selain turut mensupport dan mendoakannya, agar kekhilafan sang suami menjadi pembelajaran yang sangat berharga dan tidak terulang lagi. Sebagai seorang istri, tentu sudah menjadi tanggung jawab kita juga ketika pasangan hidup berbelok pada arah yang kurang tepat. Semua sudah terjadi. Jika kamu mampu memaafkannya, maka peluklah suamimu, karena dia sedang rapuh dalam gelapnya lorong, maka datanglah dengan sinarmu, sekalipun sinar itu meredup, pertahankalan agar tetap menyala. Tetaplah menjadi wanita yang tegar, sahabatku. Allah Swt tentu memiliki alasan dengan semua ini.

Aku, bukan pula tanpa cerita, namun aku meyakini, Allah Swt sebaik-baiknya penolongku, Akan kurangkai cerita kehidupanku dalam sebuah lembaran hati yang bernama doa, cinta dan syukur. Aku ikhlaskan apa yang menjadi kehendakNya.

============

Sahabatku,
Semua catatan kehidupan ini akan menjadi pembelajaran untukku dan bekal nantinya akan sebuah misteri kehidupan yang belum terungkap. Dan semoga saja tulisan ini bisa menjadi pembelajaran untuk teman-teman lainnya, yang mungkin sedang mengalami hal serupa. Maafkan jika aku membaginya pada yang lain, tapi percayalah, aku tak akan mengatakan siapa sahabat-sahabatku di balik cerita-cerita ini.

Meyakini bahwa kita tidak sendiri, adalah salah satu langkah agar kita tidak terlalu terbebani dengan apa yang sedang kita alami. Dunia ini hanyalah persinggahan, maka setiap proses yang kita lewati pun hanyalah sementara saja. Untuk itu, tetaplah berbaik sangka pada Allah Swt, agar kita senantiasa merasa tenang, ikhlas, sabar dan tawadhu.

25 comments:

Dwi Wahyudi said...

Bersyukurlah kita hanya berperan sebagai pendengar disini, bukan orang yang mengalaminya sendiri. Dan segala sesuatu yang terjadi di dunia ini bersifat sebab akibat sehingga tetap ada pembelajaran dibalik sebuah peristiwa. Salam persahabatan dari Borneo... :-)

Wijaya Kusumah said...

Kita semua memang sebagai pengembara, dan semoga pengembaraan itu berbuah surga bila kita terus menerus melakukan kebaikan dan kebajikan

salam
Omjay

Nchie Hanie said...

duh ceritanya bikin melow deh Mak..
Semoga sahabat Mak mira selalu dalam perlindunganNya dan semoga keberkahan selalu menyertai sahabatnya..
Tetep semangat, salam buat beliau..

BAgaimanapun, kita tidak dapat menolah rencana yang telah di gariskan OlehNya ya MAk..
Yuk ahh mari sama2 kita mendoakan..

RZ Hakim said...

Syahdu, saya menikmati setiap hurufnya.

Karryna said...

Garis kehidupan siapa yang tau ya Mak. Timakasih atas postingan inj Mak, mengingatkan saya untuk slalu bersyukur dn berbaik sangka padaNya..

Rahmi Aziza said...

tiap orang dengan permasalahannya masing2 ya mak... smoga mereka yang sedang dicoba selalu tabah, dan punya kekuatan untuk bangkit...

meutia rahmah said...

semua yg terjadi pasti ada hikmahnya, smoga ini menjadi pelajaran bagi kita juga..itulah hidup dengan episode yg tak pernah bisa kita tebak...tetap smngat mak :)

ke2nai said...

semoga apapun skenarionya kita bs tetap ingat kepada Nya ya mak..

Niken Kusumowardhani said...

Segala sesuatu terjadi untuk sebuah alasan... Dan itu pasti. Karena di semua peristiwa ada hikmah yang bisa diambil. Mungkin bkn sesuatu yang kita suka, tapi pasti itu yg terbaik utk kita. Karena Allah tak pernah salah memilihkan peran.

Semangat mbak Mira...salam persahabatan.

eksak said...

setuju.... :)

Ririe Khayan said...

Kisah 'kepergian' seorang sahabat akan tetap mengaduk rasa dihati..

TTermasuk juga manakala mendpati kenyataan biduk RT tangga seorang teman yg berada di ambang kehancuran. Tersentak dan kaget, demikian juga yg saya rasakan manakala saya mendengar berita perceraian seorang teman krja yg selama ini 'tampak' demikian serasi dan harmonis. Sang suami yg family men, trnyta tdk spt yg saya lihat..

Dan akhirnya saya kembali pd kalimat: everything happen for [right] reason.

Dan belum lama ini, kalimat tsb juga saya ucapkan pd seseorang..bhwa stiap kejadian pasti ada alasan dan tujuannya..

#semoga bukunya bisa segera terwujud ya Mbak:)

penho said...

hadir lagi mbak Mira.
menakutkan dan memang banyak kejadian2 seperti ini dalam menjalani kehidupan ini. namun bagi saya pribadi memiliki prinsip bahwa melakukan sesuatu yg salah tak akan pernah memberikan manfaat/keuntungan bagi siapapun walaupun mungkin ada alasan dibalik semua itu.
saling berkomunikasi, itulah yg paling penting dan sangat prinsip.
kira2 begitu aza deh komentarnya

alaika abdullah said...

Wow... Ujung pena sahabatku yang satu ini semakin terasah. Pemilihan kata dan rangkaian kalimatnya semakin indah bermakna....
Menguntai syahdu, lembut mengalun mengajak hati pembaca untuk larut dalam kisah yang dituturkan....

Setiap kita memang punya komposisi warna kehidupan yang berbeda-beda ya Mir... Ada yang warna cerahnya dominan, ada pula yang warna kelabunya yang terlihat jelas. Ada pula yang seimbang namun banyak pula yang labil....

Hidup ini memang penuh dengan cobaan, ujian, penghargaan dan anugerah. Silih berganti datang menghampiri sesuai dengan waktu yang telah digariskan.

Beruntung sekali sahabat-2 Mira memiliki teman sebaik Mira, yang senantiasa berusaha untuk mendukung dan mencoba menenteramkan hati mereka yang resah....

Bener Mir, that's friend for....

Olivia Kamal said...

iya, mesti bersyukur meskipun si misua bawel.

Lusi said...

Tiap pintu rumah punya kisahnya masing-masing mak. Tak akan tampak dari luar jika si pemilik rumah tak membukanya. Kadang kita sendiri bingung ketika mereka mempersilahkan kita masuk dan menanyakan apa yg sebaiknya mereka lakukan pd rumah itu, yg kondisinya tak jarang membuat kita sendiri takjub bgmn mrk bisa bertahan. Aku aja yg udah tua masih selalu takjub dg urusan orang dewasa seperti itu. Tak terbayangkan dulu.

kakaakin said...

Ada yang mengatakan bahwa belajar dari pengalaman orang lain itu penting bagi hidup kita. Karena tak perlu kita sendiri yang mengalamai luka dan duka itu...

Pakde Cholik said...

Ada Allah Swt yang senantiasa berada di dekat kita, asal kita selalu berupaya untuk mendekati-NYA.

Selain itu kita memiliki saudara dan sahabat dan juga tamu-tamu istimewa yang hadir secara bergantian dalam hidup dan kehidupan kita.

Sudah sering saya sebutkan, tamu istimewa itu bernama Kesedihan dan Kegembiraan. Datang tak diundang, pergi tak diantar.

Jika tamu VIP yang datang bernama Kesedihan mari kita sambut dengan sebaik-baiknya dengan mendudukkannya pada kursi istimewa bermerk SABAR.

Jika tamu istimewa yang datang itu bernama Kegembiraan mari kita sambut pula secara istimewa dengan mendudukkannya di kursi terbaik bermerk SYUKUR.

Dengan sabar dan syukur maka hidup kita tak akan terombang-ambing. Jika kita sabar ketika sedih maka kita tak akan menangis meraung-raung, menampar pipi,menjambak rambut atau mencakar-cakar wajah kita. Kita juga tak akan mencari kambing hitam dengan menyalahkan orang lain atau menjadikan Tuhan sebagai tersangka.

Sebaliknya, ketika kita sedang gembira kita juga tak akan lupa diri, tak joged di lantai dansa, mabuk-mabukan, nyabu, maksiat, berjalan mundur berkilo-kilo meter atau membuang-buang uang seenaknya.

Sabar dan syukur adalah sikap orang beriman.

Sabar dan syukur mudah diucapkan tetapi juga bukan hal mustahil untuk kita lakukan.

Salam hangat dari Surabaya

Mayya said...

Mudah2an semuanya bisa menjalani dengan tabah ya mbak! *hug*

rina said...

inilah salah satu alasan kenapa aku suka ngeblog, selalu mendapat inspirasi dari teman2 blog yang wawasan berpikirnya jauh kedepan... selalu memandang setiap masalah adalah taburan makna....

Rika Willy said...

pagi-pagi baca ini..

semoga teman mb Mira kuat...

speechless. menunjuk diri sendiri untuk selalu mendoakan suami, menjaga suami.

@yankmira | Mira Sahid said...

@Dwi WahyudiTerima kasih mas Dwi, selalu bersyukur tasa segala sesuatunya

@Wijaya Kusumah : Amiin, makasih banyak Om Jay

@Nchie Hanie : Amin, itupun doa yang kupanjatkan untuk mereka, mak.

@RZ Hakim : uhhuk, terima kasih yaa :)

@Meutia Rahmah : Yes, semangat juga meutia.

@Ke2nai : Amin, makasih supportnya mak Chie

@Niken : right, mak. terima kasih ya

@Ririe : Aamiin, makasih ya Rie

@Makasih sudah jadi pembaca setiaku, Bung Penho :)Yes, semangat

@Alaika : uhhuk, blushing nih mak. makaish yaa. Amin, semoga bisa tetap tawadhu

@Olivia : wkwkwk, ini curcol mak? gpp, biar rame terus kan kalau bawel :)

Lusi : wah, jangan bilang dah tua donk, mak. hihihi. Insya Allah semakin matang dalam menjalani kehidupan ya

@Kakaakin :Betul mak, dan aku belajar dari mereka

@Pakde Cholik : Aamiin, terima kasih atas sharing yang luarbiasa dari pakde, makasih ya Pakde

@Mayya : Ammin, makasih ya mak. hug balik

@Rina : betul, begitu pun aku, selalu terinspirasi dari tulisan teman-teman semua, thanks dah mampir ya, mak

@Rika Willy : Amiin, makasih ya Rika. Aku mengaminkan doa untuk suamimu juga :)

Majalah Masjid Kita said...

hingga daun yang terjatuh dari pohonpun tak lepas dari perhitungan-Nya.. saya suka postingan ini ;)

Pink said...

siip mba mira...
kita saling menguatkan ya mba walo di dumay

Mugniar said...

Setuju dengan:
Meyakini bahwa kita tidak sendiri, adalah salah satu langkah agar kita tidak terlalu terbebani dengan apa yang sedang kita alami.

Kita bisa menjadi lebih kuat begitu menyadari banyaknya orang yang senasib atau lebih menderita dari kita.

Nice note mbak

Obat Penyakit Maag Kronis Tradisional said...

semua ya;ng terjadi biarlah terjadi semua yang terjadi pasti ada hikmahnya