December 05, 2012

Dua Hati (Fiksi)

"Ada apa, nak? Wajahmu nampak murung"
Tersenyumlah sayang. Hidup ini terlalu indah untuk kau sia-siakan.

"Mengapa kamu marah dan ingin berlari?"
Bunda tau, kamu merasa jatuh pada lubang yang dalam, tapi yakinlah, bahwa lubang itu mampu kau tutup dengan segala kemampuanmu.

"Mengapa harus kecewa?"
Dalam setiap perjalanan hidup, serangkaian kisah tak selalu sama persis dengan apa yang kita inginkan. Tapi yakinlah, bahwa hidup selalu memberikan kesempatan dan menawarkan harapan. Bangkitlah, nak.

"Mengapa air matamu menetes?"
Ya, bunda tau rasa rindumu begitu besar, begitupun bunda, nak. Bersyukurlah pada Tuhan akan rasa yang indah ini.

Bunda ingin sekali memelukmu di setiap saat. Seandainya bunda tau apa yang kau rasakan saat ini, bunda akan memelukmu erat, mendoakanmu, membasuh luka yang terurai dalam setiap tetesan air matamu. Yakinlah, kamu tidak sendiri, anakku.

**********
copyright image here
Bunda....
Jika kau tau apa yang kurasakan saat ini, hatiku menjerit bunda, bagimana aku bisa tertawa sementara hatiku menangis? Bagimana aku bisa mengurai senyum, sementara di sekelilingku hanyalah kemunafikan. Aku tak ingin menyia-nyiakan hidupku saat ini. Tapi untuk kali ini, ijinkanlah aku merasakannya bunda, aku tak kuasa menahannya. Walau wajahku nampak murung, hatiku selalu tersenyum untukmu, bunda.

Bunda...
Engkau melahirkanku dengan segala yang aku miliki. Engkau jadikan aku seorang wanita yang kuat dan tegar. Bahkan aku mampu melewati saat-saat di mana aku tak berdaya. Aku marah kali ini, karena aku kehilangan kendaliku. Aku seperti tak berdaya. kemanakah jiwaku yang kau tanamkan dengan pupuk cinta  dan kasih sayang, sehingga menjadikanku seseorang yang kuat. Aku marah pada diriku sendiri, bunda. Aku rapuh....

Bunda....
Cintamu mengajarkanku semua hal. Termasuk bagaimana aku harus kuat menjalani hidup ini. Walau nyatanya aku tau, aku harus berbesar hati menerima sesuatu hal yang tak sejalan dengan apa yang kumau. Tapi, ketika luka itu menyayat ke dalam hatiku yang paling dalam, haruskah aku tetap berpura-pura ikhlas dan menerimanya, sementara bunda tau, aku hanyalah manusia biasa yang memiliki rasa. Adilkah ini untukku bunda? 

Bunda....
Cukup sudah aku tersenyum dalam sakitku. Kali ini ijinkan aku meneteskan air mataku. Aku harus mengakui bahwasanya kali ini aku rapuh, bunda. Aku tak sekuat yang bunda pikir. Aku ingin bunda tau. Aku ingin merasakan ketenangan dengan berada dalam dekapanmu, dan mengatakan bahwa "aku sedih bunda". Aku membutuhkan bunda saat ini. Aku ingin keluar dalam kesendirianku bunda. Akankah kau tau itu?

************
Dua hati dalam dua suasana yang berbeda, di tempat yang berbeda. Mengharapkan sebuah jawaban atas apa yang telah terjadi. Akankah kedua hati itu bertemu?

16 comments:

Nunik said...

Mak, coba latihan bikin cerpen sepanjang 5-6 halaman. Ini masih terlalu pendek. Di cerpen nanti, masukkan setting dan suasana. Ini belum ada konfliknya, Mak :D. Sebelum bikin cerpen, pikirkan dulu plotnya. Tentukan cerita mau dimulai dari mana, sampai konflik selesai. Ayoooo met nyoba yaa ^_^

Meti Mediya said...

setuju ama mak nunik...dah ada kembang2 jiwa penulis piksinya neh....semangaaat...bikin air mata keluar neh bacanya,,:-)

Miss Rochma - Mama Arkananta said...

ikut latihan nulis fiksi ah, merapat dibelakangnya mbak mira.. :)

mimi RaDiAl said...

yakin jika bikin fiksi lbh panjang sedikit,,,pasti sukses Mir. kata2 nya bikin ga mau tertinggal satu aja utk dibaca...hehehe [dah kyk ahli aja ]

Lidya - Mama Cal-Vin said...

akhir ceritanya apa ya?

@yankmira | Mira Sahid said...

@Nunik : waks, 5 halaman ya mak. xixixi ini aja masih mpot-mpotan, tapi key akan aku coba lagi. Makasih support dan masukannya ya

@Meti : wuiih, masa sih mak? ma kasih yak

@Miss Rochma : mari-mari mbaa... ternyata fiksi itu menyenangkan lho

@Mimi : mantap Mimi... asik, aku semakin termotivasi nih :D

@Lidya : memang ga ada akhirnya teh, sengaja digantung xixixi

IrmaSenja said...

menyimak :)

jd pengen diposting tuh fiksi2 di dlm draft ^^
ayooo bikin lagi mba, :)

37 Mw said...

Irma, ikutan duduk manis. Belajar.

obat herbal said...

bunda menjadi inspirasi kita

Waya Komala said...

wah,seneng nih liat makmin semangat belajar. hayoo mak, lanjut sampe 5 halaman. Aku support penuh ya..*dorongdorong dari belakang ;D

@yankmira | Mira Sahid said...

@Irmasenja : yes, ayo dear kita sama gali terus yuk fiksinya, aku juga maskin semangat nih

@37 Mw : mari silakan, kopinya da di dapur yak, :)

@Obat Herbal : Amin, Alhamdulillah jika begitu adanya. Ma kasih ya

@Waya : xixixi, dan aku senang dimotivasi terus, mak. AYo sama-sama belajar yaa. *dorong2juga

Anak Rantau said...

Dua hati dalam dua suasana yang berbeda, enak ngebacanya Mbak :)

Pengamat Fiksi said...

klimaks dan anti klimaksya belum tampak (soktau.com) tapi untuk pemula sudah lumayan karena biasanya menulis jon fikasi yang apik2 ya jeng.

Saya mau belajar ach, kebetulan punya buku cara menulis cerpen.

Salam sayang selalu

Niken Kusumowardhani said...

menyimak banyak ilmu yang didapat disini.

covalimawati said...

makin banyak nih yg belajar nulis fiksi.. makin terprovokasi deh,, hehe..

@yankmira | Mira Sahid said...

@Anak Rantau : asik, ma kasih ya

@Pengamat Fiksi : wah, ini nih harusnya yang kasih komennya panjang, secara nama akunnya aja pengamat fiksi. bagi2 ilmunya donk, mba, mas?

@Niken : xixiixx, ayo Bun kita nge fiksi

@Covalimawati : yup, aku juga jadi nagih nih pengen bikin terus