December 11, 2012

Matahari dan Teratai (Fiksi)

"Aku menjadi penasaran dengan kedua sosok wanita yang kutemui di kedai kopi beberapa waktu yang lalu . Cerita mereka dalam memaknai cinta sungguh berbeda. Karakter mereka pun berbeda jauh. Tapi, apakah yang membuat mereka tetap bertahan dalam sebuah persahabatan?" Tanyaku dalam hati.

Kini, pria dewasa yang sempat menemui kedua wanita di kedai kopi itu nampak ingin tau sekali bagaimana cerita kelanjutannya. Ia pun memilih tempat duduk di sudut terakhir kalinya pada saat melihat sepasang wanita yang sempat mencuri perhatiannya. Dan tepat sekali, wanita dengan dua perbedaan mencolok itu datang kembali ke kedai kopi ini. Nampaknya tempat ini telah menjadi tempat yang begitu nyaman bagi mereka untuk menghabiskan waktu dan berbagi cerita. 

Wanita dengan rambut kecoklatan dan tanpa make up itu membuka pembicaraan. Nadanya selalu lembut, penuh kehangatan. Bahkan sepertinya dia mampu menuntun sahabatnya dalam setiap untaian kata yang ia ucapkan. Tidak heran jika wanita itu bisa memancarkan pesona bagi lawan jenisnya. Dia seperti bunga matahari yang selalu bersinar, sekalipun terlihat misterius, namun nampak selalu bersahaja. 

******
"Ada apa, wajahmu nampak murung?" 
"Apakah kamu sudah menentukan sikapmu pada dia?" tanya wanita dengan kulit putih itu.

Sepertinya wanita yang menjadi sahabatnya itu belum ingin menjawab pertanyaanya. Dia hanya menyalakan sebatang rokok mint dan menghembuskan nafas dalam-dalam. Wanita dengan rambut sebahu dan make up minimalis, nampak sedikit pucat dari pertama kali aku melihatnya. Tapi nyatanya, walau dalam keadaan itu, aku melihat ada rasa optimis yang tinggi dari dirinya, caranya memandang hidup memang berbeda. Sekalipun  ia terus mencoba memperlihatkan ketegaran dirinya, tapi tak bisa dipungkiri, wanita itu adalah sosok intuitif yang saat ini terlihat larut dalam emosinya. "Persis seperti bunga teratai", batinku.

Matahari & Teratai
"Hidup itu memang dinamis ya, setiap saat pasti berubah". Tiba-tiba wanita kedua melontarkan perkataan itu.

"Berubah kenapa?" Tanya wanita pertama.

"Kemarin aku sempat bilang , kan, sama kamu. its just a 'games'. Aku ga mau 'wasting time' memikirkan yang ga menguntungkanku. Bahkan aku ga yakin lagi dengan rasa yang ada di hatiku. Aku lupa dengan rasaku saat ini. Aku kecewa, dan lebih baik aku pergi darinya". Tiba-tiba air mata mulai menggenang di pipinya.

"Try to be brave, my dear", sahut wanita pertama seraya memegang tangan sahabatnya itu. 

Jika aku melihat keduanya bercakap-cakap. Wanita sederhana dengan sosok penuh kehangatan itu nampak selalu menuntunnya. Ia mampu mengontrol dan memainkan irama emosi yang keluar dari sahabatnya itu. Sesekali nampak wajah letih di wajahnya. Entah apa yang ia alami sekarang. Ia seperti kelelahan dan berusaha melawan sesuatu. "Apakah dia sedang sakit?" batinku. Tapi aku tidak khawatir dengannya, kesederhanaannya telah menuntun dia pada sebuah pendirian yang teguh. Walaupun bisa kurasakan, setiap saat dia hanya bisa mencurahkan isi hatinya dalam sebuah catatan yang bernada 'melow'. Dan aku tau persis, pasti sahabatnya pernah merasa gerah dengan sikapnya itu. Terkadang ia ingin menampar wanita sederhana itu dan berkata padanya. 

"Bangun....! cukup dengan semua keresahanmu. Kenapa kamu tidak bangkit dan mulai dengan sesuatu yang bisa kamu maksimalkan. Jika memang adanya begitu, kenapa kamu harus takut? Justru jika kondisimu hanya mengharuskanmu bertahan beberapa waktu lagi, ini tandanya Tuhan menginginkanmu memberikan yang terbaik untuk hidupmu. Bukan mengeluh dan mengeluh terus".

Dramatis memang...
Tapi nyatanya, sahabatnya itu tak sanggup mengucapkannya pada wanita sederhana itu. Ia menyadari, bahwa sahabatnya berhak atas ruang yang ia miliki dengan segala emosi yang ia miliki. Toh selama ini, wanita sederhana itu selalu ada untuknya, dalam segala suasana. Itulah yang selalu menjadi harmoni keduanya. 

Keduanya masih larut dalam perbincangan yang semakin hangat. Sesekali nada bicara mereka naik, lalu redam dan berubah jadi tawa riang. Hingga menjelang akhir perbincangan mereka, wanita dengan rambut sebahu itu kembali menegaskan.

"Aku semakin tau bagaimana dia. Tak ada yang istimewa. Aku bahkan tidak melihat keinginan yang kuat dalam dirinya untuk bisa menyenangkanku. Jika pernah kukatakan, aku sempat menyayanginya, itu betul. Tapi saat ini, rasa itu semakin bias. Bukan karena mauku, tapi karena dia yang telah melakukannya terhadapku. 

"Semudah itukah kamu bisa melupakan dan melepaskannya?"

"Awalnya sulit, tapi ini harus kulakukan, karena aku ingin menata kehidupanku kembali. Walau tak bisa kupungkiri, aku tetap berterima kasih padanya karena dia telah melengkapi kebahagiaanku, mengisi sudut ruang hatiku yang sempat kosong."

"Kenapa kamu bisa dengan mudah melakukan hal itu? Tidakkah kamu melihat dan menghargai sedikit saja perasaanya? setidaknya dia mencintaimu dengan tulus".

"Cukup, aku sudah katakan dan aku tetap pada pendirianku di awal. Hubungan ini tanpa status, jika dia atau aku ingin menyudahinya, ya sudah, 'just do it'. 

"Oke, kalau itu memang pilihanmu. Aku ingin sekali sepertimu, mudah melupakan dan menghapus ingatannya dariku. Tapi ternyata, hingga detik ini,  aku masih dengan rasa yang sama untuknya". Wanita sederhana itu tiba-tiba meneteskan airmatanya.

"Hey..." wanita dengan rambut sebahu tiba-tiba menggengam tangan sahabatnya itu

"Aku dan kamu saat ini sama-sama memiliki cinta. Aku dengan caraku memaknai cinta, dan kamu dengan caramu. Aku hanya berpikir realistis, bahwa cinta yang kupertahankan ini akan tetap semu hingga kapanpun, dan kamu tau itu. Untuk itu, aku juga harus menguatkan diriku agar segera mengakhirinya, walau nyatanya hatiku berat sekali. Dan aku juga sebenarnya iri sama kamu, kamu dengan caramu memaknai cinta begitu tulus. Kamu menempatkan rasa cintamu masih dalam tahta tertinggi di hatimu. Kamu luarbiasa, 'my dear'. Dinding di hadapan kita terlalu tinggi untuk kita hancurkan demi cinta semu ini. 'Plis', sadarilah itu. Aku juga ga mau liat kamu terus-terusan tersiksa begini. Biarkanlah lelakiku dan lelakimu kembali pada cintanya, karena kita pun memiliki cinta yang harus kita jaga."

Nyatanya, hingga saat ini wanita sederhana itu tak jua mampu melupakan sosok pria yang pernah singgah di hatinya. Yang membuatnya masih merasakan luka itu, adalah kenyataan pahit bahwa lelaki yang sempat mendekatinya, dengan mudah meninggalkannya, tanpa ia coba untuk mengerti perasaannya. Jika aku melihat permasalahan kedua wanita itu, sosok wanita dengan rambut sebahu dan kulit eksotis itu berada dalam posisi dengan mudahnya melupakan pujaan hatinya. Sementara wanita sederhana ini, sangat sulit melupakan pujaan hatinya, bahkan telah melewati waktu 2 tahun lamanya. Siapakah yang dapat kukatakan diantara mereka yang memiliki rasa cinta? "masih kontras", gumamku.

*********
Sepertinya aku mulai mengerti sekarang. Kedua wanita itu memang sangat berbeda jauh. Wanita manis dengan penampilannya yang selalu fashionable, telah banyak melalui segala perjalanan hidup yang membuatnya punya cara pandang tersendiri akan sebuah kehidupan. Hampir tak pernah ada rasa putus asa dalam dirinya, karena dia selalu meyakini kemampuan dirinya dengan rasa optimis yang besar. Sayangnya, ia pun memeiliki rasa sensitif yang cukup tinggi. Ketika hatinya tersentuh baik dengan rasa sakit ataupun senang, ia akan sangat menikmati itu. Dan yang membuatku bingung kali ini, bagaimana ia dengan mudahnya berkata bahwa ia bisa melupakan seorang pria yang mencintainya? Mengapa ia tidak mencoba menikmatinya? Ah, mungkinkah ada dinding yang sangat tinggi yang mengharuskan dia berbuat seperti itu?

Sementara wanita cantik dengan gaya sederhana itu, seolah masih mencari arti kehidupan menurut cara pandanganya. Baginya hidup itu tentang bagaimana ia menerima semua hal yang telah Tuhan berikan padanya. Ia tidak terlalu ingin memiliki apapun yang berlebihan, karena bahagia menurutnya adalah kesederhanaan. Ketika hatinya mulai tersentuh oleh rasa yang tidak biasa, justru dari situlah babak baru dalam kehidupannya dimulai. Ia semakin larut dalam rasanya, sehingga ia sendiri tidak menyadari bahwa dalam dirinya ada sebuah pemberontakan. Pemberontakan akan sebuah keinginan untuk menuntut sesuatu yang tidak bisa ia dapatkan. "Bagaimana ia mampu melewatinya?" tanyaku dalam hati.

Pembicaraan kedua wanita itu semakin hangat di tengah riuhnya suara orang-orang berjalan di sebuah mall besar di kawasan Jakarta. Sementara aku, seorang pria dewasa yang hanya bisa mengagumi sosok mereka dengan segala keunikannya. Jika boleh aku mengatakan pada mereka, ingin rasanya aku memiliki mereka, bukan keduanya, tapi setidaknya cinta tulus yang pernah kuberikan pada seorang wanita dengan kondisi penerimaan berbeda dari keduanya, semakin membuatku yakin, bahwa aku tak pernah menyesal pernah mencintai dia dan menghadirkan sosoknya dalam hatiku. Kisah yang pernah aku lewati bersamanya, akan menjadi sebuah catatan indah sepanjanng perjalanan hidupku, meski ku tau, dia tak pernah tau isi hatiku.

"Terima kasih Matahari dan Teratai, kalian memberikanku pelajaran hidup tentang bagaimana memaknai cinta dengan cara kita masing-masing. Apapun bentuk cinta yang kita rasakan sekarang, aku tak akan pernah menyesali cinta yang pernah hadir dalam kehidupanku. Sama seperti kalian. Semoga kalian bisa segera menata cinta kalian kembali, akupun demikian". 

Kali ini, bukan lagi kedua wanita itu yang lebih dulu beranjak dari kedai kopi ini, tapi pria dewasa yang sejak tadi telah memperhatikan keduanya. Ia berjalan dengan langkah percaya diri, seraya meninggalkan setangkai bunga matahari dan teratai di meja terakhir kali dia duduk. 

22 comments:

Pakde Cholik said...

Cinta memang bisa menyentuh siapa saja dengan berbagai cara. yang disentuh tentu menyikapinya juga beraneka raga, tergantung kepekaan masing-masing. Namun semuanya sama, tak ada yang ingi menyia-nyiakan atau mengabaikan perasaannya.

Apik fiksinya

Salam hangat dari Surabaya

hana sugiharti said...

aduhhh bahasanya masih buat aku bingung mak.. apa karena aku baca buru2 ya :D

hihi * hanya bersikap jujur loh yah*

@yankmira | Mira Sahid said...

@Pakde : betul pakde. Terima kasih atas opininya. Salam hangat juga

@Hana : xixixixi. gpp ko. Nanti coba baca lagi pelan-pelan ya. Semoga bisa emngambil pesan yang tertulis di dalamnya :)

37 Mw said...

Enak bacanya mengalir seperti sungai. Hanyut donk.

@yankmira | Mira Sahid said...

@37 Mw : ma kasih, semoga bisa dapet pesannya :)

Carra said...

eyyy mantap... bacanya emang musti ati-ati, tapi begitu masuk, bener, mengalir :D

@yankmira | Mira Sahid said...

@Carra : ah masa sih mantap? ciyus? xixixi. Ma kasih hun

Direktori WeBlog said...

Thanks sharingnya, gan!
Salam kenal...Kalau berkenan mau ngundang untuk ikutan gabung dengan teman-teman lain yang sudah SUBMIT URL BLOG-nya ke Direktori Weblog Indonesia :)

Enny Mamito said...

sukaa bgt mak..
tentang memaknai cinta..hhmmm..its so... apa yaa.. keren deh pokoknya.. :)

@yankmira | Mira Sahid said...

@Direktori Weblog : lho, bukannya udah kenalan yaa sebelumnya. Monggo dibaca dulu artikelnya dengan rasa ya :)

@Enny : Aish, yakin nih? xixixi. ma kasih ya say :)

Insan Robbani said...

Hmm... Fiksi yang bagus, mungkin dinamikanya aja yang lebih ditambahin, agar alurnya lebih menggelegar lagi..

haha... sok tau saya..

@yankmira | Mira Sahid said...

@Insan Robbani : Maksutnya dinamika dialog atau plot nya, Ka? Eniwey ma kasih masukannya

Indah Juli said...

Hmmm, ini curhat ya:)
Biar seperti fiksi, dibikin dialog-dialog pendek, nggak hanya narasi.
Tokoh prianya nggak jelas di sini, sebagai pencerita atau pengamat.
Baca ini serasa baca diary.

@yankmira | Mira Sahid said...

@Indahjuli : opo iya toh mba? masih keliatan curhat ya? tapi ini bukan curhat, ini emang cerita ngarang, kan lagi pengen belajar fiksi *ngayal. Si cowoknya berperan sebagai pengamat sekaligus yang menceritakan ini. eniwey, ma kasih mak.

alaika abdullah said...

Hai Mir, maaf baru mampir.
Ceritanya menarik, tapi kalo dibacanya ga hati-hati bisa membingungkan pembaca dalam membedakan kedua wanita itu.

si bunga matahari: berambut coklat dan make up minimalis? berkulit putih? aku masih bingung sewaktu baca sekilas dlm membedakan antara si matahari dan teratai.

dia kah yang mengucapkan kalimat pertama: "Ada apa, wajahmu nampak murung?"
"Apakah kamu sudah menentukan sikapmu pada dia?"

mungkin akan lebih membantu pembaca agar cepat tanggap adalah dengan menyebutkan si bunga matahari dan si teratai, daripada menyebutkan wanita pertama dan wanita kedua...

Karena pembaca [yang mungkin sudah lelah beraktifitas seharian] biasanya akan sulit diminta berkonsentrasi/mengingat si tokoh yang hanya dideskripsikan spt itu. Deskripsi memang penting tapi akan sangat membantu jika kita juga menyematkan sebutan/panggilan, sehingga gampang ngingatnya.

Itu saranku sih....

cerita dan maknanya udah sip banget!

Bunda gaul said...

Mak, saya setuju dengan Mak Injul dan Mak Alaika.

Coba re write lagi dengan kalimat pendek saja. Perhatikan kalimat kamu, hampir semua beranak kalimat. Coba potong buat dengan kalimat standar SPOK. (Bukan menggurui ya Mak)

Tema cinta tidak pernah basi. Tinggal bagaimana meramu konflik. Narasi panjang dan membingungan, membuat malas baca, pada akhirnya tidak mendapat kesan apa-apa. Jujur saya harus membaca berulang-ulang (4 kali mak, catat 4 kali saya membaca) Karena sosok Mira jelas banget dalam postingan di situ.

Kamu bisa mendeskripsikan yang kamu sebut lelaki dewasa. Dia siapa? urusannya apa menilai dua wanita? Kedai kopi atau toko kopi mau merepresentasikan cafe? Karena kalau toko kopi, jarang ada tempat buat kongkow.Kamu juga tidak mendeskripsikan ruangan sehingga pembaca tidak dapat gambaran situasi keberadaan dua wanit dan lelaki dewasa. Kamu sebut lelaki saja juga tidak apa-apa.

Memang ini fiction tapi nalar pembaca berjalan. Jadi harus tetap ada logika. Mak Alaika benar, banyak terjadi pengulangan karena kamu menyebut wanita pertama dan kedua dengan deskripsi.

Tadinya saya pikir, selain 2 wanita dan lelaki dewasa ada satu orang lagi yaitu narator (kamu)

Karena tidak terbaca kalau yang menilai kedua wanita tadi adalah si lelaki dewasa (siapa sih dia?)

Coba deskripsikan lebih nyata tiap tokoh, pasti lebih nendang mak!

Rika Willy said...

ceritanya agak berputar-putar ya. menurut aku pelaku dalam ceritanya dikasi nama saja, si Badu, si Tina, si Merry.. daripada wanita pertama, wanita kedua. jadinya bingung. jadi nggak bisa baca cepat, harus mikir dulu, tadi wanita pertama yang mana ya, yg ngomong apa. jadi klimaknya nggak dapat. jiahhhh bahasaku :)

lanjut mak Mir!

@yankmira | Mira Sahid said...

@Alaika : mantap masukannya mba, ok siap nanti akan segera aku coba daur ualng lagi, ma kasih ya

@Bundagaul : yup, memang sengaja dio fiksi ini belom memakai penggunaan nama, tapi karena banyak yang bingun, termasuk dirimu yang sampai 4x baca (xixixi), akan aku coba re write lagi. ma kasih mak

@Rika :xiixixi, its okay Rika. dengan gini aku jadi tau kalau nulis fiksi itu jangan cuma kita sebagai penulis aja yang ngerti ceritanya. nanti aku akan coba lagi, thank ya

Marley Lopce said...

konsep cerita dan pemaknaan cinta di certa nih keren sekali,,script yg mungkin harus diperjelas.. pengulangan kata dan kalimat serta penekanan karakter yg diceritakan akan lebih membuat easy reading,, salam,,,,

@yankmira | Mira Sahid said...

@Marley : wah, asiknya dapat masukan bagus, terima kasih yaa. Salam kenal dan semoga sudi berkunjung lagi :)

IrmaSenja said...

Dialoge/ percakapannya ditambah kayanya mba ;)

Matahari dan teratai,... hemmmm, perumpamaan yang cantik ^^

diNa said...

Bahasa dan pemilihan katanya keren abis mb.. Jempol deh! Cuma mmg harus hati2 bacanya, hrs pelan2 spy bs lbh memaknai. Saya bbrp kali hrs ngulang naik turun hihihi.. Mgkn dinamikanya ditambah ya mb spy ada sdkt letupan2. Tp untuk pemula top abiz mb.. Sy blm tentu mampu :)