December 28, 2012

Cerita awal Perjalanan Akhir Tahun

Ini bukan tentang "galau", ini bukan tentang "gelisah", apalagi "kesedihan". Ini adalah tentang bertahan dalam rasa sepi demi sebuah perjalanan yang cukup jauh. Bagaimana tidak, malam ini saya hanya sendiri ditemani segelintir orang di tempat yang seharusnya penuh dengan orang-orang. Tak bisa disalahkan, ketika orang-orang lebih memilih penerbangan siang hari, saya malah memilih penerbangan malam menuju dini hari hingga pagi. 

Saat ini di depan saya ada satu keluarga (suami, istri dan 2 anak laki-laki). Mereka nampak menikmati kebersamaan mereka dengan menyantap makanan siap saji yang menjadi kesukaanku juga. Dan taukah?, saya cukup menelan ludah melihatnya, secara kalau harus keluar lagi, jauh bo. Baiklah. Menoleh ke sisi kiri, ada seorang bapak berusia sekitar 40an sedang serius menonton berita , dan tepat di depannya, seorang lelaki berusia 30an nampak tertidur pulas berbantalkan "travel bag" nya. Tepat di belakangku, ada seorang pria berusia sekitar 30 menjelang 40an sedang asik dengan "handphone" nya, dan saya sendiri, akhirnya membuka sahabat yang setia menemani kemanapun saya pergi. 

Sepi, hanya ada aku dan bayanganku di sini.
Sementara saya coba menghubungi suami melalui 'handphone' nya, tak jua mendapatkan jawaban. Setelah beberapa jam lalu sempat 'bbm' dengan sahabatku, Irma, juga dengan putri cantik saya, Vinka. Ternyata, waktunya habis juga, saya kembali sendiri malam ini. 

Beberapa kali buka notifikasi facebook, tak lantas membuat saya puas, bingung mau pasang status apa, mau nge tweet pun, seperti tak ada ide untuk bahan pembicaraan. Begini ya, rasanya sepi di tengah ramainya kehidupan. Ketika kita jauh dari orang-orang terkasih kita, hanya kita sendiri, maka tidak bisa dipungkiri, sepi itu melanda. Tapi suer, saya ga galau, hanya merasakan kangen aja. Kangen sama anak-anak tercinta, padahal belum ada 1 x 24 jam saya berpisah dari mereka. 

Ya sudah, kali ini ga ada cerita yang spesial dari blog ini, tak ada yang menginspirasi juga. Semoga waktu cepat berlalu hingga akhirnya saya bisa menaiki pesawat yang akan mengantarkan saya ke Sorong - Papua.

Bandara 26 Desember 2012
Pukul 21.30 wib

**********************

Seharusnya postingan di atas terbit pada hari rabu lalu, tapi karena kendala internet di bandara, lalu tiba di Sorong dengan koneksi super lemot juga, akhirnya baru bisa sekarang ter publish.

Malam ini, saya masih di tempat kakak ipar saya di daerah Rufei, Sorong. Sejak tiba di sini kamis pagi lalu, saya tidak banyak beraktifitas. Merasakan cuaca Sorong yang panas, membuat saya betah berlama-lama di kamar ini, kamar kakak ipar yang begitu nyaman dengan AC nya.

Tadi siang saya sempat ke KFC Saga untuk bersilaturahmi dengan kawan baru. Kebetulan mereka adalah team dari bisnis Oriflame saya di kedalaman grup Irien. Senang rasanya, setiba di sini saya memiliki kawan-kawan baru yang menyambut dengan ramah, sayangnya saya belum sempat menanyakan pada kawan-kawan KEB, adakah diantara mereka yang berdomisili di sini?

Tim Sorong, kika : Mba Indah, saya, Mba Merry dan Bu Lusiana
Saat ini, saya masih menunggu kedatangan suami dari Jayapura yang tiba besok pagi, sekaligus besok Insya Allah kami berangkat ke Raja Ampat bersama kaka ipar (suami-istri), teman kantor suami (mba Eva dan mas Agus) serta Michelle (putri dari kaka iparku). Insya Allah, semoga perjalanan kami esok hari lancar menuju tempat dengan sejuta keindahan di dalamnya. Nantikan upate selanjutnya yak. Mungkin taun depan, karena kemungkinan di Raja Ampat akan sulit mendapatkan sinyal. Baru sepulang ke Jakarta saya coba update blognya. Happy holiday ya teman-teman, semoga kita semua bisa menutup tahun 2012 dengan cantik, indah serta penuh kemenangan.     

December 17, 2012

Ketika "Malas" menjadi Temanmu

Males..., males?, *males, MALES!
Pernah merasakan suasana seperti itu? Bo'ong banget kalau diantara kita ga pernah ngerasain zona yang bernama "malas". Sepertinya hidup ga akan penuh warna jika kita tidak berkenalan dengan si malas. 

Kita sudah hampir sampai pada penghujung tahun 2012, dan nyatanya sebagian dari kita masih selalu bertanya, "mengapa kita belom merasakan perubahan?", "mengapa ko hidup ya gini gini aja ya?". "Pengen deh punya ini itu, pengen deh hidupnya lebih baik", daaan segudang kepengen lainnya yang memenuhi list notes kita. Sayangnya keinginan itu akhirnya mentok dalam sebuah catatan kecil saja, yang lebih parah menguap dan kita ga tau apa-apa saja target yang sudah kita capai di tahun ini. "Parah?" jawab aja sendiri deh.

Manusia dengan segala kehidupan sosialnya, tentu akan menemui suatu titik yang membuat kita malas melakukan apapun. Sekalipun kita termotivasi oleh sesuatu, perbandingannya 1 : 10 antara orang yang mau angkat Pan*at untuk melakukan perubahan dengan orang yang hanya "MAU' saja. Gemes juga ya kalau ada temen atau siapapun yang kita kenal, seolah mimpinya cetar membahana dengan segala keinginannya, nyatanya ketika dihadapkan pada sebuah langkah, hasilnya? NATO (No Action Talk Only). Berasa ketampar? Gak apa-apa, tulisan ini saya buat untuk mengingatkan diri juga ko. Sekalian nampar "seseorang", hihihi, *piss

Saya mengakui, kegiatan saya dengan status Ibu rumah tangga yang menjalankan bisnis networking, belum lagi kegiatan blogging dan lainnya, kerap kali membawa saya pada zona tersebut. "Tapi keren ya, Mira. kayanya kegiatannya di mana-mana, hampir tiap hari jalan, semangat terus deh. Rahasianya apa?". Nih saya kasih tau ya, "Jangan dikira saya ga pernah merasa males juga". Hanya saja, bedanya mungkin saya ga mau "si malas" itu terus menerus menggelayuti diri saya. Rugi amat kalau saya membiarkan perasaan itu menguasai saya. Sementara orang telah berubah, maju 1 langkah dengan prestasinya masing-masing, sementara kita masih ga tau apa yang harus dilakukan. "Parah, kan?" *lemparkompor

Ada satu titik ketika saya menemui rasa malas, dan ga tanggung-tanggung saya langsung tampar diri saya melalui twitter yang kebetulan saat itu (*mungkin) beberapa dari teman sedang mengalaminya. Akhirnya saya ngomel aja tuh di twitter, tujuannya sih buat nampar diri sendiri, dan ternyata itu berhasil bo. Silakan baca TL saya deh ya. Bacanya dari bawah ke atas :)


Tamparan diri melalui #TweetSelf
"Trus, mesti gimana dong ya supaya si malas ga dateng-dateng lagi?" Sebenernya jawabannya sih ada di diri masing-masing yaa. Kita tau betul ko apa yang harus kita lakukan, bedanya itu tadi. "Kamu MAU apa engga?". Coba deh itu mulutnya di kontrol sedikit-sedikit. Tanpa sadar kita sering berucap, "Iya aku mau, tapi ko males ya". Nah, akhirnya kata itu tidak lagi terucap hanya sekali, bahkan bisa jadi kata pengantar yang akhirnya selalu kamu ucapkan dalam setiap pembicaraanmu. Mau temen bicara kamu jadi menjauh dan risih gara-gara kamu sering mengucap kata "males?". "Kalau udah gitu, itu kata-kata bakalan masuk ke alam bawah sadar kita dan tertanam layaknya kamu memberi pupuk terus menerus. Kalau bunga dikasih pupuk sih bagus ya, tapi kalau memupuk rasa malas, sepertinya kita cukup pintar untuk tidak melakukannya. "Coba deh, jangan biarkan diri kita tuh berada 1 langkah di belakang". Jika belum sanggup mengambil seribu langkah, kan ga ada salahnya kamu mencoba satu persatu langkahnya. "Ga susah kan?" Engga. Asalkan kita memulai untuk tidak mengatakan "malas" detik ini juga. 

Pembawaan orang memang berbeda-beda, tapi saya yakin dalam diri setiap orang itu punya "sesuatu" yang bisa membantu dirinya untuk selalu bangkit. Tinggal bagaimana ia bisa menemukan "sesuatu" yang ada dalam dirinya itu sebagai amunisi untuk membuatnya semakin terpacu melakukan perubahan setiap saat. Setidaknya, jika kita tidak bisa menjadi yang terbaik, maka jadilah yang berbeda. Caranya? "Stop bilang Males!". Karena untuk sesuatu perubahan itu, kan kita harus berubah dulu, toh? "For things to Change, I Must Change First".

Sahabatku yang Super (ala Mario Teguh)
Pliss... kamu sudah tau sejauh mana kamu bisa melangkah, jangan pernah berhenti sampai di pikiranmu saja, lakukanlah apa yang menurutmu bisa, dan jangan pernah menyangsikan kemampuanmu. Stop bilang males, karena males bukan istrimu, bukan suamimu, males bukan sahabatmu, juga bukan kekasihmu. Ketika  "malas" menjadi temanmu, maka jangan heran jika selamanya kamu hanya akan berteman dengan hal itu. Akhirnya, kamu kembali lagi pada kondisi yang itu-itu lagi. "Trus, kapan mau berubahnya dong?" Inget mimpinya ya, inget maunya apa tuh. Semangat itu jangan cuma diucap dan ditulis aja, tapi dipraktekkan. Karena hanya dengan begitulah, kamu bisa meraih impianmu. Maapkeun kalau aku bawel, tapi ini salah satu bentuk perhatian yang bisa aku kasih sama kamu. Dan begitupun jika hal itu terjadi padaku, kamu boleh ko memperlihatkan telunjukmu untuk selalu mengingatkanku. Sebagai seorang sahabat.... Ada kalanya kita harus bisa saling terbuka. Saling memuji dikala berprestasi, jangan segan untuk memberi kritik dan tunjukkan kesalahan kita masing-masing, bantu membantu disaat menghadapi kesulitan dan hapus air matanya saat bersedih. Dengan begitu, kita semua bisa tertawa bersama di saat bahagia. *Ketjup dan peluk untukmu :)

December 15, 2012

Anugerah Ibu Teladan, Berkarya dan Menginspirasi

"Tribute To Mom" Anugerah Ibu Teladan - NOOR 2012, itulah tema acara yang saya hadiri di hotel Grand Sahid rabu 12 Desember 2012 lalu bersama sahabat saya, Irma Senja. Kali ini saya mendapatkan kesempatan untuk menghadirinya karena diundang oleh mba Ade dari majalah NOOR. Sejak pertama kali dikabari mendapat undangan ini, saya sangat 'excited', bagi saya ini acara yang wajib dikunjungi, dan ga boleh absen. Akhirnya sejak undangan diterima, saya pun mengajak Irma untuk turut menghadirinya. Dan yang lebih membuat senang, ketika sahabat saya itu mendapatkan ijin dari suami tercintanya, *jarang-jarang lho :). Soal persiapan menjelang acara, udah dikupas lengkap sama Irma dalam "Episode Make Up dalam Warna Cinta" di blog nya, monggo dibaca aja di sini. Ehheem, sekedar info, itu make up dan hijab nya karya saya lho *ga nanya :P

Mira - Irma. Narsis dalam perjalanan menuju Grand Sahid (foto -BB)
Tiba di hotel Grand Sahid, saya dan Irma menjadi (*mungkin) peserta yang paling awal hadir. Saat itu saya  tiba dalam kondisi lapar, dan entah kenapa dari sekian restoran dan cafe yang saya lihat di hotel tersebut, kurang menarik perhatian saya. Akhirnya menjelang acara dimulai, saya sukses menahan lapar dan hanya berbekal permen karet sebagai bahan kunyahan *Kasian amat. Gak apa-apa, yang penting masih bisa narsis bentar :P
Foto : Pak Dian Kelana

Foto : Pak Dian Kelana
Memasuki ballroom acara Tribute To Mom, nampak suasana hangat, sayangnya  waktu dimulainya acara terlalu lama, mundur hingga 1,5 jam. Dan jika sudah begitu, biasanya feel acara kurang dapat. Tapi saya pribadi bisa memaklumi, toh dalam setiap acara kita tidak pernah tau kendala apa yang akan menjadi penghambatnya. Hingga akhirnya acara dimulai tepat pukul 16.00 oleh Peggy Melati Sukma dan Daan 'Project pop'. 

Seperti yang kita tau semuanya, bahwa tanggal 22 Desember 2012 diperingati sebagai "Hari Ibu", dan itulah alasan dari majalah NOOR mengadakan acara ini, sebagai bentuk apresiasi terhadap semua Ibu yang berkisar antara usia 25-60 tahun yang telah banyak memberikan kontribusi sosial, memiliki prestasi dan tetap menerapkan prinsip-prinsip keluarga yang baik. Sayangnya saya melewatkan seleksi ini. Jika saja tau sebelumnya, kemungkinan saya juga mau lho ikut audisinya (*sok PD) padahal syaratnya cukup berat. Kategori semua peserta harus muslimah, sudah menikah, berakidah baik, bisa membaca Al Quran, memiliki keluarga harmonis, aktif dalam kegiatan sosial dan berprestasi. Nah yang paling berat itu syarat no 3. Ya, sebagai manusia biasa, saya tau betul apa yang menjadi kekurangan saya. Insya Allah syarat lainnya bisa dipenuhi tuh :D.

Memang, sebagai seorang Ibu yang hidup di jaman sekarang ini, menuntut kita untuk lebih bisa berkontribusi lebih banyak baik secara personal maupun sosial. Sudah saatnya seorang Ibu bisa menjadi inspirasi bagi keluarga dan sekitarnya. Ok, jika sampai saat ini masih ada yang beranggapan "ya, jadi Ibu mah cukup di rumah aja, ngurus anak, ladeni suami, yang penting bahagia" , monggo. Tapi jika melihat semakin berkembangnya era saat ini, tak ada salahnya jika kita mengakui potensi yang kita miliki sebagai seorang perempuan, istri dan ibu. Banyak diantara kita yang masih belum menyadari sepenuhnya bahwa menjadi Ibu itu tak melulu urusan sumur, dapur dan kasur. Namun lebih dari itu, ketika sang ibu membuka sedikit celah dalam dirinya, maka ia akan semakin tau bahwa dirinya bisa menjadi inspirasi bagi yang lain. Tapi tentu itu semua kembali lagi pada pilihan masing-masing yaa. Apapun itu, ketika seorang ibu melakukan segalanya dengan penuh cinta, kasih dan keikhlasan, maka ia selamanya akan menjadi ibu terhebat bagi anak-anak dan keluarganya. "hmmm, jadi inget sama mamaku".

Kembali pada pembahasan acara.
Kali ini pandangan mata saya sangat terpuaskan oleh beberapa penampilan yang disuguhkan di acara Tribute to Mom majalah NOOR ini, saya bisa melihat penampilan langsung dari Opick, penyanyi religius itu lho dan sangat terpesona dengan lagu yang dinyanyikannya, "Dealova". Terus saya juga bisa melihat sosok Ratih Sang dari dekat dan menikmati puisi-puisinya yang menyentuh dan dibacakan langsung oleh beliau. Belum lagi penampilan Puput Melati dengan lagu Ayat-ayat Cinta, dan juga peragaan busana dari disainer kondang saat ini seperti Jenahara by Ida Royani, Ria Miranda, Dian Pelangi dan lain-lain. Sayangnya, saya mati gaya karena kamera andalan sedang rusak dan bb pun stock batrenya menipis. Untungnya ada Pak Dian Kelana turut hadir di tkp, setidaknya saya bisa comot foto-foto narsis saya bersama Irma di sana . Terima kasih pak Dian :).


Suasana haru ketika Ratih Sang membaca puisi bersama putrinya (foto doc pribadi)
Tiba di acara puncak, yaitu pengumuman Anugerah Ibu Teladan - NOOR 2012. Semua peserta yang masuk audisi ada lebih dari 100 orang, kemudian menyusut ke 63 orang hingga terpilihlah 15 finalis. Seneng banget lihat para finalis, apalagi 2 diantaranya yang saya kenal, ada Mak Wylvera Windayana dan Dewi Laily Purnamasari. Ga bisa dipungkiri dong, sekalipun bukan saya yang masuk ke jajaran 15 finalis, rasa tegang itu tetap saya rasakan, berharap sahabat saya di panggung bisa menjadi pemenangnya. 

Tepat menjelang pukul 19.00 akhirnya semua 15 finalis dipanggil ke atas panggung untuk mendengarkan pengumumannya. Dari 15 finalis tersebut, mereka memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Dan subhanallah, saya sangat berdecak kagum ketika disebutkan masing-masing dari mereka dengan segala kegiatan dan kesibukannya. Benar-benar sangat menginspirasi, terlebih lagi ada seorang bunda yang memiliki anak 7 dan berusia di atas 50 tahun tapi masih terlihat cantik, eksis dan smart. 

Akhirnya pengumumanpun resmi diluncurkan, berikut nama-nama yang menjadi juara dalam Anugerah Ibu Teladan NOOR 2012.


Kategori Ibu Inspiratif -  NOOR 2012 : Helvy Tiana Rosa


Ibu Teladan NOOR 2012 adalah
Juara 1 Dwi Smara Dina
Juara 2 Syarifah Masnur
Juara 3 Wylvera Windayana
Juara 4 Yasteti
Juara 5 Mariana S

foto doc pribadi - Bersama Ibu Dwi Smara Dina Juara I
foto doc pribadi - bersama mba Wylvera Windayana juara 3
Senang ketika melihat mereka maju ke depan panggung sebagai juara, termasuk juga ketika teman saya mba Wylvera mendapatkan juara ke 3, saya dan teman-teman 1 meja bersorak sorai mendengarnya. Selamat yaa untuk semua pemenang. Tentu semua peserta finalis dan peserta semuanya telah menjadi juara. Tapi inilah permainan, akan selalu ada yang terbaik dari yang baik. Semoga Ibu-ibu semuanya tetap bisa menginspirasi seluruh Ibu di Indonesia dan menjadi tauladan bagi kita semua. Amiin. Siap bersaing dengan ratusan Ibu-ibu lainnya di Anugerah Ibu Teladan NOOR 2013? Yes, Semangat ya Ibu-ibu :)

Bersama Ratih Sang (foto doc pribadi)
Bersama mba Ade dari majalah NOOR

December 11, 2012

Matahari dan Teratai (Fiksi)

"Aku menjadi penasaran dengan kedua sosok wanita yang kutemui di kedai kopi beberapa waktu yang lalu . Cerita mereka dalam memaknai cinta sungguh berbeda. Karakter mereka pun berbeda jauh. Tapi, apakah yang membuat mereka tetap bertahan dalam sebuah persahabatan?" Tanyaku dalam hati.

Kini, pria dewasa yang sempat menemui kedua wanita di kedai kopi itu nampak ingin tau sekali bagaimana cerita kelanjutannya. Ia pun memilih tempat duduk di sudut terakhir kalinya pada saat melihat sepasang wanita yang sempat mencuri perhatiannya. Dan tepat sekali, wanita dengan dua perbedaan mencolok itu datang kembali ke kedai kopi ini. Nampaknya tempat ini telah menjadi tempat yang begitu nyaman bagi mereka untuk menghabiskan waktu dan berbagi cerita. 

Wanita dengan rambut kecoklatan dan tanpa make up itu membuka pembicaraan. Nadanya selalu lembut, penuh kehangatan. Bahkan sepertinya dia mampu menuntun sahabatnya dalam setiap untaian kata yang ia ucapkan. Tidak heran jika wanita itu bisa memancarkan pesona bagi lawan jenisnya. Dia seperti bunga matahari yang selalu bersinar, sekalipun terlihat misterius, namun nampak selalu bersahaja. 

******
"Ada apa, wajahmu nampak murung?" 
"Apakah kamu sudah menentukan sikapmu pada dia?" tanya wanita dengan kulit putih itu.

Sepertinya wanita yang menjadi sahabatnya itu belum ingin menjawab pertanyaanya. Dia hanya menyalakan sebatang rokok mint dan menghembuskan nafas dalam-dalam. Wanita dengan rambut sebahu dan make up minimalis, nampak sedikit pucat dari pertama kali aku melihatnya. Tapi nyatanya, walau dalam keadaan itu, aku melihat ada rasa optimis yang tinggi dari dirinya, caranya memandang hidup memang berbeda. Sekalipun  ia terus mencoba memperlihatkan ketegaran dirinya, tapi tak bisa dipungkiri, wanita itu adalah sosok intuitif yang saat ini terlihat larut dalam emosinya. "Persis seperti bunga teratai", batinku.

Matahari & Teratai
"Hidup itu memang dinamis ya, setiap saat pasti berubah". Tiba-tiba wanita kedua melontarkan perkataan itu.

"Berubah kenapa?" Tanya wanita pertama.

"Kemarin aku sempat bilang , kan, sama kamu. its just a 'games'. Aku ga mau 'wasting time' memikirkan yang ga menguntungkanku. Bahkan aku ga yakin lagi dengan rasa yang ada di hatiku. Aku lupa dengan rasaku saat ini. Aku kecewa, dan lebih baik aku pergi darinya". Tiba-tiba air mata mulai menggenang di pipinya.

"Try to be brave, my dear", sahut wanita pertama seraya memegang tangan sahabatnya itu. 

Jika aku melihat keduanya bercakap-cakap. Wanita sederhana dengan sosok penuh kehangatan itu nampak selalu menuntunnya. Ia mampu mengontrol dan memainkan irama emosi yang keluar dari sahabatnya itu. Sesekali nampak wajah letih di wajahnya. Entah apa yang ia alami sekarang. Ia seperti kelelahan dan berusaha melawan sesuatu. "Apakah dia sedang sakit?" batinku. Tapi aku tidak khawatir dengannya, kesederhanaannya telah menuntun dia pada sebuah pendirian yang teguh. Walaupun bisa kurasakan, setiap saat dia hanya bisa mencurahkan isi hatinya dalam sebuah catatan yang bernada 'melow'. Dan aku tau persis, pasti sahabatnya pernah merasa gerah dengan sikapnya itu. Terkadang ia ingin menampar wanita sederhana itu dan berkata padanya. 

"Bangun....! cukup dengan semua keresahanmu. Kenapa kamu tidak bangkit dan mulai dengan sesuatu yang bisa kamu maksimalkan. Jika memang adanya begitu, kenapa kamu harus takut? Justru jika kondisimu hanya mengharuskanmu bertahan beberapa waktu lagi, ini tandanya Tuhan menginginkanmu memberikan yang terbaik untuk hidupmu. Bukan mengeluh dan mengeluh terus".

Dramatis memang...
Tapi nyatanya, sahabatnya itu tak sanggup mengucapkannya pada wanita sederhana itu. Ia menyadari, bahwa sahabatnya berhak atas ruang yang ia miliki dengan segala emosi yang ia miliki. Toh selama ini, wanita sederhana itu selalu ada untuknya, dalam segala suasana. Itulah yang selalu menjadi harmoni keduanya. 

Keduanya masih larut dalam perbincangan yang semakin hangat. Sesekali nada bicara mereka naik, lalu redam dan berubah jadi tawa riang. Hingga menjelang akhir perbincangan mereka, wanita dengan rambut sebahu itu kembali menegaskan.

"Aku semakin tau bagaimana dia. Tak ada yang istimewa. Aku bahkan tidak melihat keinginan yang kuat dalam dirinya untuk bisa menyenangkanku. Jika pernah kukatakan, aku sempat menyayanginya, itu betul. Tapi saat ini, rasa itu semakin bias. Bukan karena mauku, tapi karena dia yang telah melakukannya terhadapku. 

"Semudah itukah kamu bisa melupakan dan melepaskannya?"

"Awalnya sulit, tapi ini harus kulakukan, karena aku ingin menata kehidupanku kembali. Walau tak bisa kupungkiri, aku tetap berterima kasih padanya karena dia telah melengkapi kebahagiaanku, mengisi sudut ruang hatiku yang sempat kosong."

"Kenapa kamu bisa dengan mudah melakukan hal itu? Tidakkah kamu melihat dan menghargai sedikit saja perasaanya? setidaknya dia mencintaimu dengan tulus".

"Cukup, aku sudah katakan dan aku tetap pada pendirianku di awal. Hubungan ini tanpa status, jika dia atau aku ingin menyudahinya, ya sudah, 'just do it'. 

"Oke, kalau itu memang pilihanmu. Aku ingin sekali sepertimu, mudah melupakan dan menghapus ingatannya dariku. Tapi ternyata, hingga detik ini,  aku masih dengan rasa yang sama untuknya". Wanita sederhana itu tiba-tiba meneteskan airmatanya.

"Hey..." wanita dengan rambut sebahu tiba-tiba menggengam tangan sahabatnya itu

"Aku dan kamu saat ini sama-sama memiliki cinta. Aku dengan caraku memaknai cinta, dan kamu dengan caramu. Aku hanya berpikir realistis, bahwa cinta yang kupertahankan ini akan tetap semu hingga kapanpun, dan kamu tau itu. Untuk itu, aku juga harus menguatkan diriku agar segera mengakhirinya, walau nyatanya hatiku berat sekali. Dan aku juga sebenarnya iri sama kamu, kamu dengan caramu memaknai cinta begitu tulus. Kamu menempatkan rasa cintamu masih dalam tahta tertinggi di hatimu. Kamu luarbiasa, 'my dear'. Dinding di hadapan kita terlalu tinggi untuk kita hancurkan demi cinta semu ini. 'Plis', sadarilah itu. Aku juga ga mau liat kamu terus-terusan tersiksa begini. Biarkanlah lelakiku dan lelakimu kembali pada cintanya, karena kita pun memiliki cinta yang harus kita jaga."

Nyatanya, hingga saat ini wanita sederhana itu tak jua mampu melupakan sosok pria yang pernah singgah di hatinya. Yang membuatnya masih merasakan luka itu, adalah kenyataan pahit bahwa lelaki yang sempat mendekatinya, dengan mudah meninggalkannya, tanpa ia coba untuk mengerti perasaannya. Jika aku melihat permasalahan kedua wanita itu, sosok wanita dengan rambut sebahu dan kulit eksotis itu berada dalam posisi dengan mudahnya melupakan pujaan hatinya. Sementara wanita sederhana ini, sangat sulit melupakan pujaan hatinya, bahkan telah melewati waktu 2 tahun lamanya. Siapakah yang dapat kukatakan diantara mereka yang memiliki rasa cinta? "masih kontras", gumamku.

*********
Sepertinya aku mulai mengerti sekarang. Kedua wanita itu memang sangat berbeda jauh. Wanita manis dengan penampilannya yang selalu fashionable, telah banyak melalui segala perjalanan hidup yang membuatnya punya cara pandang tersendiri akan sebuah kehidupan. Hampir tak pernah ada rasa putus asa dalam dirinya, karena dia selalu meyakini kemampuan dirinya dengan rasa optimis yang besar. Sayangnya, ia pun memeiliki rasa sensitif yang cukup tinggi. Ketika hatinya tersentuh baik dengan rasa sakit ataupun senang, ia akan sangat menikmati itu. Dan yang membuatku bingung kali ini, bagaimana ia dengan mudahnya berkata bahwa ia bisa melupakan seorang pria yang mencintainya? Mengapa ia tidak mencoba menikmatinya? Ah, mungkinkah ada dinding yang sangat tinggi yang mengharuskan dia berbuat seperti itu?

Sementara wanita cantik dengan gaya sederhana itu, seolah masih mencari arti kehidupan menurut cara pandanganya. Baginya hidup itu tentang bagaimana ia menerima semua hal yang telah Tuhan berikan padanya. Ia tidak terlalu ingin memiliki apapun yang berlebihan, karena bahagia menurutnya adalah kesederhanaan. Ketika hatinya mulai tersentuh oleh rasa yang tidak biasa, justru dari situlah babak baru dalam kehidupannya dimulai. Ia semakin larut dalam rasanya, sehingga ia sendiri tidak menyadari bahwa dalam dirinya ada sebuah pemberontakan. Pemberontakan akan sebuah keinginan untuk menuntut sesuatu yang tidak bisa ia dapatkan. "Bagaimana ia mampu melewatinya?" tanyaku dalam hati.

Pembicaraan kedua wanita itu semakin hangat di tengah riuhnya suara orang-orang berjalan di sebuah mall besar di kawasan Jakarta. Sementara aku, seorang pria dewasa yang hanya bisa mengagumi sosok mereka dengan segala keunikannya. Jika boleh aku mengatakan pada mereka, ingin rasanya aku memiliki mereka, bukan keduanya, tapi setidaknya cinta tulus yang pernah kuberikan pada seorang wanita dengan kondisi penerimaan berbeda dari keduanya, semakin membuatku yakin, bahwa aku tak pernah menyesal pernah mencintai dia dan menghadirkan sosoknya dalam hatiku. Kisah yang pernah aku lewati bersamanya, akan menjadi sebuah catatan indah sepanjanng perjalanan hidupku, meski ku tau, dia tak pernah tau isi hatiku.

"Terima kasih Matahari dan Teratai, kalian memberikanku pelajaran hidup tentang bagaimana memaknai cinta dengan cara kita masing-masing. Apapun bentuk cinta yang kita rasakan sekarang, aku tak akan pernah menyesali cinta yang pernah hadir dalam kehidupanku. Sama seperti kalian. Semoga kalian bisa segera menata cinta kalian kembali, akupun demikian". 

Kali ini, bukan lagi kedua wanita itu yang lebih dulu beranjak dari kedai kopi ini, tapi pria dewasa yang sejak tadi telah memperhatikan keduanya. Ia berjalan dengan langkah percaya diri, seraya meninggalkan setangkai bunga matahari dan teratai di meja terakhir kali dia duduk. 

December 09, 2012

Ketika Kekonyolan itu Datang

"Iya, nak. Besok mama ga ajak kalian pergi ya. Kebetulan nenek dan kakek sudah ada di rumah uwa di Bekasi, jadi besok pagi mama anter kalian ke sana".

Walau dengan berat hati tidak mengajak anak-anak, kali ini terpaksa dilakukan, karena saya harus bisa membuat mereka tidak kelelahan dengan mengikuti kegiatan saya terus menerus. Hal ini terjadi minggu lalu, ketika saya mengikuti sebuah acara 2 hari berturut-turut. Sabtu, 1 Desember untuk acara Asean Blogger  Peduli dan tanggal 2 Desember acara Blogger Bicara Fashion - BlogDetik. (Sekaligus tulisan ini sebagai utang yang harus dipenuhi)

Jumat siang tanggal 30 November saya dan anak-anak berangkat menuju Jakarta dengan cuaca yang kurang baik. Awan gelap serta tiupan angin yang tidak biasa sempat membuat saya ragu untuk melangkah. Tapi ya sudah, bismillah aja deh ya. Akhirnya setelah selesai waktu sholat jumat saya berangkat dengan anak-anak. Tidak bisa dihindari, memasuki toll Jorr, hujan dan awan yang pekat turun begitu derasnya, bahkan jarak pandangan dengan mobil depan pun sangat kabur, akhirnya saya memasang "wiper" dengan kecepatan tinggi. Jadi dipastikan jalanan pun agak terhambat, sampai-sampai sempet narsis dulu bareng anak-anak di mobil. Dan Alhamdulillah memasuki tol dalam kota, cuaca masih terang bahkan jalanan kering. 

Saya dan anak-anak (foto : doc pribadi)
Sejak malam sebelum berangkat, firasat saya tentang cuaca yang kurang baik memang benar adanya, dan mengingat hari itu hari jumat, saya pun sudah mempersiapkan bekal koper dengan segala keperluan di dalamnya, termasuk baju. "lho, emang mau kemana?" ya engga kemana-mana, sik. Tapi karena jumat sore itu ada gladi resik acara Asean Blogger, dimana saya mengharuskan diri saya datang, maka saya pun ga mau ambil resiko berat ketika pulang nanti menghadapi kepadatan jalanan Jakarta dan kondisi saya yang tidak fit. Saya menghindari kejadian beberapa waktu terulang lagi (baca di sini). Akhirnya, tepat pukul 16.30 saya sudah memasuki hotel di wilayah Jakarta Pusat. "wuiih, banyak duit yaak pake buka kamar segala?" :))). Bukaan, ini karena pertimbangan aku bawa anak-anak. Sementara sabtu acaranya dimulai pagi hari. Lagian, untuk anak-anak ngapain sik pake mikir-mikir, kitanya juga nyaman. *Padahal tabungan jebol :P.

Sebenernya, setiba di hotel, rasa malas untuk ikut gladi resik Asean Blogger sempat datang. Melihat antrian dari arah Sarinah menuju Semanggi bikin saya ciut. Sementara di kamar hotel sudah menawarkan kasur empuk dengan sprei putih yang bisa saja langsung saya nikmati bersama anak-anak. Tapi kembali lagi pada soal tanggung jawab. Akhirnya tepat pukul 17.00 saya megangkat badan saya dan kembali lagi mengendarai jessi menuju kawasan Senayan bersama anak-anak.

Tepat seperti yang saya duga, perjalanan dari Sarinah menuju Pusdiklat Menlu yang terletak bersebrangan dengan Senayan City itu ditempuh dengan waktu 2 jam. Boo... kalau ditanya soal emosi jiwa? Banget, "saya emosi". Udah badan capek, kaki pegel (sekalipun pake matic), terlebih lagi...melapar. "Aaak... rasanya pengen teriak di atas pancoran air Bunderan HI sambil koprol deh".

Pukul 19.00 saya tiba di ruangan Pusdiklat, di sana ada Asri, mba Ajeng, Kak Sheed dan mas Yulef. Setibanya di sana, rasanya saya numpang nafas aja, secara sepertinya semua persiapan sudah rampung, akhirnya sedikit koordinasi dengan mba Ajeng, lalu kami pun bubar, balik badan grak. Karena kelaparan tadi, sebelum balik ke hotel, saya bawa anak-anak dulu ke FX untuk makan malam. Kami pesan bubur ayam Ta wan dan menu nasi. Sayangnya, dengan hanya makan bubur saja, perut kami nampak mengenyang, dibungkuslah makanan nasi dan menu lengkapnya itu, berharap bisa jadi penyelamat kelaparan setibanya di hotel nanti. Pukul 21.30 kami sampai di hotel, mandi, makan dan tidur. "Oh nikmatnya kasur".

Makan malam di Ta wan (saya, kk Vinka dan Adik Zahran) - foto : doc pribadi
*********
Sabtu 1 Desember 2012, pukul 09.45 saya tiba di gedung pusdiklat Menlu. Ada rasa kaget sih setibanya di sana, karena peserta sudah lumayan banyak dan belum ada tanda-tanda kehidupan. Bergegaslah saya menuju meja registrasi, dan di sana ada mak Ani Berta dan mak Asri. Dengan sigapnya, mak Ani langsung meminta saya untuk membuka acara dan memandu dengan "games". Okay, melihat situasi seperti itu, saya udah ga bisa lagi beralasan. Berasa punya keahlian cuap-cuap ngemcih. Saya membuka acara dengan terlebih dahulu meminta maaf atas keterlambatan dibukanya acara. 

Seperti biasa sih, kalau soal ngomong di depan orang saya ga ada rasa grogi. Tapi karena pas dateng ke acara, masih dalam nafas ngos-ngosan, saya belum sempat "beberes diri" untuk tampil. Dan tahukah sodara-sodara apa yang menjadi kekonyolan saya sewaktu membuka acara? Lihat foto di bawah ini yaa.

(Foto : Hazmi Srondol) ngobrol singkat dengan Rama Aditya
Setelah membuka acara, saya sempat ke kamar kecil sebentar. Alangkah kagetnya ketika melihat di cermin, kacamata yang saya tempel di atas kepala sejak tiba di gedung Menlu, belum tersimpan alias masih nempel di kepala. "Jadi, dari tadi saya ngemcih dengan kacamata menempel di kepala saya?" Aaaak, tidaaaak, kaget lagi plus koproll double. Sumpaah, itu ga disengaja. Saya sendiri sampai shock melihatnya. Keluar dari kamar kecil, saya ngomel-ngomel sama mak Ani dan mak Asri (ngomel bo'ongan), "Kenapa kalian tega sih, ga ngasih tau kalau kacamata ini masih nempel di kepala aku?" tanya saya. Mak Ani jawab "Lho, kirain emang sengaja, mak. Kan dirimu suka gaya-gaya gitu", jawabnya sambil cekikikan. "Ealah, mak. Aku gaya tapi ga senarsis ini, kaleeee". aarrggh, akhirnya kami hanya bisa tertawa-tawa sendiri deh, dan saya sukses malu hati. *ngumpet. Jadi sudah cukup jelas ya teman-teman yang hadir di sana, adanya kacamata itu murni tanpa disadari, *klarisikasi.

*******
Di postingan kali ini saya gak akan bahas tentang acara Asean Bloggernya yak, maap. Karena terlibat dalam kepanitiaan, maka saya tak cukup punya bahan untuk menuliskan reportasenya di sini. Silakan mampir ke blog teman-teman yang hadir di sana. Atau baca blog ini (saya rekomendasikan, karena liputannya cukup lengkap).

Selanjutnya, usai mengikuti acara Asean Blogger, menjelang maghrib saya pamit duluan sama mba Ajeng dan teman-teman, karena harus ke Fx untuk fitting baju (*gaya bener, ngapain?). Jadi ceritanya, esok harinya tepat minggu 2 Desember 2012, saya akan menjadi model dadakan lagi di acara Blogger Bicara Fashion atas permintaan Karel dari BlogDetik. Okelah, ga ada salahnya mencoba terus tah?. Setiba di Fx, saya dan tim dari Detik, ada Achi, mas Gajah Pesing, mas Marwan dan Jemima berkumpul sejenak di foudcourt, setelah berkumpul kami naik ke lantai 4, menuju outletnya pemilik baju yang akan kita peragakan. Yaitu, batik dari Diyan Arto.

Awalnya saya ditawari 2 gaun (longdress) panjang, tapi karena pinggang saya langsing (*uhhuuk), terpaksa 2 baju pertama ga jadi terpasang di baju saya karena terlihat longgar. Alhasil, ga tanggung-tanggung deh. Diyan Arto ngasih saya baju cantik dengan panjang yang melebihi tinggi saya. "Whuee? sempet pengen nolak sih, khawatir itu gaun keinjek gimana, secara kan gue bukan model beneran". Tapi, setelah mencoba jalan beberapa kali, mba Jemima meyakinkan saya, kalau saya pasti bisa. Hmmm, okelah kalau begitu. Selesai fitting jam 8 malam, kali ini saya ga balik ke hotel, berharap jalanan bisa bersahabat kali ini. Dan alhamdulillah, lalu lintas pada saat itu lancar, saya dan anak-anak pun tiba di rumah dengan selamat tepat pukul 21.00.

***********
Tiba lah hari minggu seperti yang saya ceritakan di atas. Akhirnya saya memutuskan untuk menitipkan anak-anak seharian di rumah kakak, di Bekasi. Sebenernya pengen banget sih ajak anak-anak, tapi kembali lagi ke pertimbangan kenyamanan mereka. Biar ga terlalu capek ikut-ikut emaknya terus.

Tiba pukul 1100 di Fx, di lift saya bertemu Diyan, sang disainer batik. Cukup lama juga saya menunggu, hingga akhirnya satu persatu tim model dateng, ada saya @ayankmira, Julia @juleahardy Donny @donidarmwn Thia @thiasoediro Linda @lindaleenk Enno @nagacentil Ondry @ondrywidyatmoko Eka @ekaotto dan @lavielovechanel. Kami pun masuk ke counter wardah untuk diberi sentuhan make up agar lebih fress. Setelah make up, kami masuk back stage. Dan di sinilah kami menunggu. Saat itu talksow baru saja dimulai, hingga maju ke acara hiburan nyanyi yang dibawakan oleh "girls band" dari komunitasku tercinta "Kumpulan Emak-emak Blogger" (mak Fiki, Mak Wiwik Wylvera dan mak Olly). Begitu Karel sang MC memanggil mereka, aku dan teman-teman model  bersorak di backstage. "Ah, seandainya aku bisa melihat performe mereka". Tapi saat itu saya cukup puas bisa mendengar suara-suara merdu mereka yang menggelegar. Lov u all, mak. Lagu dan suaranya bikin aku merinding.

Emak-emak Blogger di Blogger Bicara Fashion (foto : Detik)
Terus, bagaimana dengan fashion shownya? So far sih alhamdulillah berjalan lancar. Terutama buat saya sendiri yang berhasil melewati ketegangan untuk menghindari gaun itu terinjak. Walaupun dengan resiko penampilan saya yang kurang maksimal, akbiat deg-degan. Bukan karena banyak orang, aseli mikirin jalan dengan gaun yang panjang ituh.

Fashion show di Blogger Bicara Fashion
Fashion show di Nova Ladies Fair
Bisa bandingkan ekspresi di kedua foto itu? Nampak jelas foto kedua lebih percaya diri yaa? Soalnya foto kedua style nya ga macem-macem alias cuma celan jeans dan atasan aja. Sementara foto dengan gaun hijau itu, "alamak", bener-bener tantangan. Mau tau panjangnya segimana? 

Ini foto jepretan siapa ya? *Lupa. Ma kasih ya udah di tag.
Para model Blogger Bicara Fashion - Foto : BlogDetik
Akhirnya bisa menuangkan lagi cerita yang tertunda, walaupun saya bingung ni bentuk tulisan ini apa. Reportase bukan, curhat juga bukan. Yah, sharing aja deh yaa. Jadi intinya,  setiap kali saya mengikuti atau terlibat dalam sebuah acara, akan selalu ada sebuah pembelajaran dan pertemanan baru, termasuk kekonyolan yang tidak saya sadari :D."That's why I Love Blogging world".

*********
Anak-anakku tersayang, kelak kalian akan  membaca tulisan ini. Jangan lihat hal ini sebagai sesuatu untuk membanggakan diri yaa, tapi lihatlah makna dari semua ini. Ketika kalian menginginkan sesuatu dalam mimpimu, maka kejarlah itu, wujudkan secara perlahan dan laluilah setiap prosesnya. Tentu akan banyak kerikil yang menghadang, akan banyak step yang harus kalian lewati dengan segala kesulitannya. Janganlah pernah mengatakan diri kalian "Tak bisa". Berusahalah semaksimal yang kalian mampu. Tak penting seberapa besar hasil yang kalian dapatkan, namun jangan pernah berhenti dan berkata "cukup" (baca = pasrah). "Kalian tidak akan pernah tau seberapa kuat dan bisanya diri kalian, sampai kalian menemukan kekuatan kalian sendiri"

Love u'r mom
For my beloved Vinka & Zahran
(Hema resto Bekasi Square - 9122012)

December 07, 2012

Surat Cinta

"Apa yang teman-teman bayangkan dengan sepucuk surat cinta? "

Tentu ingatan tentang sebuah masa, dimana hanya tulisan yang terangkum dalam suratlah yang mewakili apa yang kita rasakan dan kita inginkan. Entah waktu yang mana, yang mengingatkan hal itu, tapi saya yakin semua teman-teman pernah menuliskan sebuah surat cinta. 

Sebelum micro blogging atau diary online yang bernama blog mencuat ke permukaan, tentu sebagian dari kita lekat sekali dengan tulisan tangan. Melalui sebuah buku yang disebut dengan diary harian, benda tersebut menjadi sebuah benda yang sakral bagi kita, karena hanya kita yang mengetahui apa yang tercatat di dalamnya. Kita bisa menjadi tertawa, bahkan menangis menuangkan perasaan kita, termasuk ketika merasa sangat kesal dan marah. Sejatinya, kalau perempuan marah atau kesal, yang bisa dilakukan untuk meringankan beban ya dengan menangis. "Tapi bagaimana jika perasaan itu melibatkan orang lain?"

Ketika kita dihadapkan pada sebuah masa yang menuntut perhatian kita secara lebih (bahagia, tertawa, kesal, marah, bingung dll) tentu semua itu terjadi karena sesuatu hal. Contoh : Mudah emosi ketika menghadapi beban pekerjaan yang semakin berat, pusing dan kesal karena anak-anak susah di atur, merasa cemburu karena sang kekasih telat menjemput atau menggoda wanita lain, bingung karena komunikasi tak jua berangsur baik, dan sederet contoh kasus lainnya. Bisa dilihat, kan, ternyata semua perasaan itu hadir dengan terlibatnya orang selain kita. Bisa suami, istri, teman, sahabat, anak-anak, mertua dan lain-lain. Jika sudah  terjadi seperti itu, tak jarang kita lebih banyak mengedepankan ego masing-masing. Kita menjadi pribadi yang ingin dimengerti, namun tanpa disadari, mampukah kita mengerti pasangan kita?.

Bukan kehidupan jika di dalamnya tidak terjadi intrik dan konflik. Yang perlu kita lakukan adalah, jangan pernah membiarkan itu semua menjadi bias dan tanpa penyelesaian. Memang, pada saat terjadinya konflik, kita bisa dengan mudah dan spontan mengeluarkan berbagai emosi. Tapi mampukah emosi tersebut memberikan solusi? Mungkin ada yang bisa melakukannya, ada yang menunda atau bahkan membiarkannya bias. Jika begitu, bagaimana dengan perasaan kita, akankah lebih tenang? Kemungkinan sih, engga ya. Berasa masih gondok aja alias nyesek karena masih ada yang terpendam. 

Surat Cinta....
Pernahkah diantara teman-teman menuliskan sebuah surat cinta untuk pasangannya masing-masing? 
"Ah, udah ga jaman main surat-suratan, apalagi kalau udah menikah, ga ngefek".
Justru sebaliknya bagi saya, ketika kata tak lagi mampu terucap, ketika perasaan belum tersampaikan secara keseluruhan, maka surat cintalah yang menjadi jembatannya. "Tapi kenapa mesti pake surat cinta?"

Gini-gini ya,
Setiap konflik dan intrik itu kan terjadi dengan semua rasa yang ada di dalamnya. Terkadang jika kita berhadapan dengan pasangan kita, maksimal yang bisa kita ungkapkan adalah rasa marah dan kesal, right?
Padahal, selain rasa itu, sebenernya kita juga masih memiliki perasaan lain yang bisa jadi menguntungkan untuk pasangan kita, yaitu perasaan menerima dan memaafkan, atau ingin merubah apa yang tidak baik. Sayangnya, karena rasa marah masih mendominasi, kita ga sadar dan terlalu gengsi untuk mengakuinya. That's why inilah fungsi surat cinta itu, yang akan mewakili semua yang kita rasakan. 

Ada tips untuk teman-teman, yang mungkin sekarang sedang dalam kondisi yang kurang nyaman. Maaf, bukan ingin menggurui ya, hanya ingin sharing aja. "Tulis surat cinta, yuk". Ungkapkan semua rasa yang kita rasakan pada pasangan kita. Semuanya! "Tapi, gimana cara memulainya?" Coba ini (untuk kasus yang sedang dalam konflik ya)..

*Ungkapkan kemarahanmu, mulailah dengan bahasa pembuka yang cukup waras, ga usah galak-galak ya. Minimal, dibuka dengan kata : "Suamiku sayang", "Istriku sayang", "anakku sayang", "sahabatku sayang" dan lainnya. Lalu tuliskan bahwa kita marah, karena (sebutkan...) 

*Ungkapkan kekesalanmu, katakan padanya, "bahwa aku kesal karena (sebutkan....)"

*Ungkapkan kebingunganmu, terkadang rasa kesal dan marah akan mengakibatkan rasa bingung pada kita. Bingung menentukan langkah dan harus bagaimana, Tuliskan sejelas-jelasnya kebingunganmu, inget... masih dalam batas waras dan wajar yaa :D

*Ungkapkan Penerimaanmu. Nah, di sinilah kita pun dituntut harus berbesar hati, bahwa kita mengakui kesalahan kita/ menyadari kekurangannya. Sehingga apapun kekhilafannya, tetap menjadi koreksi untuk berdua. 

*Yang terakhir : Ungkapkan maunya kita. Setelah kita ungkapkan rasa di atas tadi, maka di titik akhir ini, sekaligus sebagai closed nya, tidak berlebihan jika kita meminta pasangan kita agar bisa memahami dan mengakui kesalahannya. Atau bisa sebaliknya yaa, tergantung kasusnya deh. Dengan begitu, semua ungkapan perasaan kita menemui titik terang, sekalipun itu belum menjamin penyelesaian yang berarti. Tapi yakin deh, ketika apa yang kita tuliskan berasal dari hati, maka akan sampainya ke hati juga.

***********

"Kalau surat cintanya sudah terkirim, tapi ga ada respon dari pasangan kita, gimana?"

Just is... pake ilmu "Energy Giver". Surat cinta yang kita buat itu kan tujuannya untuk meringankan beban kita, dan di dalamnya memang berbicara "tentang saya". Jadi, kita ga perlu repot-repot memikirkan tanggapannya. Tapi saya yakin, ketika pasangan kita membacanya, dengan tatanan bahasa lembut dan bijak, Insya Allah dia akan menyadari dan mulai membuka diri. Kita pun merasa tenang dan nyaman. "Ga percaya?". Cobaaaiiiiin :D

Beginilah kehidupan, dan beginilah saya. Tulisan di blog ini bisa berubah setiap saat. Tiba-tiba muncul tulisan reportase, lalu review, lalu fiksi, dan sekarang, entah apa nih kategorinya. Kebetulan inspirasinya lagi dapet aja. Jadi, semoga saja bermanfaat buat teman-teman yang mampir ke sini, yak. Judul blog nya kan, "Inspirasi Mama". Jadi, ga salah toh ya?! *beladirisendiri. Terima kasih untuk "seseorang" yang sudah memberikan inspirasi tulisan ini. "Nanti aku traktir setarbak ya".

Satu hal yang ingin saya sampaikan di akhir tulisan ini. Ketika kita bertemu dalam situasi yang kurang nyaman, Just is, nafas damai dulu. Lalu BAAR.... "Believe, Act, Attrack, Receive". Selamat mencoba. 

ps : 
Surat cintanya ga mesti di lembaran kertas, bisa melalui email, atau inbox FB. Hati-hati, jangan sampai nyasar ke inbox orang lain ya :D. Kalau mau sharing contoh surat cintanya, boleh colek saya. Bawa segelas caramel latte nya starbucks okeh :P *sok kepedean

December 06, 2012

Malamku...

Entah apa yang membuatku kian menikmati malam ini, mungkin karena sepasang 'headset' sedang menempel di kedua telingaku dengan alunan lagu yang mendayu-dayu, memainkan setiap irama yang terdengar, menjadikanku semakin larut ke dalam sebuah rasa, yang bernama 'nyaman dan tenang'.

"Aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu
Aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau rindu
Karena langkah merapuh, tanpa dirimu
Oh, karena hati tlah letih".

"Aku ingin menjadi sesuatu yang selalu bisa kau sentuh
Aku ingin kau tahu, bahwa aku selalu memujamu
Tanpamu sepinya waktu, merangkai hati
Oh bayangmu seakan-akan..." - Dealova, Once

Persis lirik itu tertulis, saat ini juga aku sedang mendengarkan lagu tersebut, berulang-ulang. Bisa dibayangkan anganku kian melambung pada sebuah imajinasi yang penuh mimpi, penuh keinginan. Namun tanpa bisa kutampik, ada pula rasa kekhawatiran dan ketakutan yang masih menyelimutiku.

Malam ini, aku ingin memantaskan diriku, bahwa hidupku sangat indah, penuh warna dan selalu memberikan harapan. Aku tersenyum dalam mataku yang terpejam, sambil sesekali kembali ku tekan tombol-tombol toots keyboard ini untuk mencurahkan apa yang kupikir seraya tetap menikmati alunan lagu-lagu ini.

Hidup memang sangat dinamis, Tuhan Maha membolak-balikkan hati. Ada saatnya ketika kita merasa sangat sedih bahkan merasa sangat terpuruk, tapi seketika itu jika DIA menghendakinya dan kita pun  mampu menumbuhkan rasa itu, kita akan sangat bisa berbahagia, sekalipun kita tidak pernah tahu kebahagiaan apa yang nampak di depan kita saat ini.

Orang bilang, "Bahagia itu sederhana".
Kini aku tau apa makna dari kalimat itu. Ya, bahagia itu sederhana, ketika kita bisa merasakan kedamaian, ketenangan, dan hanya musik yang menjadi temanku malam ini.
Aku, masih dengan kecintaanku dengan alunan lagu-lagu yang setiap malam menemaniku, hingga membawaku pada sebuah alam yang bernama 'tidur'. Aku tak ingin mengakhiri kenyamanan ini. Aku akan membiarkan diriku larut dalam indahnya setiap musik yang kudengarkan. Selamat malam, sahabat jiwaku. Masuklah ke dalam malamku.

image google

Aku dan Wajahku yang Lain

Hai... 
Ok, setelah beberapa postingan sebelumnya berbau-bau "sok" fiksi, secara mulai menyenangi tulisan fiksi, padahal sebenernya juga masih jauh dari fiksi. Tapi setidaknya aku mencoba juga tho :) *Gak nanya

Kali ini, sebenernya ga ada postingan yang berarti, oleh-oleh dari acara Blogger Bicara Fashion yang diadakan oleh BlogDetik kemarin itu, menimbulkan ide untuk meng klipping kan (*halah bahasanya) beberapa penampakan dari wajah-wajahku yang dibalut dengan peralatan lenong. Ini bukan untuk menonjolkan wajahku yang semakin cantik dan manis karena make up ya (*Toyor), tapi malah pengen kasih liat beberapa hasil kerajinan tangan (mak up artist) yang pernah singgah di wajahku ini. Emmm, setelah ngubek-ubek di file hardisk, ternyata ada beberapa foto yang terambil dan sempat terabadikan. Mari kita mulai .... di mulai dari penampakan wajahku yang tanpa make up yaa.

Foto lama nih, masih chubby
Foto ini sih sebenernya ga polos-polos amat, udah ada riasan di bagian alis dan atas mata sedikit.  Ya setidaknya, beginilah waja luguku. *Bo'ong :))

(Hasil make up dari Salon di kawasan Cibubur)
Ini Wajahku dengan make up pertama kalinya untuk sebuah perhelatan acara besar (pernikahan ank boss) di tahun 2009 (*kalau ga salah), bisa liat perbedaan dengan foto sebelumnya? yah, aku tampak pucat. Di mana aku make up nya? yang pasti hasil dari sebuah salon besar juga lho. Entah penempatan warna foundationnya yang kurang pas, atau memang wajahku maksimalnya cuma bisa digituin yak :P. Penampilanku ini sewaktu acara pernikahan dari putri boss ku, di Balai Sudirman.


Foto yang ini? Ga usah ditanya. Puas banget, baik dari segi make up, maupun baju yang sengaja aku buat. Liat aja, penampilanku berubah drastis kan? penempatan warna make up dan warna dasar kulit wajahku pas, bukan karena lighting aja ya. Karena make up dilakukan sore hari, jadi masih bisa keliatan hasil aslinya. Mau tau siapa yang make up nya? Coba search aja di FB nama Rima Rismaya asal Bandung, teteh anu geulis. mau dibikin kaya artis, bisaaa :))). Dan spesial untuk gaun yang aku pakai itu, aku buat di Mba Dian di kawasan Citra Grand, Cibubur. Jahitannya pas di badan, dan kalau konsultasi enak banget, mba Dian bisa mengaplikasikan maunya kita lho. *Nah mayan kan dipromosiin di blog aku xixixi. Dan performance ku itu pada saat Seminar Director - Oriflame tahun 2011. Maaf, setelannya kan udah keren, wanita dengan pakaian muslim, tapi itu backgroundnya ga disengaja lho. Taunya bagus aja, ternyata botol-botol itu, botol minuman keras (*kali) sebagai hiasan ckckckc.

Style gipsy nanggung abis
Nah, setelah dipikir-pikir... kalau yang ini harus kuakui, terlalu berlebihan. Gaun yang dibuat sudah sangat cantik oleh mba Dian, tapi nyatanya pemilihan warna di bagian atas malah numpuk, dan puring di bagian dalam seharusnya tidak aku kasih warna merah, Alhasil malam itu di acara Seminar Director Oriflame di Bali tahun 2012 awal, aku nampak seperti penuh amarah, merah meriaaah uy. Sementara make up ku juga tidak terlalu mencolok (*make up sendiri) dan hasilnya malah ketutup oleh meriahnya gaun dan kerudung merah itu. Keliatan sembab di bagian mata ya? Iyaa, mumpung lagi di Bali, ampe malam pun dijabani main dan seru-seruan sama temen-temen xixiixix.


Make up yang ini? Aku juga suka dan merasa puas. Berasa beda aja gitu yaaa. Penempatan shading di bagian ujung dalam mata pas banget, warna make up nya ga jauh beda sama warna tanganku kan? Nah, itu cirinya. Hasil make up ini dari Anaya Salon yang terletak di butik MOSHAICT - Menteng - Jakarta Pusat. dan hasil kreasi ini dipersembahkan untuk tugas MC di acara pembukaan pameran tunggal R.B Ali di TIM Oktober lalu.

Foto andalan saat ini
Miss jutex on fashion street
Yak, ini foto terbaru di bulan November lalu, sewaktu aku dan Kumpulan Emak-emak Blogger berpartisipasi dalam acara Nova Ladies fair 2012 yang diselenggarakan oleh Tabloid Nova. Tim make up kali ini dari Wardah, dan secara keseluruhan hasil make up aku dan teman-teman is perfect. Kami semua disulap jadi semakin cantik tanpa merubah warna kulit terlalu jauh. Hasilnya? Puas bangeet. Dan foto yang pertama masih menjadi headline di profile fb ku (eaaa, lebay). Terima kasih Mba Mira Chandra dari Komunitas Female Fotografer dan suaminya Nunik Utami yang telah mengabadikan foto ini dengan sangat keren. Yak, aku terlihat semakin keren, kan? *kabooor



Dan ini dia sebagai penghujung di tahun 2012 ini, Terima kasih untuk Karel dari BlogDetik yang udah kasih kesempatan buatku untuk jadi fashion model dadakan di Blogger Bicara Fashion. Seneng bangeet, karena bisa membawakan baju-baju batik Karya Diyan Arto, Disainer mudah dari Solo. Dan tahukah? akulah satu-satunya model yang penuh ketegangan. Gimana engga, baju yang aku pakai itu aselinya kain 4 m tanpa dipotong, dan panjangnya menjuntai melebihi tinggiku. Stress kan? kebayang donk kain berbahan sutra asli itu kalau sampai keinjek dalam catwalk, aaak.. bisa pingsan berdiri. Untuk make up nya sendiri, masih dari wardah. Tapi ya namanya beda tangan yak, maka hasil racikannya pun beda dengan hasil wardah yang di acara NLF ituh.

Itu deh story aku dan wajahku dalm acara besar yang sempat diikuti. Selebihnya, make up ku sehari-hari biasa aja sik. Kaya gini nih

Ini diambil sabtu lalu di acara Asean Blogger. Menor ga ya?
Sengaja ambil foto yang ini, karena ini aselinya lagi dalam kondisi capek. Tapi beda banget ya sama foto paling atas yang warna kuning. Yah, lama kelamaan wajah juga mengalami regenerasi yaa, kayanya sih yang ini keliatan semakin dewasa alias keliatan udah emak-emak yang beranak 2 :))). 

December 05, 2012

Dua Hati (Fiksi)

"Ada apa, nak? Wajahmu nampak murung"
Tersenyumlah sayang. Hidup ini terlalu indah untuk kau sia-siakan.

"Mengapa kamu marah dan ingin berlari?"
Bunda tau, kamu merasa jatuh pada lubang yang dalam, tapi yakinlah, bahwa lubang itu mampu kau tutup dengan segala kemampuanmu.

"Mengapa harus kecewa?"
Dalam setiap perjalanan hidup, serangkaian kisah tak selalu sama persis dengan apa yang kita inginkan. Tapi yakinlah, bahwa hidup selalu memberikan kesempatan dan menawarkan harapan. Bangkitlah, nak.

"Mengapa air matamu menetes?"
Ya, bunda tau rasa rindumu begitu besar, begitupun bunda, nak. Bersyukurlah pada Tuhan akan rasa yang indah ini.

Bunda ingin sekali memelukmu di setiap saat. Seandainya bunda tau apa yang kau rasakan saat ini, bunda akan memelukmu erat, mendoakanmu, membasuh luka yang terurai dalam setiap tetesan air matamu. Yakinlah, kamu tidak sendiri, anakku.

**********
copyright image here
Bunda....
Jika kau tau apa yang kurasakan saat ini, hatiku menjerit bunda, bagimana aku bisa tertawa sementara hatiku menangis? Bagimana aku bisa mengurai senyum, sementara di sekelilingku hanyalah kemunafikan. Aku tak ingin menyia-nyiakan hidupku saat ini. Tapi untuk kali ini, ijinkanlah aku merasakannya bunda, aku tak kuasa menahannya. Walau wajahku nampak murung, hatiku selalu tersenyum untukmu, bunda.

Bunda...
Engkau melahirkanku dengan segala yang aku miliki. Engkau jadikan aku seorang wanita yang kuat dan tegar. Bahkan aku mampu melewati saat-saat di mana aku tak berdaya. Aku marah kali ini, karena aku kehilangan kendaliku. Aku seperti tak berdaya. kemanakah jiwaku yang kau tanamkan dengan pupuk cinta  dan kasih sayang, sehingga menjadikanku seseorang yang kuat. Aku marah pada diriku sendiri, bunda. Aku rapuh....

Bunda....
Cintamu mengajarkanku semua hal. Termasuk bagaimana aku harus kuat menjalani hidup ini. Walau nyatanya aku tau, aku harus berbesar hati menerima sesuatu hal yang tak sejalan dengan apa yang kumau. Tapi, ketika luka itu menyayat ke dalam hatiku yang paling dalam, haruskah aku tetap berpura-pura ikhlas dan menerimanya, sementara bunda tau, aku hanyalah manusia biasa yang memiliki rasa. Adilkah ini untukku bunda? 

Bunda....
Cukup sudah aku tersenyum dalam sakitku. Kali ini ijinkan aku meneteskan air mataku. Aku harus mengakui bahwasanya kali ini aku rapuh, bunda. Aku tak sekuat yang bunda pikir. Aku ingin bunda tau. Aku ingin merasakan ketenangan dengan berada dalam dekapanmu, dan mengatakan bahwa "aku sedih bunda". Aku membutuhkan bunda saat ini. Aku ingin keluar dalam kesendirianku bunda. Akankah kau tau itu?

************
Dua hati dalam dua suasana yang berbeda, di tempat yang berbeda. Mengharapkan sebuah jawaban atas apa yang telah terjadi. Akankah kedua hati itu bertemu?