November 28, 2012

Cinta dalam Sepotong Roti (fiksi)

Siang itu Aku merasakan sesak di dada. Nafasku tersengal-sengal tak beraturan. Sekalipun aku berusaha menjaga ritmenya tetap teratur, nyatanya nafas itu kian lama kian menyesakkan. Dengan kerutan alis yang sangat dalam, serta menengadahkan tatapan ke atas, aku merasa tak sanggup lagi. Akhirnya butiran air mata itu menetes di pipiku dengan deras. 

Dalam tangisanku ini, aku mencoba  tetap tersenyum seraya membayangkan setiap kejadian indah yang telah kulewati bersama seorang lelaki yang kini telah menjadi suamiku. Aku sangat ingat perjumpaan pertama yang begitu indah. Bahkan ketika menjelang hari pernikahan, aku begitu menikmatinya. Aku hanya memikirkan bahwa suamiku adalah orang yang sangat sempurna dalam kehidupanku. Kelembutan dan cara berpikirnya yang dewasa, mampu membawaku pada sebuah kehidupan baru yang bernama rumah tangga. 

Namun, tak perlu waktu lama untuk menyadarkanku dalam lamunan indah itu. Aku segera mengusap air mata yang masih menetes di pipiku. Aku berangsur mengembalikan nafasku lagi secara teratur. Hingga akhirnya aku bisa kembali berpikir dengan jernih.

"Apa yang tetap kupertahankan?"
"Mengapa aku harus pusing dengan urusan seperti ini?" tanyaku dalam hati.

Seketika bayangan indah yang sempat terbersit dalam pikiranku berubah menjadi pikiran yang tak beraturan. Aku ingin menjerit dan berteriak pada dunia, bahwa aku adalah wanita yang tegar. Tapi, semakin aku menguatkan diriku pada hal itu, aku semakin merasa terpuruk. Aku kembali teringat pada sebuah kisah yang telah menyayat hatiku begitu dalam. Sungguh, apalagi yang bisa kupercayakan dengan semua ini? Kau telah mengkhianatiku.

Selama ini akulah wanita yang selalu mengagungkan cinta. Aku menempatkan cinta pada titik teratas dalam kehidupanku. Karena akupun meyakini dan percaya, bahwa dengan cinta segalanya akan lebih indah. Sayangnya, cinta yang kuagungkan telah terserak bahkan kehilangan partikel-partikel yang menjadi kekuatan akan cinta tersebut. Cinta yang kuagungkan telah berkhianat. Dia telah merobohkan dinding kepercayaanku dengan melanggar janji yang pernah terucap. Bukan hanya sekali saja hati ini terluka. Aku bahkan hampir lupa dengan yang namanya luka. Kemanakah jiwaku pergi saat ini?

Aku merasa sendiri dalam keramaian. Namun aku cukup bisa menopang dan berdiri dengan kakiku sekalipun harus tegopoh-gopoh. Aku hanya perlu meyakinkan itu untuk membuktikan bahwa aku bisa tanpamu. Aku yang mengagungkan cinta, kini hampir lupa dengan makna cinta yang sesungguhnya. Aku tak yakin apakah dalam diriku masih memiliki cinta yang dapat kuberikan padamu? Tahukah kamu, bahwa hati ini selalu menjerit setiap malam?

Hatiku kosong... mungkin itu yang kurasakan saat ini. Adanya dirimu di sampingku seperti tak bernyawa. Aku memintamu untuk membahagiakanku, bukan karena aku menjadi manja. Tapi inilah yang harus kamu bayar atas setiap luka yang kau tanam. Seandainya aku sanggup melakukannya padamu. Aku akan menjadi sangat liar tanpa peduli dengan hatimu agar kaupun merasakan hal seperti yang aku rasakan. Tapi, adlikah itu? 

Sempat kuberniat, ingin kumencoba kesenanganku dan kutuntaskan saja kesenangan yang kucoba palingkan dari dirimu. Aku akan merasa puas dan senang akan semua itu. Namun aku berpikir, kesenangan yang akan kubuat hanyalah sementara, aku bisa apa dengan semua itu? Karena nyatanya kusadari, aku masih menyayangimu dengan segenap hatiku, meski dalam keadaan terluka. Ya, rasa sayang yang membuatku bertahan.

Kini, aku hanya duduk terdiam di sudut cafe ini, menikmati sepotong roti yang begitu lembut dan menyentuh setiap rasaku, persis sama ketika aku merasakan cinta pertama kalinya. Lembut dan menenangkan. Ah, setidaknya saat ini aku bisa lupa dengan lukaku, karena aku dapat menikmati cintaku dalam sepotong roti. ini. 

14 comments:

alaika abdullah said...

Membaca kalimat-kalimatnya, walau tidak ditempatkan di blog ini, aku bisa menebak ini pasti tulisanmu Mir. Mira bangetnya masih terasa... Hey, ini bisa jadi ciri khas lho...

Hm... ceritanya bagus, tapi kalo menurutku sih, lebih terkesan seperti coretan di dalam selembar diary, kala seorang wanita menuangkan isi dan kepedihan hatinya....

Fiksi ini akan kerasa hidup jika di dalamnya kamu imbuhi intrik-intrik atau adegan/dialog dengan seseorang Mir.... menurutku sih.

anyway, congrats, a fiction by Mira released! :) Keep going on yaaa.... pasti akan semakin lancer...


@yankmira | Mira Sahid said...

@Alaika : Mak, sesuai yang kuduga juga, dirimu pasti akan komen seperti itu. iya yaa, bahsaku mudah ditebak. Dan aku menyadari ini masih seperti cerita curhatan. Tapi tipsnya oke mak. Tadinya aku mau menambaahkan dialog, tapi malah bikin aku kabur pada ceritanya. Sip, terus mencoba mba. thanks ya

Rina S Esaputra said...

Sepakat dgn mba alaika akan lbh hidup dgn adanya dialog jd tdk trkesan curhat hehehe btw keep writing mbs mira

IrmaSenja said...

Ini fiksi atau curahan hatimu mba ? :D

Aku jg sedang belajar menulis fiksi, dan menyimak jg komentr2 diatas...ikut jd pembelajaran.

hhemm...nikmati roti hangatmu mba, jgn terlalu kenyang. sesuatu yg terlalu mengenyangkan kdg membuat kita enggan untuk menyentuhnya lg kan? atau...itu lbh baik ;)

sisihidupku said...

Ya, ada masanya kita dipaksa untuk meninggalkan cinta indah yg pernah digenggam.
Ternyata hidup harus tetap berlanjut walau cinta hanya ditemukan dalam sepotong roti...
Salam persahabatan.

@yankmira | Mira Sahid said...

@Rina : Ok siap, mak. Akan segera ditambahkan untuk next story. Thank u ya

@Irma Senja : hahaha, irmaa... aku lagi ga bisa mencurahkan apa2 tentang hatiku. makanya ngayal deh bikin fiksi2an. eh tapi masih kaya curhatan aja yak

@Sisihidupku : betul... enjoy our life. terima kasih ya sudah berkunjung

Niken Kusumowardhani said...

Walau seperti curhatan, tapi indah kok dalam penuturannya.
Saya juga harus berpeluh keringat kalau buat fiksi... makanya membaca fiksi mbak Mira ini rasanya sudah takjub.
Ikutan dong makan rotinya... sambil nyruput kopi khan... hehehe...

@yankmira | Mira Sahid said...

@Niken : wah Bunda ini bisa aja deh. eniwey makasih ya bun, aku makin termotivasi nih. nanti aku bawakan potongan Roti nya kalau ketemu yah xixixi

Winda said...

mak mira,
keliatan banget kalau sebenernya otot menulismu itu sudah lentur alias sudah terbiasa menulis....pilihan katanya jg udah khas mak mira. Itu udah poin plus lho, karena banyak penulis yg masih kaku di area itu...
Utk ceritanya sendiri, kalau ingin cerita lebih kuat sebaiknya ada sebuah konflik yg solid, bukan hanya tergambar dari 'keluhan' si aku. Sebaiknya ada sebuah kejadian yg menjadi klimaks dari cerita tsb supaya terasa ada gregetnya, krn seperti kata mbak alaika, dhn tidak adanya sebuah atau bbrp intrik/konflik, ini jd terasa seperti sebuah coretan di diary saja ketimbang sebuah cerita. Ini dinamakan plotting atau menyusun kejadian sesuai dgn intensitasnya...begituuu...
Maju terus maaaak...^^

Nunik said...

Yuhuuuuu bahasa fiksinya udah terasa. Betul kata komentar-komentar sebelumnya, hidupkan lagi dengan dialog. Misalnya pramusajinya nyapa atau ada orang lain yang nyapa. Nah, orang lain itu bisa dibikin sebagai pengingat aku pada cewek selingkuhan suami, misalnya. Kalau yang ini ceritanya masih non fiksi berbentuk curhat. Trus bikin ada konflik, dari awal sampe akhir. Ceritakan selingkuhnya bagaimana. Kasih juga adegan-adegan misalnya si aku menyeruput kopi, si pramusaji datang menawarkan makanan (pokoknya yang menggambarkan suasana), biar lebih hidup. Ayoooo lanjuutt, Maakkk ^_^

Lidya - Mama Cal-Vin said...

kaya bukan curhatan kok mir

Orin said...

aku malah kepikiran endingnya dibikin twist Mir, jadi si aku sebetulnya emang beneran lg nulis (entah di buku atw di laptop) gitu, jd diakhir dg menutup buku/laptop untuk kembali 'hidup' dg menikmati si sepotong roti itu.

*haiyah...punten ah komenna teu pararuguh hihihihi*

myra anastasia said...

pakar2 fiksi pada komen disini nih.. sy jd ikutan belajar ah dr komen2nya sekaligus menikmati fiksinya :)

obat herbal darah tinggi said...

luar biasa isi tulisanya mbak