January 28, 2013

Aku Cinta, Aku Mendengar


Kenapa sih, kamu ga pernah bisa ngertiin aku?
Kenapa sih, aku selalu salah di mata kamu?
Perasaan, aku udah berbuat banyak, tapi ko selalu aja kurang.
Lebih baik aku diam, terserah kamu deh.

Beberapa kalimat di atas, mungkin saja pernah dilontarkan oleh kita, baik itu kapasitasnya sebagai seorang istri, maupun suami. Biasanya, perkataan itu dengan mudah kita ucapkan dalam kondisi hati yang sedang kurang nyaman. Ada yang terucap, ada yang bisanya cuma mengkel di hati.

Pertengkaran suami istri layaknya seperti sebuah aksesoris. Rumah tangga akan semakin menemukan harmoni ketika ada konflik di dalamnya. Katanya... fase-fase dalam pernikahan itu akan memperlihatkan penampakannya di tiga kurun waktu dan 5 kondisi. Usia pernikahan 1-3 tahun justru yang menjadi penentuan sepasang suami istri untuk melanjutkan fase berikutnya. Tapi karena biasanya di awal pernikahan itu masih hot-hot nya, maka di fase ini sebagian banyak pasangan mampu melewatinya dengan sukacita. Yang menjadi rentan adalah ketika memasuki fase tahun kedua. Menurut sumber-sumber yang saya baca, fase inilah yang sangat rawan, karena usia pasangan berkisar 30 an hingga 40an. Dan konon di usia ini, suami yang lebih rentan dengan yang namanya pubersitas (*kata sumber di guugel lho ya). 

Selain fase tahunan, ada juga fase dalam bentuk kondisi, antara lain : awal perikahan (bulan madu), lalu memasuki pematangan sebuah keluarga, punya anak, transformasi (menjadi semakin dewasa dalam hubungan berkeluarga), terakhir melengkapi kehidupan di masa tua. Fase-fase tersebut mungkin ada benarnya, karena kalau saya pribadi saat ini sedang berada dalam fase kedua dan ketiga ya, sambil terus menjalani berbagai cerita di dalamnya. Yah... ga jarang juga, pertengkaran sering menghampiri kami berdua, namanya beda pemikiran dan beda mau, konflik pun terjadi.

Belum apa-apa jika saya bicara tentang usia pernikahan yang memasuki tahun ke 11 ini. Ditambah tak terasanya pertumbuhan anak-anak yang semakin hari semakin besar. Dan saya tidak bisa menampik, perjalanan kami melewati semua itu juga ga semulus yang diharapkan. Tapi, kondisi-kondisi tersebut nyatanya memberikan banyak pelajaran berharga untuk saya dan suami. Semakin kami terus terbentur dengan kondisi yang kurang baik, maka semakin besar tantangan bagi kami untuk bisa mencari solusinya. Seperti saya tuliskan di awal postingan ini, kalau berbicara tentang kekurangan masing-masing, dijamin deh, semua hujatan, pertanyaan dan segala ketidak puasan akan terus kita rasakan. So, apa dong yang harus dilakukan agar semua kerumetan itu bisa terasa ringan?

Saya bukan ahli psikolog atau konsultan pernikahan ya, bok... Tapi saya hanya ingin sharing dari pengalaman yang selama ini saya jalankan. 

Adalah mendengar dengan sepenuh hatimu. Alhamdulillah, saya dan suami selama ini tak pernah luput untuk terus membuka hati dan pikiran kami dengan lebih banyak mendengar. Maksudnya gimana? Jadi gini, kalau lagi berantem atau marahan, masing-masing dari kita akan selalu merasa benar dan tidak ingin dikondisikan bersalah. Tapi justru di situlah titik rawannya. Ketika kita bisa STOP menyalahkan, dan lebih banyak berkomunikasi dengan pasangan secara dua arah, percaya sama saya deh, konflik akan usai. Tapi kan itu ga segampang kamu pikir, Mira? Betul. Kalau gampang, ya ga akan ada pertengkaran kan? Memang untuk memulai sesuatu (apapun itu) akan terasa sulit, yang perlu kita lakukan ketika ingin menyelesaikan sebuah permasalahan adalah menekan ego kita masing-masing dulu. Kalau suaminya tetep ngotot, ya istrinya yang harus berusaha keras terus mengirim energi positif agar suaminya mau mendengar. Begitupun sebaliknya. Dan yang paling saya haramkan (terutama untuk diri saya) adalah, mengucap kata "Ga bisa". Iya, udah dicoba, ga bisaaaaa... Nah kata-kata seperti itu kadang bikin saya alergi. Walaupun sebagai manusia biasa saya bisa saja luput juga dan tak sengaja berucap seperti itu, no body is perfect, right?

So far, apa yang saya dan suami saya lakukan itu selalu efektif untuk kami. Walau pada kenyataannya harus terputus komunikasi beberapa saat, atau malah lebih banyak saya yang cemberut. Tapi di sini juga fungsi suami sebagai kepala rumah tangga. Bukan memperlihatkan egonya sebagai seorang yang berkuasa di rumah, tapi gunakanlah kapasitasnya sebagai seseorang yang bisa mengayomi istri. Seorang istri akan lebih lengkap hatinya jika terus dibimbing, diarahkan, disayang, dimanja, diperhatikan, dikasih uang jajan buat shopping yang lebih.... wkwkwkkwkw *yang terakhir ngarang tuh (walau ngarep juga). Yah, intinya... sinergi keduanya harus beriringan sejajar, saling mengingatkan, saling merendah, terutama MAU mendengar segala persoalan, baik persoalan sumur, dapur, kasur, atau perkejaan yang selalu memberikan efek ke dalam rumah. "Listen to Your heart"

Sumber foto

Mendengar itu seperti melepaskan beban yang ada di hati dan pikiran kita, mendengar seperti menemukan jiwa yang sempat terserak karena asa, mendengar seperti merangkai sebuah mimpi, cita dan harapan, mendengar lebih dari sebuah pemikiran, karena dengan mendengar, mampu memupuk cinta yang terluka, menjadikannya sebuah kebahagiaan yang sangat indah

January 26, 2013

Prompt #1: G-String Merah

CRV berwarna hitam dengan plat tiga angka itu akhirnya memasuki sebuah teras kos-kosan di bilangan Jakarta selatan. Seorang lelaki dengan perawakan tinggi 170 cm dan memiliki warna kulit kecoklatan itu turun dari mobilnya, lalu mengambil handphone nya.

Jack... gue dah sampe depan rumah lo, nih

Oh ok. Elu langsung masuk kamar aja dulu ya. Gw masih mandi nih

Mehhh… Dion nyengir. Jaman sekarang. Mandi, hape juga dibawa. Watsapan sambil mandi. Dion terkekeh sendiri. Dia menuju kamar nomor dua di deretan kanan. Dibukanya pintu yang memang tak pernah terkunci, lalu masuk.

Kamar itu tak terlalu luas. Dipenuhi dengan barang-barang praktis. Dion menggelesot di lantai bersandarkan tempat tidur. Tapi tiba-tiba matanya tertarik pada sesuatu yang berwarna merah yang sedikit menyembul keluar dari bawah bantal. Penasaran, karena hampir tak ada baju setahu Dion yang berwarna merah di kamar ini, ditariknya benda berwarna merah itu.

Dion terkesiap. G-String? G-String warna merah?



Jack, apa ini? G-string? Punya siapa? 

Dion seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Seketika perasaannya menjadi campur aduk. Dion sangat tau betul model dan warna G-string itu. Selama ini Dion memang tak pernah bercerita pada Jack bahwa ia memiliki seorang pacar bernama Naura. Dan G-string itu adalah milik Naura, bukti jahitan bertuliskan nama Naura jelas terpampang di bagian belakang G-string tersebut.

Oh ini... punya sahabat gue yang cinta mati ama cowoknya tuh. Semalam dia ke sini, katanya abis memadu kasih ama tu cowok. Eh dia nyuci tu G-string di tempat gue, ketinggalan deh.

Belum sempat Dion berkata-kata lagi, tiba-tiba pintu kosan nya dibuka oleh seseorang. Dion dan Jack tersentak kaget.

Naura? Sapa Dion dengan suara parau, sementara jack menyapa Naura dengan nada senang.

lho, kalian saling kenal? tanya Dion menunjuk Jack dan Naura. Naura pun menanyakan hal yang sama.

Eh...? ekspresi Naura tampak heran namun tersirat senang

Jack.... ini lho cintaku yang selalu gue ceritakan itu, tadinya mau gue kenalin pas kita ketemuan nanti sore, tapi ternyata kalian udah kenal yaa? Hihihi, dunia emang sempit, ya?

Lalu ketiganya membisu. Hingga sebuah ucapan dengan nada sedikit berteriak menahan pedih keluar dari mulut Jack.

Diooooonn... how could u? Jack tiba-tiba menyentak Dion
Gilingan, Kanua pecongan plus sutra nidurin pere ini semalam setelah sehari sebelumnya kanua kencana sama akika? Jack keluar dari kamar kosan nya sambil menangis dengan tergopoh ala waria.

Jack... Jackelyn... suara Dion memanggil nama Jackelyn alias Jack, sementara Naura terdiam seperti shock melihat hantu, hingga akhirnya pingsan.

January 18, 2013

1 tahun Kumpulan Emak2 Blogger - Satu Cinta dalam Inspirasi dan Karya

1stKEB Satu Cinta dalam Inspirasi dan Karya
Kiprah perempuan telah melompat jauh di era digital, teknologi dan informasi. Para perempuan, termasuk ibu yang dalam peran sehari-harinya bekerja atau menjadi ibu rumah tangga, kini juga mampu mengekspresikan diri dan mengaktualisasikan dirinya dalam dunia blogging. 
Demi terjaganya semangat dan eksistensi dunia perbloging-an kaum perempuan, dan kiprahnya di dunia online. Kami mengajak semua member Kumpulan Emak-emak Blogger untuk sama-sama bergandengan tangan menyebarkan virus ini, melalui sebuah coretan tangan yang tertulis oleh jemari-jemari indah. Tentang sebuah spirit kaum hawa yang bisa menjadi dinding terkuat bagi penopang dirinya, keluarga dan lingkungan. 
Tidak terasa telah setahun (18 Januari 2013), kami yang tergabung dalam Kumpulan Emak-emak Blogger (KEB) merasakan banyak manfaat yang dapat kami petik dari aktivitas komunitas ini, dirasa perlu merayakan rasa syukur sedalam-dalamnya. Agar kami dapat kembali merefleksikan diri,apa saja yang telah kami perbuat selama setahun ini, dan akan dibawa kemana langkah kami selanjutnya. Untuk itu, kami berharap semua member di sini dapat berpartisipasi dalam gerakan menyebar virus blogging bersama KEB yang ditayangkan serentak tanggal 18 Januari 2013, dengan mengangkat tema "1 tahun KEB, Inspirasi perempuan Kami Ada Untuk Berbagi".

Itulah sebuah ajakan yang kami tuliskan di rumah (group FB) menjelang milad Kumpulan Emak-emak Blogger atau yang biasa disingkat KEB yang pertama, yang jatuh tepat di hari ini Jumat 18 januari 2013. Rasanya tidak berlebihan jika hal tersebut kami minta untuk semua member yang tergabung di dalamnya. Ya, kali ini dalam postingan serentak teman-teman lain, KEB ingin menyebarkan virus menulis melalui Blog. Alhamdulillah sejak kemarin lanjut pagi menuju siang ini, teman-teman semua mulai banyak yang turut menyebarkan virus blog. 

Sejak pertama kali saya menggagas grup ini, sebetulnya tidak ada target yang terlalu tinggi, walaupun ada sebuah keinginan untuk bisa membesarkan group ini. Seiring berjalannya waktu, panggilan akrab KEB semakin meluas dan mulai dikenal gaungnya. Sehingga dalam perjalanannya, kami berharap KEB menjadi sebuah rumah yang bisa menginspirasi kaum perempuan untuk berkarya melalui blog. 

Ditemani oleh 3 sahabat dari sesama blogger juga, visi misi KEB setahun yang lalu adalah ingin memberikan spirit menuslis di blog kepada sahabat perempuan lainnya. Untuk itu, kami pun membuat sebuah tagline KEB "Inspirasi Perempuan, Kami ada untuk Berbagi". Dan ketiga sahabat yang kemudian akrab disapa makmin itu adalah : Sary Melati, Indah Julianti Sibarani dan Nike Rasyid. 

Kiri atas : Mira Sahid, Indah Juli, Nike Rasyid, Sary Melati
Sejak berdirinya setahun yang lalu, berbagai kegiatan sudah kami laksanakan, dimulai dengan hijab class di bulan Februari, lalu ada juga kontes menulis, dan kegiatan aktif hingga saat ini adalah terlibatnya KEB dalam setiap acara. Baik itu yang berskala nasional seperti Kompasianival maupun hadir sebagai partisipasi/ undangan launching sebuah produk. Saat ini banyak isu yang beredar tentang hadirnya blogger dalam setiap acara, ada yang bilang blogger banyak dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu dalam hal promosi. Semua sah-sah saja berpendapat, tapi bagi KEB sendiri, saat ini kami tidak mempermasalahkannya. Dengan latar belakang visi ingin memberikan spirit dan konsistensi menulis di blog, maka dengan menghadiri sebuah acara, kami yakin sahabat-sahabat yang hadir terinspirasi untuk menuliskannya. Itulah poinnya, karena dari ratusan teman-teman yang tergabung di KEB nyatanya masih banyak yang sudah jarang update blog nya. Sayang kan? Padahal, "Ngeblog itu Terapi Jiwa lho, mak". Tapi, dari sisi mana blog bisa dikatakan terapi jiwa? Tunggu launching buku antologi dari kami yang sedang dalam proses pembuatan ya. 

Gathering ke 1 KEB - Jakarta
Hijab Class Februari 2012 - Bekasi
Kontes menulis - Juni 2012
Gathering ke 2 KEB - Bandung 2012

Menghadiri undangan 
KEB pedul Benhil - 2012
Berpartisipasi dalam Nova Ladies Fair 2012
Berpartisipasi dalam Kompasianival - November 2012
Melewati bulan-demi bulan, KEB pun semakin aktif. Semua ini tidak terlepas dari keterlibatan sahabat lainnya baik secara sharing online di group maupun acara offline. Di sinilah seninya seorang blogger, silaturahmi yang terjalin tidak hanya sebatas dunia maya, namun akan menjadi lebih lengkap ketika kami bertatap muka langsung. Karena semuanya perempuan, maka tak heran jika pertemuan kami selalu menyenangkan, penuh tawa dan selalu banyak manfaat. Alhamdulillah, hampir ga pernah ada gosip yang kami bahas. Itulah hebatnya teman-teman KEB. Spiritnya tidak hanya di dunia online, tapi secara nyata pun sangat kental. Jadi, buat teman-teman yang belum pernah ikut kopdar KEB, sesekali ikut yaa.

Hari ini tepat setahun KEB berdiri, tak terasa pula bahwa *mungkin saja, nama KEB sudah mulai dikenal di masyarakat luas. Ini tentu berkat support dari teman-teman media lainnya yang selama periode setahun ini telah memberikan kesempatan kepada kami untuk memperkenalkan diri. Dan melalui postingan ini, saya pribadi mengucapkan terima kasih tak terhingga untuk partner KEB yang  telah membantu kami berdiri semakin besar. Semoga melalui berita-berita ini, KEB semakin bisa memberikan inspirasi dan manfaat untuk kaum perempuan. Terima kasih KEB kepada radio Female, radio DFM, majalah Mother & Baby, Wartakotalive, Leissure Republika, majalah Sekar, tabloid Nova, tabloid Wanita Indonesia, Majalah NOOR dan tabloid Nakita yang telah mengangkat profile KEB dan saya beserta sahabat lainnya.

Kumpulan Emak-emak Blogger dalam Berita
Membesarkan sebuah group atau komunitas pada akhirnya tidak mungkin tanpa bantuan sahabat lainnya. Dan tepat hari ini pula, alhamdulillah KEB resmi disupport oleh teman-teman yang dengan ikhlas mau berkontribusi untuk KEB ke depannya. Dengan kata lain, makmin KEB kini bertambah menjadi total 8 orang. Dengan begitu, semoga saja kami bisa menampung segala ide kreatif teman-teman semua untuk kebaikan KEB ke depannya. Dan saya pribadi berharap, seksi riweuh KEB ini benar-benar bisa berbagi dengan ikhlas demi majunya kiprah perempuan. Selamat kepada para makmin yang bersedia berkontribusi untuk KEB, semoga kebaikan kalian dibayar berkali lipat oleh Allah Swt, Amiin

Yang ngurus KEB periode 2013-2015 (design makmin gambar @redcarra)
Mira Sahid - Founder KEB (MakPon)
Sary Melati - GA & Board KEB (MakRT)
Indah Julianti S - Penasehat & Board KEB (MakSepuh)
Vema Syafei - Sekretaris (MakSekdes)
Irma Susanti - Bendahara (MakJurbay - Juru Bayar)
Elisa Koraag - Kreatif Acara & Kerjasama (MakLin - lincah)
Lusiana Trinasari - Social Media (MakMin Cuap-cuap)
Carolina Ratri - Design Creator (MakMin Gambar)

Selamat milad ke 1 untuk Kumpulan Emak-emak Blogger. Semoga perjalanan 1 tahun ini tidak membuat langkah terhenti. Tetaplah menginspirasikan apa yang terfikirkan dari hati, curahkan apa yang terasa dan terlihat. Semoga kebersamaan ini terus terjalin, tanpa batasan waktu. Amiin. Peluk semua sahabat perempuanku. "Tetaplah Menulis, Maka Kamu Akan Tau Siapa Dirimu" - Mira Sahid @ayankmira

Kumpulan Emak-emak Blogger
Follow us : @emak2blogger

January 16, 2013

Indonesia Mencari Bakat - 100 Blogger?

Masuk TV, Mauuu...

"Pernah ga, terpikirkan bisa masuk ke layar kaca televisi? Maksudnya, jadi artis gitu?"

Ya bukan gitu juga sih. Maksudnya, kalau bisa  masuk TV hanya sebatas memberikan opini atau menjadi figuran, tentu menjadi sesuatu yang baru bagi kita, bukan? Kecuali kalau sudah jadi artis, muncul di layar televisi bukanlah sesuatu yang mengejutkan lagi. Sama ketika halnya blogger mulai dilibatkan dalam dunia pertelevisian. Belum untuk menjadi pengisi acara atau pengisi program, tapi jika yang dilibatkan sekitar seratusan blogger dalam sebuah acara televisi, tentu menjadi kebanggaan tersendiri, termasuk untuk saya. Dan kali ini, hadirnya para blogger di sebuah statsiun televisi, bukan lagi hanya hadir sebagai undangan biasa, melainkan untuk bisa mengetahui sebuah proses pelaksaan acara secara live. 

Ketika Seratusan Blogger tiba di Gedung TransTV

Sabtu, 12 Januari 2012, saya dan seratusan blogger berkesempatan untuk hadir di acara "100 Blogger Nonton Bareng Indonesia Mencari Bakat" yang diselenggarakan oleh TransTV dan BlogDetik. Sebuah statsiun televisi yang kita semua tau, bahwa keberadaannya selalu menjadi trendsetter di dunia entertain. Kesempatan ini tentu tidak ingin saya sia-siakan, karena melalui salah satu jalan ini, saya bisa belajar tentang sebuah proses dari kerjasama tim demi suksesnya sebuah acara yang akan ditayangkan di televisi secara live.

Sebelum masuk studia, berfoto ria dulu di lobby
(foto : transcrew)
Tiba di gedung Transcorp sekitar pukul 14.00, di lobby sudah terlihat beberapa kawan blogger beserta tim dari TransTV dan Detikcom, siapa lagi kalau bukan Karel Anderson (*yang agak mirip Pasha Ungu itu, uhhuk). Yang berbeda dari acara ini, sejak awal kami disambut hangat oleh beberapa tim & crew yang penampilannya sangat nyaman dipandang, (Cakep-cakep maksudnya, hihihi). Ga tanggung-tanggung, mas Sulistyo Hadi - Supervisor Marketing PR TRANS TV turut menyambut kedatangan kami di lobby. 

Workshop IMB, Hangat, Menyenangkan dan Berkualitas

Setengah jam kemudian, kami memasuki sebuah ruangan di lantai 3A. Masih tentang berbicara kenyamanan timnya, menaiki lift pun kami ditemani oleh tim dari TransTV secara bergantian, dengan begitu, ga heran tiba di dalam ruangan acara suasana nampak riuh. Bukan karena suara blogger berdemonstran, melainkan ketika saya memasuki ruangan, sang MC (ah, maaf saya lupa nama MC keren itu ) sudah membuka acara. Sebelum memasuki studio untuk melakukan syuting pemutaran acara Indonesia Mencari Bakat, crew TransTV mengadakan workshop dengan blogger. Berbeda dengan workshop pada umumnya, kali ini kesan yang saya rasakan lebih santai dan ringan. Mungkin karena mereka masih muda-muda yaa? *ehhem. Jadinya, suasana yang terbentuk sangat hangat dan interaksi kami pun berjalan sangat menyenangkan. 

Acara Blogger Bicara Indonesia Mencari Bakat dibuka dengan pemutaran video profile Transcorp. Dari pemutaran video inilah, saya mengetahui  visi misi Transcorp. Dengan jajaran Board of Directornya yang kreatif, berkualitas dan ahli pada bidangnya, tak heran sejak tahun 2010 hingga tahun 2012 transcorp banyak meraih penghargaan-penghargaan dari berbagai kategori. Dan luarbiasanya lagi, transcorp lah yang memiliki sebuah studio dengan luas 900m2, dan satu-satunya terbesar di Indonesia saat ini. Wouw... keren abis. Selain itu, transcorp memiliki sebuah kekuatan terbesar dan terbukti mampu memberikan sebuah tayangan/ program yang kreatif, inovatif dan berkualitas. Apalagi kalau bukan In House Production. Sebuah tayangan yang diproduksi langsung oleh transcorp dan terbukti bisa menjadi tayangan paling digemari oleh lapisan masyarakat. Dats why, kalau usia-usia kepala 3an seperti saya, sepertinya ga bisa diterima lagi kalau ngelamar ke sana. Mereka benar-benar menjaga kualitas baik dari segi personil dan program-programnya. (*eh bukan berarti saya ga berkualitas juga lho ya :D).

Di balik IMB (Indonesia Mencari Blogger Bakat)

Setelah pemutaran video profile transcorp, kami pun diperkenalkan dengan crew Indonesia Mencari Bakat. Walau tidak satu-persatu bisa kami temui, tapi kehadiran sang produser IMB, mas Tegar sangat mewakili crew lainnya :). Dalam kesempatan ini, mas Tegar memberitahukan, bahwa acara Indonesia Mencari Bakat ini merupakan salah satu program "in house" alias asli diracik oleh transTV. Dan seperti kita tahu kapasitasnya seorang produser, tentu mas Tegar inilah menjadi orang yang sangat bertanggung jawab atas kelangsungan acara ini dengan kerjasama tim nya, agar mampu memberikan sebuah acara yang layak tayang dan bisa diterima oleh masyarakat. 

Kika : mas Tegar Bangun, Karel (detikcom), Sulistyo Hadi
Melalui sesi tanya jawab, Ari goiq aka Ari Pitax (blogger) memberikan pertanyaan yang spektakuler. Dia bertanya, "Bagaimana crew IMB memfasilitasi peserta yang masih aktif bersekolah dan memenuhi pendidikannya?" Sementara kita tahu bahwa salah satu peserta, Sandrina dari Bogor masih berusia 11 tahun dan seharusnya tetap melakukan aktifitas sekolah. Rasanya lega ketika mendengar jawaban crew IMB, bahwa untuk kepentingan pendidikan para peserta yang masih aktif bersekolah, mereka memiliki fasilitas home schooling. Hal ini tentu dikoordinasikan dahulu dengan pihak orangtua dan sekolahan yang bersangkutan. Syukurlah, ternyata crew Indonesia Mencari Bakat sangat memperhatikan soal pendidikan ini. Selain itu, mas Tegar juga mengatakan bahwa, karantina terhadap peserta masih dilakukan secara fleksibel, artinya, kapan dan siapa saja keluarganya yang ingin menjenguk, diperbolehkan untuk hadir ke tempat karantina. Tidak ada larangan mengikat. Tujuannya, agar peserta tetap memiliki semangat dan dukungan penuh dari keluarga dan orang-orang di sekitarnya. 

lalu ketika saya bertanya : "Sejauh mana crew Indonesia Mencari Bakat terlibat dalam suguhan bakat para peserta, apakah mereka dibiarkan explore sendiri penampilannya, atau ada koreografernya dari setiap bidang?" Mereka menegaskan bahwa seorang ahli sangat diperlukan untuk membantu bakat mereka semakin terasah. Untuk itu, setiap minggunya, suguhan yang mereka tampilkan tentu terbantu dengan para ahli yang mereka hadirkan, hal ini diharapkan agar para peserta mampu menjadi seorang yang profesional ke depannya.

Rasanya, waktu 1,5 jam berada dalam acara blogger bicara Indonesia Mencari Bakat dan sesi tanya jawab terasa masih kurang, pertanyaan dari blogger semakin lama semakin banyak. Sayangnya, karena waktu sudah menunjukkan persiapan untuk syuting di studio, acara blogger bicara pun disudahi dengan tantangan menulis cepat tentang acara hari itu (Blogger ko tantangannya nulis, bang? Tinggal merem aja jadi ko), *sombong wkwkkww. Sambil menunggu masuk ke studio, kami diijinkan untuk berfoto dengan para finalis Indonesia Mencari Bakat, yaitu : Street Pass Junior (dancers), Josua Pangaribuan, Abby Gallaby, Ardhy Dwiki Friananta (dancer), Sandrina Mazaya Azzahra (traditional dancer), Vina Candrawati (sand artist), Yohanna Harso (pole dancer).

Tampang serius para blogger pada saat games menulis
Bersama Yohanna, Finalis IMB (Pole Dancing) 
Bersama Ardhy, Finalis IMB (Dancer)
Foto : Olly
Siap-siap masuk studio TransTV - Indonesia mencari Bakat
Selesai bersenang-senang di workshop blogger bicara tentang Indonesia Mencari Bakat, kami pun mulai memasuki studio. Ruangan yang tampak gelap dan dingin karena AC siap menjadi saksi atas perhelatan malam itu. Ketika saya masuk, nampak Krisdayanti sedang melakukan gladi resik untuk penampilannya. Sayangnya, semua blogger harus duduk terpisah. Dan ini sangat merugikan. "Mengapa demikian?" Iya dong, ketika Omes sang pemandu acara bertanya tentang tanggapan blogger di acara IMB, yang muncul dan terekam kamera hanyalah (*lagi-lagi) Karel. Beruntung ada Fitri juga yang duduk di samping Karel. Nah, merugikan blogger lainnya kan? Jadinya ga semua blogger bisa terekam kamera TV. Wkwkkw. Sifat narsis blogger (saya) itu kan banci kamera, apalagi kamera TV. *gubrak, disorakin So'imah deh :P.

Karel, Omesh dan Fitri (foto : Crew TransTV)
Niatnya mau foto sendiri, eh ada yang langsung sadar kamera tuh
(foto : AR Mutajali)
Merasakan Ketegangan Peserta IMB


Berbeda dengan melihat penampilan mereka di layar televisi, saya pun tak bisa terhindar dari rasa tegang pada saat melihat penampilan mereka secara langsung. Bagaimana tidak, aura yang muncul ketika itu benar-benar terasa seperti aura perjuangan peserta. Sekalipun yang ditampilkan adalah sebuah hiburan, nyatanya ini memang kompetisi yang mengharuskan mereka memberikan penampilan terbaiknya. Ketegangan semakin bertambah ketika Vina Cadrawati menunjukkan kebolehannya. Kali ini Vina bukan lagi memberikan atraksinya menggambar di atas pasir, tetapi menguji keterampilan tangannya untuk memberikan sebuah gambar tokoh salah satu juri di atas papan hitam dengan berbahan dasar lem. Di akhir penampilannya, Vina menaburkan glitter emas ke dalam papan tersebut, maka terbentuklah gambar juri Titi Sjuman. Sayangnya, penampilan sesungguhnya tidak lebih baik dari penampilannya ketika ia gladi resik. Hasil gambarnya malah terlihat lebih mirip pada saat gladi resik. 

Peserta yang saya tunggu-tunggu selain Vinna, adalah Yohanna. Seorang atlet pole dancing. Jika bukan karena acara Indonesia Mencari Bakat, saya sendiri mungkin akan sangat ketinggalan sekali dengan informasi olahraga ini. Lagi-lagi, beruntung sekali saya pun bisa menikmati lenggak-lenggok Yohana di atas panggung. Kelenturan dan kekuatan ototnya, seperti membuat saya terbawa suasana yang dia berikan. Tariannya begitu indah dilihat, dan saya tidak berfikir ada unsur erotis dalam gerakan Yohanna. Bener-bener super keren.

Lalu, bagaimana dengan "si geulis" sandrina dari Bogor? Ga dipungkiri lagi, kelincahan dan keluguannya, mampu membuat Sandrina memiliki daya tarik tersendiri. Apalagi gaya bicaranya yang terkesan masih seperti anak usia 5 tahunan dan logat sunda yang masih kental. Tapi, dia sangat patut diapresiasi dan mampu bersanding dengan finalis lainnya tanpa melihat usianya yang masih belia. 

Hmmm... bakalan panjang kalau saya harus kasih komentar finalis lainnya (*ih, sok jadi juri). Jadi, biarkan saja para juri Indonesia Mencari Bakat menuntaskan kerjaannya ya :). Namun, jika saya simpulkan secara keseluruhan, finalis IMB ini sangat layak dan pantas berkompetisi untuk menjadi yang terbaik. Siapapun pemenangnya, itulah yang terbaik diantara yang terbaik.

Kerjasama Kompak dan Hangat 

Sebuah acara tentu tidak akan berjalan dengan lancar jika tidak ada kerjasama tim yang baik. Apalagi setiap isi kepala memiliki maunya masing-masing. Pada kasus umum, biasanya seorang leader akan sangat mencolok ke permukaan, dan sebagian lain menunjukkan sifat-sifat aslinya. Komunikasi yang kurang berjalan dengan baik tentu akan memicu hal-hal di luar dugaan. Tapi tidak dalam kerjasama tim dan crew Indonesia Mencari Bakat. Seperti saya tuliskan di awal, bahwa mereka begitu hangat menyambut kami. Hingga dalam pelaksaan acara live di studio, saya begitu nyaman dan sangat bisa merasakan aura kekompakan mereka. Sesuai dengan bidangnya masing-masing, para crew dengan sigap menjalankan tugasnya masing-masing. "Sedikit bicara banyak bekerja", dan kompak abis.  Yes, itulah mereka. Ten thumbs up for you all, gals :D *salam dari kami, Kumpulan Emak-emak Blogger

Emak-emak Blogger nonton bareng IMB (foto : AR Mutajali)

Testimonial

Testimonial - Indonesia mencari Bakat
(foto : Crew TransTV)
Senang sekali bisa hadir di acara 100 Blogger Nonton Bareng Indonesia Mencari Bakat. Bagi saya, ini sesuatu yang baru, dan saya sangat excited. Jika biasanya saya hanya bisa menonton acara ini melalui layar televisi, kali ini saya berkesempatan melihatnya secara langsung. Terima kasih TransTV dan BlogDetik. Selain bisa melihat proses syuting secara langsung, saya juga bisa bertemu dengan seratusan blogger. Tentu ini menjadi silaturahmi yang sangat berkesan. Karena dalam acara ini saya bisa bertemu dengan blogger-blogger yang hanya saling sapa di dunia online. Untuk itu, sebagai apresiasi terhadap undangan ini, saya sangat senang sekali membagi pengalaman ini kepada semua teman-teman blogger melalui blog pribadi saya. Semoga saja dengan begitu, teman-teman blogger dan masyarakat luas pada umumnya semakin tau bahwa Indonesia Mencari Bakat ini terlahir dari sebuah keinginan untuk dapat mengapresiasi seni dan bakat-bakat muda penerus bangsa. Bukan hanya sekedar tontonan hiburan, tapi semua ini merupakan karya yang patut dan layak diapresiasi, baik dari kreatifitas acara, kerjasama tim, dan kemampuan para peserta. Terima kasih *jempol

Begitulah kira-kira isi testimonial yang saya berikan sewaktu crew Indonesia Mencari Bakat meminta saya dan beberapa blogger menyampaikan unek-unek tentang acara hari itu. Semoga saja, silaturahmi ini terus berlanjut dan kiprah blogger semakin banyak diakui. Atau, seperti yang saya ajukan pada sesi tanya jawab. "Mungkinkah bisa dibuat program khusus Indonesia Mencari Blogger?" *Disorakin :)))

*****
NB : Sumber foto diambil dari fanpage TransTV

January 14, 2013

Amor Raja Ampat - Bawa Daku Kembali


Wayag - Raja Ampat (foto : Kris)
"Ada kisah yang tercatat dan tak mungkin terlupakan selama berada di suasana liburan Raja Ampat beberapa waktu lalu. Namun, apapun kisah yang terkenang, keindahan Raja Ampat mampu membuat saya terhipnotis, bahkan hingga detik ini. Keinginan untuk bisa menikmatinya kembali, tentu menjadi harapan besar bagi saya". Amor Raja Ampat
Setelah posting di tulisan sebelumnya, kali ini saya 'share' kembali tentang liburan ke Raja Ampat. Rasanya tak cukup dan akan selalu senang jika saya harus kembali mengulang setiap 'moment' yang saya dapatkan di sana. 

Raja Ampat, adalah sebuah surga bagi para traveler dan pecinta keindahan seperti saya. Kawasan tersebut adalah sebuah kabupaten yang di dalamnya terdiri dari empat pulau besar seperti Pulau Misool, Salawati, Batanta dan Waigeo. Dan saya bersyukur liburan kemarin bisa menjelajahi pulau Waigeo dan beberapa daratannya. 

Seperti yang saya tulis sebelumnya, bahwa saya dan rombongan sempat bermalam di daratan Acoliok (rumah pohon), lalu bermalam juga di pulau Kawe dan pulau Wayag. Walau belum sempat menikmati keindahan Missol, namun bisa menginjakkan kaki di Wayag menjadi moment yang tidak akan pernah terlupakan. Banyak yang bertanya pada saya tentang biaya perjalanan ini. Memang, menurut sumber yang saya baca di sini, biaya untuk bisa menikmati liburan ke Raja AMpat sangat tidak sedikit, bahkan lebih tinggi dibading liburan ke luar negeri sekalipun. Tapi, kali ini saya bersyukur karena biaya yang kami keluarkan tidak harus mencapai angka sebesar itu. Mengapa demikian?

Pertama, karena saya memiliki kakak ipar di Sorong yang hafal betul wilayah Raja Ampat, kami juga tidak perlu menyewa kapal pesiar untuk mengunjungi pulau-pulau, karena kaka ipar saya memiliki speedboat yang bisa kami naiki. Selain itu, ada sponsor utama dalam perjalanan ini, hehehe. "Ayo dong, Mira... jadi berapa biaya yang dikeluarkan untuk perjalnan indah ini?". Sabar, saya akan share ko.

Jadi... setelah saya tanyakan ke suami total biaya perjalanan ke Raja Ampat termasuk dana dari sponsor, adalah

Tiket PP Jakarta - Sorong sekitar 5jt (Sriwijaya air)
Hotel di Sorong mulai dari harga Rp. 300.000
Tiket Kapal Cepat Marina Express Sorong - Waisai Rp. 120.000/ orang
Bahan bakar speedboat 4 drum Rp. 3.000.000
Perbekalan sembako Rp. 2.000.000
Operasional tak terduga + Rp. 2.000.000

Nah, dilihat dari list tersebut, modal saya adalah hanya untuk pembelian tiket pesawat saja. Alhamdulillah, selebihnya ada sponsor yang berbaik hati. Tapi, kalaupun harus ditotal semuanya, dengan perjalanan kerabat ini (karena punya saudara di sana), sekitar Rp12 jutaan sudah bisa memenuhi perjalanan kami ke Raja Ampat, 10 orang.  Berbeda jauh dengan perjalanan menggunakan travel pada umumnya yang bisa memakan biaya hingga Rp. 30.000.000 (tiga puluh juta). Wooww... suami sahabat saya bilang, "mending dipake buat umroh duit segitu". Kali ini saya setuju soal itu, :D. Kecuali kalau saya sudah bisa nimbun duit segudang kaya para pejabat kita, ya merem aja ngeluarin duit segitu tanpa harus pusing kehabisan tabungan. 

***********
Kembali ke kisah raja Ampat...
Setelah bermalam hari pertama di rumah pohon daratan Acoliok - Waigeo Barat, esok harinya saya mulai menikmati salah satu pulau yang bernama pulau Ovu. Dari jauh mata memandang, nampak butiran pasir putih menggoda mata saya. Dan ketika menepi, pandangan saya pun lebih tercengang dengan air laut yang jernih dan terumbu karang yang indah sekali. Ah, nampak tak sabar, kami pun segera mandi (istilah berenang orang laut), dan mulai menikmatinya sambil terus bersyukur atas keindahan yang bisa dinikmati ini. 

Menuju Pulau Ovu (foto : Kris)
Pulau Ovu - Raja Ampat


Foto : Kris

Selesai menikmati pulau Ovu, esok harinya kami menuju pulau Kawe dan dilanjutkan ke pulau Wayag. Pulau ini terletak di Waigeo Barat. Salah satu pulau yang menjadi sasaran setiap pengunjungnya. Bisa saya katakan, bahwa pulau Wayag ini adalah belahan bumi terindah yang pernah saya lihat. Walaupun belum pernah juga lihat belahan bumi lainnya :D, tapi saya yakin, pulau Wayag ini adalah jantungnya dari Raja Ampat. Ketika sampai di Wayag dan belum sempat berganti pakaian renang, saya langsung menyeburkan diri ke dalam air laut yang begitu jernih dengan sejuta keindahan di dalamnya.


Foto : Kris



Saya dan Suami
Dirasa cukup walau belum puas, setelah nyebur di laut wayag, kami pun menuju salah satu puncak karang yang bisa didaki agar bisa melihat indahnya pulau-pulau kecil dan karang-karang yang menghampar di lautan. Sayangnya kali ini saya belum memiliki nyali besar untuk mendakinya. Melihat karang-karang tajam dan harus dilewati, akhirnya saya memilih untuk tetap di speedboat, sementara suami saya beserta kaka ipar saya naik ke atas puncak. Namun, setelah melihat hasil foto suami saya, saya cukup menyesal karena ga turut serta naik ke atas. Tapi tak apalah, tandanya saya harus bisa kembali ke sana untuk kedua kalinya. 

Suami saya mendaki puncak karang

Foto : Kris

Foto : Kris

Foto : Kris

Foto : Kris

Kaka Ipar saya & keluarga (foto - Kris)
Nah... cukup bikin mulut ternganga kan? :D. begitupun ketika saya lihat foto-foto ini ketika suami turun dari atas karang. Inilah yang saya sebut jantungnya Raja Ampat. Dari atas sinilah semua keindahannya bisa terlihat dan dinikmati. Sungguh nikmat mana yang bisa kita dustakan. dan sebagai apresiasi atas keindahan ini, janganlah pernah membuang sampah di sana agar senantiasa keindahannya tetap terjaga.

Selesai menikmati keindahan di atas puncak, kami menuju sebuah tempat dengan beberapa rumah kayu. Tepatnya sih itu kantor kawasan konservasi laut daerah Kawe, kabupaten Raja Ampat. Karena tempatnya yang nyaman, saya pun tidak ingin melewatkan sudut-sudut indah di tempat ini. 

Foto : Kris


Di tempat inilah kami menghabiskan malam pergantian tahun baru. Malam yang tak akan pernah saya lupakan. Di mana indahnya taburan bintang dan suara deru ombak yang silih berganti menjadi teman yang begitu dekat dengan jiwa saya. Saya dan suami duduk di sebuah kursi tepat menghadap ke lautan lepas. Sekalipun tanpa pemandangan yang nyata, namun kami sangat bisa merasakan indahnya malam di Raja Ampat. Hingga akhirnya waktu yang megantarkan saya ke tempat peraduan alias tidur, sementara suami saya bercengkrama dengan kaka dan kerabatnya. 

Kursi kayu tepat menghadap ke laut
Rasanya, tak terasa kami sudah menghabiskan beberapa hari di Raja Ampat. "Puaskah?" Belum. saya sendiri masih ingin berlama-lama di sana, namun sayang... kami juga meninggalkan anak-anak di rumah yang belom berkesempatan untuk kami ajak ke Raja Ampat. Kelak suatu saat Allah akan memberikan lagi jalannya, Amiin. 

Hari pertama di bulan Januari 2013 kami berkemas untuk meninggalkan Wayag. "Aah, sedihnya". Sungguh jika diibaratkan wanita muda yang sedang jatuh cinta pertama kalinya, itulah perasaan saya ketika harus meninggalkan wayag. Sedih, tak kuasa berpisah bahkan ingin menangis. Hihihi *lebay. Akhirnya kami pun keluar dari Wayag dengan segala cerita di dalamnya. 

Seperti ketika berangkat dari Acoliok ke Wayag, pulangnya kami pun mampir kembali ke pulau kawe untuk berpamitan dengan penduduk di sana yang sebelumnya sudah berkenan menampung kami dan menyambut dengan hangat. Di pulau ini juga mengisahkan hal tersendiri untuk saya. Ya, perjalanan dari pulau ke pulau Raja Ampat saya lewati dengan kisah-kisah tersendiri. 

Pulau Kawe - Raja Ampat
Selesai berpamita di kawe, kami pun melanjutkan perjalanan kembali ke rumah pohon (Acoliok). Namun sebelumnya kami sempat mampir di Selpele. Sebuah daratan/ desa di wilayah Waigeo Barat. Yang menarik ketika saya tiba di sana, penduduk Selpele sedang berpesta merayakan tahun baru dengan melakukan karnaval musik. Beda dengan Kawe yang sebelumnya terlihat tidak begitu ramai, tapi di Selpele ini suasana begitu hangat. mungkin karena Selpele ini sudah banyak penduduknya dan berwilayah perkampungan. 


Pesta perayaan tahun baru di Selpele, Waigeo - Raja Ampat
Sekitar 2 jam kami beristirahat di Selpele, sore hari kami pun kembali ke rumah pohon (Acoliok), waktu yang kami tempuh dari Selpele ke Acoliok sekitar 30 menit. Seperti kembali ke rumah, di rumah pohon inilah kami bermalam untuk terakhir kalinya sebelum kembali ke Sorong, dan saya sendiri kembali ke Jakarta. Esok hari dengan harapan baru, saya menikmati pagi di rumah pohon dengan perasaan lebih segar. Nampak sauara burung cendrawasih bersahutan seperti memanggil saya untuk segera terbangun. Di tepi sungai, burung belibis sedang asik mandi di tempat saya mandi. Ya, seperti yang saya katakan di postingan sebelumnya. Bahwa saya mandi di sungai terbuka dengan air jernih yang mengalir. 

foto : Kris
Untuk terakhir kalinya di Raja Ampat, saya ingat permintaan sahabat saya agar mengabadikan senja yang selalu menjadi bagian dari rasanya. Kebetulan di depan rumah pohon, ada pulau Mangali yang tak kalah indah untuk diabadikan. Pagi harinya, suami dan kakak ipar saya sudah mengambil gambar lebih dulu, namun saya memilih sore hari berharap bisa mengejar senja untuk  dipersembahkan kepada sahabat saya. 

Senja Raja Ampat (foto : suami Kris)
Jika tak ada nafas senja yang mengiringi langkahku
Maka siluet jiwaku tak akan pernah berwujud
Walau kini aku harus mencoba untuk merengkuhmu
Aku yakin semua yang kita rangkai akan terikat oleh waktu
Untukmu senja...
*****

Whiuff... akhirnya bisa saya selesaikan tulisan perjalanan liburan akhir tahun ini. Seperti yang saya katakan, tak akan pernah cukup membicrakan Raja Ampat. Magnet yang keluar dari setiap gugusan pulaunya tak bisa membuat saya untuk tidak berdecak kagum. Kali ini saya sangat bersyukur atas apa yang Allah berikan untuk saya. Perjalanan ini mengajarkan banyak hal, tentang sebuah pengharapan, keyakinan dan cinta. Amor Raja Ampat, Bawa Daku Kembali.

***********

Silakan klik icon FB di sebelah kiri ini kalau teman-teman ingin melihat koleksi foto Raja Ampat lainnya. Tapi sebelumnya, jangan lupa untuk "Like" dulu ya. *eh, ko jadi kaya iklan yak :D 




-> Cerita Raja Ampat sebelumnya "Yang Terkenang dari Raja Ampat"

January 10, 2013

Catatan Media

Blogpost ini tentang liputan media cetak dan online, aktivitas saya bersama teman-teman Kumpulan Emak-emak Blogger, dan beberapa kegiatan lainnya.

Rubrik tokoh dan buah hati - Nakita

Saya bersama Kumpulan Emak-emak Blogger di majalah NOOR

Liputan KEB di wartakotalive
Blog saya "Membuka Pintu Rezeki" - Leissure republika Online
Saya dan Kumpulan Emak2 Blogger di tabloid Wanita Indonesia

Kumpulan Emak2 Blogger di Majalah Sekar


Kumpulan Emak2 Blogger di rubrik mumsclub - majalah Mother & Baby

wawancara female radio tentang Kumpulan Emak2 Blogger