February 27, 2013

Samsung, Inspirasi Dunia, Menciptakan Masa Depan


Pernah menghadiri sebuah event gadget dan elektronik? Saya yakin semua teman-teman pernah menghadirinya. Sama seperti saya yang saat ini sedang berada di acara Samsung Forum 2013 bertempat di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta Pusat. Pada umumnya sebuah pameran akan menghadirkan produk-produk terbaru dan unggulannya, sehingga tak jarang memancing setiap mata yang hadir untuk bergerak mendekatinya. Dan kali ini, saya mesti menghela nafas dulu. "Why?" Karena saat ini perasaan saya ga karuan, bo. Samsung bikin saya pengen menjerit, terutama untuk produk-produk yang memang saya incar sejak lama....

February 26, 2013

Belajar dari Sosok Lain


Ini tentang seseorang...
Wajah yang dihiasi dengan keriput di mana-mana, uban yang tak lagi menutupi hitamnya rambut, Bahkan bisa saja, fisik yang tak lagi kuat, pantas jika panggilan "Kakek" disandingkan untuknya. Walau benar adanya, wajah tua yang pantas dipanggil kakek itu,  tak serapuh yang dibayangkan. 

Sebuah kamera Nikon D50 yang selalu menemaninya ke manapun dia pergi, menjadi ciri khas yang melekat padanya. Ya, kamera itulah salah satu barang yang seolah membawa keberutungan untuknya. Sesekali pula, dia harus menggunakan kacamata, entah minus atau plus, untuk membantunya membaca sebuah artikel atau menuliskan sesuatu. Memulai aktifitas dalam sebuah situs blog keroyokan, dan rajin mengikuti acara kopdar, Kakek tersebut kian dikenal karena hobinya dalam dunia foto. Tak jarang, setiap acara berlangsung, sosoknyalah yang kerap kali dimintai untuk memotret. Pantas pula, pada akhirnya, karena semangatnya berkarya, panggilan "Ayah" lebih pas untuknya....

February 25, 2013

Just Is




Malam, selalu menawarkan keheningan yang setiap kali menikmatinya, mampu membangkitkan inspirasi yang tak tertahankan. Sama seperti halnya saya malam ini, yang tak kunjung terlelap atau sekedar ingin merebahkan tubuh. Pikiran ini terbawa angan jauh, walau saya sendiri tak mampu menyadari sepenuhnya. Dan sebelum temans melanjutkan baca tulisan ini, sambil dengerin lagu dalam video di atas, yuk. Tulisan ini pun tercipta karena lagu yang indah ini.

"Just Is..."
Semenjak mengikuti seminar dengan tema "Nafas Damai" yang berdasarkan pada self awareness, Auk Murat network tahun lalu, kata itu kian semakin lekat di hati saya. Seolah mampu mewakili apa yang menjadi ketidaknyamanan di hati, "just is" cukup menyiratkan apa yang tak dapat terucap maupun terungkap. Ada beberapa teman yang sempat mengenal hal ini, mereka adalah Aya, Stevie dan Egy. "I hope you always on the best of health, girls." Dan bagi yang belum tau tentang pemahaman "just is", kata ini bisa menjadi sangat biasa, toh kalau diartikan dalam pemahaman Indonesia, just is bisa diartikan "sudah cukup". 

Trus, apa yang mendasari saya menuliskan semua ini? 
"Hmm...," melepaskan sesuatu yang kita cintai, tentu terasa berat ya? Tapi sadar atau tidak, terkadang Tuhan ingin kita berbesar hati dengan semua itu. Sekalipun kita terus mempertahankannya, jika yang terbaik harus dilepas, maka ikhlaslah melepasnya. Akan ada kesedihan, dan akan ada pula suatu waktu yang membuat teringat selalu pada saat memilikinya. Tapi, jika keikhlasan itu saya sandarkan penuh pada Sang Pencipta, maka yakinlah bahwa DIA akan menggantinya dengan lebih baik. Ini bukan tentang kehilangan seseorang, ini tentang bagaimana saya agar mampu lebih bijak dalam menyikapi kehidupan, terutama dalam menjalani sinergi bersama keluarga. Yang saya tahu, jika saya mampu melepasnya dengan ikhlas, maka tak perlu lagi ada ekspektasi, "right?"

Saya enggan menolak rasa ini, karena jika diri ini menolak, maka kemungkinan-kemungkinan yang tidak baik akan terus menghantui saya. "Ya, saya menerimanya." Karena just is berarti menerima segala sesuatu yang terjadi atau sedang terjadi dengan kelapangan hati. Dalam arti yang lebih khusus, ikhlas. Dan kali ini, dengan penuh pengharapan serta keyakinan akan kuasaNYA, saya memohon pada pemilik Dzat, agar ikhtiar ini dimudahkan jalannya, serta diridhoi. Saya yakin, perhitunganNYA jauh lebih detil dibandingkan perhitungan yang saya miliki. "God knows we're worth it, and  I won't give up."

February 18, 2013

Hai Suami...


Pagi ini, tiba-tiba begitu banyak inspirasi yang ingin diungkapkan. Ini bukan tentang aku, meskipun sebagiannya aku rasakan. Ini adalah tentang rasa seorang perempuan, istri dan juga ibu, yang telah merelakan dirinya untuk menjadi pengabdi cinta bagi keluarganya, suami dan anak-anaknya. Ya, kalian semua yang menginspirasi tulisanku pagi ini, wahai perempuan.

Gambar : google
Tak banyak yang dapat terucap dari seorang perempuan, apalagi ketika ia telah berstatus istri atau ibu. Nalurinya akan selalu membawa ia pada sebuah rasa yang tulus, ingin selau memberi tanpa imbalan yang berlebihan, tapi tahukah kalian para suami? Tak jarang, jeritan hati mereka terdengar begitu sunyi di hadapanmu, bahkan nyaris tak terdengar. Karena apa? Karena mereka begitu mengerti apa yang harus mereka lakukan tanpa perlu berurai airmata di depanmu. Mereka hanya mengerti tentang sebuah kata, "give, and giving."

Hai Suami...
Dalam wajah yang kini mulai terlihat keriput sedikit demi sedikit, ataupun fisik yang mulai kelelahan, ingin rasanya diri ini tetap menerima belaianmu dengan rasa yang sama ketika kau membelaiku pertama kalinya, jangan pernah hilangkan kebiasaanmu untuk selalu mengecup keningku saat kau hendak melangkahkan kakimu untuk menunaikan kewajibanmu mencari nafkah. Walau selama 24 jam melayanimu dan anak-anak, hati ini akan selalu nyaman dan tentram ketika melihat sapaan sayangmu melalui SMS atau BBM, atau sekedar pujianmu pada masakanku yang tidak terlalu istimewa. Tahukah kau? Itulah kebahagiaan yang indah. 

Suami..
Menghadapi tingkah anak-anak dengan segala keunikannya, tak jarang membuat raga dan rasa ini kehilangan kendali. Ingin rasanya saat itu juga menjerit dan melampiaskan semuanya. Tapi apa yang bisa dilakukan selain tetap mendampingi mereka setiap saat? Memberinya kasih sayang, membantu mereka memenuhi segala kebutuhan makan dan sekolahnya. Belum lagi menemaninya untuk mengerjakan PR dan bermain. Saat raga ini mulai mengharapkan haknya, masih ada kewajiban lain yang harus dipenuhi ketika menyambutmu pulang dari kantor. Cukup sampai di situ? Belum suami. Saat kau dan anak-anak terlelap di malam hari, raga ini selalu terbangun untuk menunaikan kewajiban lain, menyetrika ataupun menyelesaikan tugas-tugas tertunda di siang hari. Bolehkan istri mengeluh? Ya, kami mengeluh. Tapi bukan padamu, suami. Di balik keluhan yang terucap, selalu teriring doa dalam sujud di pergantian malam menjelang pagi.

Suami...
Harus disadari, sebagai seorang istri, keinginan untuk menuntut ini itu tetaplah ada. Dan tak perlulah ada kemunafikan untuk semua itu. Tapi mohon maklumilah, karena perempuan adalah penyuka keindahan. Namun tahukah kamu, suami? Ketika semua itu belum terpenuhi, alam bawah sadar ini cukup membawa diri ini pada sebuah pemikiran akan penerimaan yang sangat ikhlas. Jika ada ucapan atau perkataan yang terlihat penuh penyesalan, percayalah... itu bukan yang sebenarnya. Memang, mimpi besar itu selalu ada, dan tak bisa dipungkiri, harapan untuk memenuhi itu semua masih tertuju lewat dirimu. Tapi yakinlah bahwa doa-doa yang selalu dipanjatkan di setiap sudut malam, adalah salah satu jembatan yang membantu terwujudnya mimpi bersama. Untuk itu, janganlah pernah kau menganggap apa yang kau berikan adalah murni dari keringatmu, karena di balik itu semua, selalu ada doa yang mengiringi langkahmu, di sebuah tempat yang bernama, rumah.

Suami...
Percaya atau tidak, mitos tentangmu akan peralihan masa puber bisa nyata adanya. Ada saatnya kau tak mampu membendung rasa lain yang hadir dalam hatimu, dan itu bukan lagi untuk istrimu. Jikalau hal itu terjadi, siapakah yang patut dipersalahkan? Haruskah semuanya diakhiri dengan perpisahan? Ah... tentu, setiap istri harus siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Termasuk ketika keduanya lengah, hingga hadirnya orang ketiga dalam biduk rumah tangga. Sedih, sakit, marah? Tentu. Istri dengan segala kelembutannya, jika dihadapkan pada situasi seperti ini, biarkanlah ia ungkapkan semuanya di depanmu, berikan ruang bicara yang leluasa dan rendahkan sedikit hatimu untuk mendengar. Karena setelah itu, istri akan kembali memelukmu, membelaimu, mendoakanmu, bahkan lebih mencintaimu dari sebelumnya. Dan luarbiasanya, sekalipun sulit untuk melupakan, rasa tulus itu tetap bersemayam indah dalam hatinya. Mereka akan terus memberi dan memberi. Mengertikah kau sejauh itu, suami?

Suami...
Sedih dan bingung ketika ada suatu waktu melihatmu tak berdaya karena kelelahan. Ingin rasanya menggantikan posisimu yang meraung karena sakit. Nyatanya, kaupun manusia biasa dengan segala keterbatasan. Sebagian istri, akan memperhatikan dengan sepenuh hatinya dengan berada terus di dekatmu. Tapi sebagian lagi, mereka harus ekstra keras menunaikan kewajiban untuk membantumu mencari nafkah sambil tetap merawatmu. Tapi janganlah kau berpikir mereka tak memperhatikanmu. Di sela-sela kesibukannya di luar rumah, rasa cemas dan resah mengiringi langkah mereka. Hanya perlu kau tahu saja, mereka yang tidak bekerja kantoran atau yang bekerja kantoran, selalu menyelipkan doa tulus dalam setiap nafasnya, tak terbatas. Selalu, dan selalu untuk suami beserta anak-anaknya. Bahkan, kaupun tak perlu repot mengurus istrimu yang meraung karena kesakitan menjelang haid bulanan, atau sedikit demam dan penat karena kecapean. Sadar atau tidak, seorang istri mampu merawat dirinya sendiri dengan kekuatan cinta yang ada dalam dirinya. Mereka lebih memilih untuk selalu tersenyum dan tetap melayanimu, sekalipun sakit fisik yang tak tertahankan. Apakah kau tau itu, suami?

Ini adalah sekilas bentuk doa dan ungkapan sayang yang mungkin saja ingin diungkapkan oleh para istri. Entah darimana sumbernya, tapi tak ada salahnya aku membaginya di sini ya.

Kepada suamiku
aku ingin mencintaimu dengan indah
Seperti indahnya taman surga
Kepada suamiku
Aku ingin mencintaimu dengan lembut
Selembut sutra dan tetesan air mata
Kepada suamiku
Aku ingin melihatmu dengan tenang
Setenang mentari dan sinar pagi
Kepada suamiku
Aku menyayangimu
Seperti sayangnya kau terhadapku

Suami, oh suami...
Engkau selalu dipuja, didoakan dan selalu mendapat tempat yang layak di hati istri.
Sayangilah istrimu, isilah tangki cintanya dengan segala rasa yang kalian miliki.
Tulisan ini untuk semua sahabat perempuanku, semoga bermanfaat.

February 09, 2013

Aku dalam Siluet Senja


Aku dalam Siluet Senja
(Setiap foto dipaparkan dalam huruf yang bertanda miring dan bold) 

Foto dokumen pribadi oleh suami @Kris | lokasi : Raja Ampat

Dalam hidup, nafas terbesar kita adalah cinta. 
Cinta pada sang Ilahi, cinta pada keluarga, kerabat maupun teman. 
Tahukah kamu, bahwa sejauh mata memandang
akan selalu banyak harapan dan kesempatan yang bisa kita raih, 
selama mampu menempatkan diri secara seimbang (duduk sama rendah, berdiri sama tinggi), 
maka hidup pun akan semakin indah layaknya sebuah jemari lentik yang sedang menari-nari. 

Aku selalu bermunajat kepada Sang pemilik Dzat, 
bahwa setiap langkah yang kutempuh adalah sebuah proses pembuka harapan
agar senantiasa aku bisa tetap berdiri. 
Berdiri dengan keyakinan akan kekuasaanmu, seraya terus berikhtiar. 
Dengan begitu, aku tak perlu lagi melihat ke belakang atas apa-apa yang telah terjadi.  
Aku siap menanggalkan masa lalu yang tidak baik, dan meniupnya jauh dalam kehidupanku.

"Postingan ini diikutsertakan di Narsisis-Artistik Giveaway."

February 08, 2013

Gayaku, Gayamu "Woii..."


"Bahasamu, ya gayamu. Bahasaku ya, gayaku"

Begitulah saya menempatkan aura positif ke dalam penerimaan saya terhadap sesuatu yang kurang nyaman ketika sedang berdialog dengan teman.

Bukan hal yang perlu saya permasalahkan sebetulnya ketika seseorang menyapa saya baik melalui online di social media, bbm, sms, maupun chat di dunia maya dengan gaya khas masing-masing, karena tentunya kita semua memiliki kebiasaan dan karakter sendiri-sendiri dalam mengaplikasikannya. Tapi lain ceritanya ketika kebiasaan itu justru belum pas dengan kebiasaan yang kita lakukan sehari-hari. Memanggil dengan nama tertentu secara umum (misal "mak" atau "say"), atau sekedar simbol "Buzz" di YM, "Ping" di BBM, adalah salah satu gaya yang telah disediakan oleh pemilik fasilitas. "Lalu, apa sih yang menjadi masalahmu, Mir?"

*Senyumsimpuldulu

Jadi gini, saya memiliki beberapa teman dan sahabat yang dekat dengan saya. Tentu bahasa kami pun sudah melebur satu sama lain. Tak jarang candaan dan gelak tawa serta keluh kesah mengiringi pembicaraan kami. Terkadang, tanpa diduga, kami bisa saling merasakan energi yang kami rasakan saat itu. Hanya saja, lagi-lagi ini soal kebiasaan aja ko. Saya ini ga terbiasa mendengar sapaan melalui kata atau tulisan "Woii", rasanya seperti maling yang sedang dikejar-kejar. Saya ga mau munafik, mungkin dalam beberapa percakapan saya dengan teman atau sahabat, saya pun pernah melontarkan kata itu, tapi bukan untuk awal sapaan. Semoga saya sendiri ga khilaf, kalau khilaf, maka tegurlah saya. Dan saya menyesalkan panggilan "woi" itu justru keluar dari beberapa teman yang termasuk dekat dengan saya. yang pertama terjadi beberapa waktu lalu, dan kedua kemarin. Berasa rendah banget deh :(.

"Lho, terus kenapa ga bilang langsung aja sama yang bersangkutan?"

Beginilah sisi lain saya. Ada saat-saat saya bisa mengungkapkan apa yang menjadi ketidaknyamanan saya, tapi di sisi lain saya lebih memilih untuk diam. Apalagi kemarin saya sedang dalam kondisi yang ga nyaman alias gelisah karena mendengar kabar bahwa suami saya dirawat di RS, di Papua sana. Praktis telpon dan beberapa BBM belum sempat saya jawab (mohon maaf ya). Semoga saja tulisan ini bisa mewakili apa yang saya rasa. Jika pun teman saya membacanya, mohon maaf jika kurang berkenan. Tapi saya ga marah ko, hanya waktunya kurang pas aja.

February 07, 2013

#Kopi dan Sahabat


Tentang sebuah #Kopi yang tiba-tiba terangkai oleh 2 sahabat dalam 140 karakter di twitterland.  Ungkapan spontan yang akhirnya bisa dijadikan sebuah ilutrasi fiksi.

****************

irma susanti ‏@irMairMasenja
Kamu, membuatku jatuh cinta pada coffee...shrsnya km tahu kalo ªƘʊ tdk blh berpaling dari cinta sejatiku #juice cc: @ayankmira *nyeruputkopi

Mira Sahid ‏@ayankmira
@irMairMasenja Aku tak pernah memaksamu untuk berpaling dengan apa yang aku suka. Nyatanya, kau pun menikmati setiap aromanya. #Kopi

irma susanti ‏@irMairMasenja
@ayankmira itulah aq,îƞî tdk membuatku baik-baik saja.Kdg terjaga sepanjang malam.nyatanya aromany membuatku jth cinta,menagih dan lagi#kopi

Mira Sahid ‏@ayankmira
@irMairMasenja Nikmati saja. Jk kau merasakan demikian, akupun. Rasa yg membuncah di awal pertemuan itu, kian semakin menggoda adanya #Kopi

irma susanti ‏@irMairMasenja
@ayankmira bisa jadi îƞî rasaku yg baru, atau hny candu sesaatku. Kunikmati sprti malam îƞî,aromanya rasanya. #kopi

Mira Sahid ‏@ayankmira
@irMairMasenja Jgn ktkn aroma itu hny candu sesaat, krn itu akan membuatmu smkn trlena. Ingat bgmn aku sgt menikmati setiap tegukanya? #Kopi

irma susanti ‏@irMairMasenja
@ayankmira sesaat krn ªƘʊ tdk ingin aroma îƞî selamanya mengikat.Nikmati selagi waktu berpihak untuk secangkir atau beberapa teguk saja#kopi

Mira Sahid ‏@ayankmira
@irMairMasenja Ya, sayangnya aroma itu trll rekat kuikat. HIngga kusadari, aromanya tak lg membuat adrenalinku bergetar. Aku ttp bth #Kopi
============
irwan purwantara ‏@ir1pur1tara
Kopi itu urusan hati, aromanya mengikuti arah nurani, gak bisa diprediksi.RT @ayankmira: @irMairMasenja Ya, sayangnya aroma itu trll rekat kuikat. HIngga kusadari, aromanya tak lg membuat adrenalinku bergetar. Aku ttp bth #Kopi

irma susanti ‏@irMairMasenja
@ir1pur1tara @ayankmira kopi tak melulu soal hati,bagiku #kopi hanya soal rasa pd indera pengecapku. Tidak sedalam rasaku pada #juice
============

irma susanti ‏@irMairMasenja
@ayankmira puaskan dahagamu, usah terlalu erat mengikat hingga indera perasamu menagih dan ∫ªğΐ. Aroma akan ttp nikmat jk secukupnya#kopi

Mira Sahid ‏@ayankmira
@irMairMasenja Hmm, ya. Aku tau bgmn memilah saat yg tepat utk menghirup aroma yg pas untukku, sprt mlm ini, aromanya menemaniku #Kopi

irma susanti ‏@irMairMasenja
@ayankmira kopi atau sesuatu yg serupa ia bagimu? Hangat yg menghangatkan hati ? #kopi

Mira Sahid ‏@ayankmira
@irMairMasenja Kali ini aku ingin sesuatu yg nyata di depanku. Walau aroma serupa lainnya membersit dlm naluriku. Hmm, nikmat #Kopi


Foto dok pribadi
Selasa yang lalu sekitar pukul 10 malam, ada mention di twitterku dari akun yang bernama @irmairmasenja. Ga heran, karena saya dan dia kerap kali tidur larut, sampai akhirnya terciptalah semacam twitwar (*halah), eh twitlove kali yak. Bukan deng. Lebih tepatnya, syair berbalas secara spontan gitu ya :). *Ga usah aneh tentang kami, kami memang soulmate :P. *Ditimpuk
Begitulah kira-kira. Kalau dibikin fiksi bagus ga? Coba neng Irma, dikunyah dulu ini isi TL :)))

February 06, 2013

Belajar dari Ketidaktahuan


Sebagai manusia yang diciptakan dengan segala kekurangannya, tentu ada banyak yang perlu kita pelajari dari sebuah proses yang bernama kehidupan. Jalan yang terlihat panjang dalam pandangan kita, walau kenyataannya tak lebih dari satu kedipan mata bagi Sang pencipta, telah menjadikan manusia dengan keunikannya masing-masing.

Layaknya gelas kosong tanpa isi, begitulah adanya kita ketika hadir di muka bumi ini. Perlahan setitik demi setitik air mulai dituangkan ke dalam gelas. Walau ada sebagian orang yang memilih untuk menuangkannya secara langsung, tanpa peduli gelas itu sudah terlalu penuh. Itulah manusia, mereka memilih caranya masing-masing, termasuk ketika melewati kisah demi kisah dalam menapaki ruas jalanan yang seolah tak berujung.

Hidup, selalu menawarkan kesempatan, harapan dan impian. Termasuk ketika di dalamnya ada banyak kerikil yang harus kita lalui. Tak jarang dari kita akan tersandung, dan banyak pula yang akhirnya masuk ke dalam lubang yang sama. Inikah hasil atas cara yang mereka pilih? Tentu. Seperti hukum tanam-tuai (the law of harvest), siapapun akan mendapatkan apa yang telah ia tanam. 

Aku tahu, bahwa selama nafas ini terhembus dari rongga dada, maka disitulah partikel kehidupan akan selalu tertata dengan bijak. Tatkala sandungan demi sandungan menghampiriku,  seringkali aku harus menghela nafas dengan sangat panjang untuk sekedar memahami apa yang menjadi resahku. Terkadang, aku mampu memilahnya secara bijak, tapi sebagai manusia biasa, aku pun tak luput dari carut marut amarahku sendiri. "Hmmm.... lelah rasanya jika aku semakin membuka piluku."

Aku menyadari, beberapa hal di dunia ini amat sulit bahkan sangat mustahil untuk disembunyikan. Seperti katamu, "aku adalah si kuat yang lemah." Tapi, tahukah kau?, aku bahkan kamu, mampu menjadi semakin kuat ketika kita menyadari ketidaktahuan kita, dan merubahnya sebagai sebuah momentum untuk memperbesar langkah kita. Adapun sebelumnya kita tertatih dan terjatuh, ketidaktahuanlah yang memberikan kita kekuatan. Aku menjadi seorang pembelajar hidup melalui ketidaktahuanku. Dan aku semakin mencari tahu bagaimana sebuah proses menghantarkanku pada sebuah imaji yang terindah, yang terukir dalam sebuah sudut yang bernama hati. 

Just is...
Berdamailah dengan hatimu. Terimalah apa-apa yang menjadi resahmu sebagai cambuk atas pilihanmu. Begitupun aku. Selayaknya menata kembali partikel yang tercerai berai, menjadikannya sebuah puzzle kehidupan yang terpasang indah di sudut dinding kehidupan. Sambutlah masa-masa ketidaktahuanmu dengan lebih bijak, karena "Tak ada Dekar yang Tak Bulus."

image by google

February 05, 2013

Kamu, Stalking ?


Sosialita seperti selalu menawarkan hal-hal baru setiap harinya, tak terkecuali dengan dunia social media yang menjadi jembatan bagi semua orang untuk mengungkapkan isi hatinya. "Salah ga sih kalau kita menganggap socmed sebagai rumah online yang mewakili adanya diri kita di dunia maya?". Tanpa kita sadari, semakin hari kita akan semakin larut dengan keasikan bermain di dunia maya ini, satu sama lain bisa saling mensupport secara positif, namun tak bisa dihindari, hal-hal negatif pun sering terjadi di sana.

Beberapa waktu lalu, istilah "stalking" lekat sekali di telinga saya. Pikir saya, "apaan sih, stalking?, ko tweeterland rame banget dengan istilah ini." Entah kebetulan atau bukan, sambil mencari-cari titik pas istilah ini, ada sedikit tragedi yang membuat saya terhubungkan dengan si "stalking" tersebut.

Menurut sumber yang saya baca di sini,

Stalking adalah kata yang digunakan dalam menunjuk pada suatu perhatian yang tidak diharapkan dari seseorang atau mungkin sekelompok orang terhadap orang lain. Dalam dunia psikologi sendiri kata stalking digunakan untuk mendefinisikan suatu bentuk perilaku yang cenderung bersifat gangguan, hal ini juga digunakan pada bidang hukum dimana stalking didefinisikan sebagai salah satu bentuk tindakan kriminal. Pada awalnya stalking digunakan dalam mengartikan tindakan mengganggu yang didapati oleh para orang terkenal, seperti selebritis, dari seseorang yang tidak ia kenal dimana orang tersebut yang mana para pelakunya telah memiliki suatu bentuk obsesi tersendiri kepada para korbannya. Hal ini pertama kali digunakan dalam sebuah tabloid di Amerika.

"Sudah jelas kan?," istilah bahasa sehari-harinya, stalking mungkin bisa dibilang seperti orang yang kepengan tau an tentang seseorang, tapi dia tidak memperlihatkan secara terang-terangan. Misalnya : Si A belum kenalan dengan si B (tapi si A cukup tau tentang si B), tapi entah karena ga suka atau sirik, si A ini terus mencari tau/ mancari info tentang si B, tujuaanya ya supaya dia tau apa-apa aja yang dikerjain si B. *kepo an kali yak :D. Kalau di luar negeri, stalking itu bisa dilaporkan karena bisa dianggap perbuatan yang kurang menyenangkan, alias ga bikin nyaman. " Kalau di Indonesia, gimana?" coba temen-temen kasih opini ya.

"Pernah ngalamin atau punya temen yang suka stalking gak?"
Dijamin, sangat tidak meng enakkan sekali. Apalagi kalau sebelumnya kita pernah tau seseorang tersebut dengan karakternya. Yang ada, ketika dia seolah menjauh dari kita, kenyataannya, dia justru sedang mengangkat jurus stalking.

February 02, 2013

Bersahabat dengan Noda


Bayangkan, jika sebuah kain sutra lembut berwarna putih tiba-tiba terkena tumpahan air kopi. Apa yang  kamu fikirkan? Atau, bayangkan jika sucinya mahligai rumah tangga ternodai dengan kisah pilu yang menyayat hati. Apa yang kamu rasakan?

Kedua perumpamaan itulah yang akan saya sharing kali ini, ketika sebuah noda mulai hadir di tengah-tengah kehidupan kita. Tentu akan banyak makna, akan banyak pengalaman dari setiap noda yang kita terima. Sanggupkah kita menerimanya sebagai sebuah pembelajaran hidup, lalu bersahabat dengannya?

Foto kanan sumber : di sini
Kamis, 31 Januari 2013 lalu, saya bersama Kumpulan Emak Blogger hadir di acara peluncuran buku Fira Basuki, "Cerita di Balik Noda", bertempat di restoran Kembang Goela - Jakarta Pusat. Sebelum hari pelaksanaan, undangan melalui dapur KEB sudah masuk jauh-jauh hari. Itulah sebabnya, banyak yang tertarik dan ingin hadir di acara ini. Yang tadinya mas Benny (Prodigy) hanya meminta perwakilan maksimal 10 orang, saya terpaksa minta kuota tambahan. Dan alhamdulillah, dari 15 yang terdaftar, 99% hadir semua.

Berhubung KEB sendiri sering mendapatkan undangan launching, maka saya pun tidak berharap terlalu jauh dalam acara ini. Yah, dateng, register, launching, makan, pulang (bawa goody bag) deh. Dan betul, hal serupa saya dapatkan di acara ini. Sayangnya, kali ini saya sedikit meleset tentang kelancaran dan konsep acaranya. Karena ternyata, banyak kesan yang saya dapat di sini.

Memasuki restoran Kembang Goela yang tampilannya sederhana dari luar, sempat membuat saya ragu tentang suasana di dalam. Namun kesederhanaan itu akhirnya terpatahkan ketika saya memasuki ruangannya. Suasana sudah ramai, namu tetap nyaman, hangat dan menyenangkan, saya rasakan betul di dalamnya. Apakah ini karena energi dari orang-orang di dalamnya positif semua? Saya selalu meyakini itu. Nampak wajah-wajah cantik dari EO menyambut kami dengan ramah. Di sebelah kanan pintu masuk, ada beberapa anak kecil yang sedang bermain gundu dan congklak dengan mengenakan kaos putih. Lalu sebelah kiri pintu masuk, ada wall of fame berisi cap tangan para tamu undangan (kayanya tamu ditantang nih, berani kotor ga, tangannya?). Saya sendiri sih memilih ambil spidol dan menuliskan sedikit quote di situ. *Bukan ga mau kotor-kotoran, kan memang dikasih 2 pilihan, hihihi, ngeles.

Sekitar pukul 10 pagi, acara pun dimulai. Backsound suara MC di salah satu sudut terdengar membuka acara. Suaranya sangat familiar di telinga. Dan ternyata, Irma yang duduk di sebelahku lebih mengenal suara tersebut. Yup, itu suara Alvin yang suka muncul di acara "Just Alvin", katanya.

Sitok Srengenge (foto : Fita Chakra)
Lalu muncul seorang pria dengan pakaian cukup nyentrik (di usianya), berjalan menuju panggung. Entah apa yang beliau akan lakukan. Oh, ternyata beliau akan membacakan salah satu cerita yang ada dalam kumpulan kisah inspiratif buku cerita di balik noda. Judul yang dibawakan adalah "Tak Jadi". Kalau secara keseluruhan, saya sih menyimpulkan cerita itu, cerita yang banyak ditemui dan dialami oleh pasangan suami istri. Dimana seorang suami melakukan perselingkuhan, akhirnya istrinya tau, marah besar, karena anak mereka, akhirnya mereka rujuk kembali. Yang menjadi beda dari cerita ini adalah ketika Sitok Srengenge, seorang seniman teater membacakan cerita itu dengan penghayatan dan ekspresi yang di atas rata-rata. Saya berani katakan itu, karena saya jamin semua undangan yang hadir di sana pasti tersentuh dengan isi cerita tersebut. Lah, saya aja udah ngembeng ko :). Keren banget pokoknya.

Selesai mas Sitok membacakan cerita "Tak Jadi", Alvin (MC) pun memasuki panggung dan membuka acara. Fira Basuki dengan gaun berbahan sutra warna putih tulang nampak cantik dengan sentuhan kalung dan bando berwarna gold.

Foto : Fita Chakra
Dalam workshop dan peluncuran buku ini, tema "Noda" menjadi sasaran utama bagi Fira sendiri dan juga bagi sebuah brand sabun cuci yang selama ini mendukungnya, yaitu Rinso. Keduanya percaya bahwa dalam setiap "noda" terdapat nilai penting dalam perkembangan dan pertumbuhan anak-anak. Sementara Rinso mengajak orangtua untuk memberikan anak-anak kebebasan dalam mengekspresikan kreativitas mereka melalui eksplorasi dan membiarkan mereka merasakan masa kanak-kanak dengan leluasa meskipun jika harus membuat pakaian mereka menjadi kotor, di lain sisi, Fira pun ingin menyadarkan para orangtua bahwa anak-anak adalah sumber kebijaksanaan hidup yang tak pernah kering jika kita mau melihatnya dengan cinta.

Nah, buku Cerita di Balik Noda inilah sebagai salah satu media bacaan untuk orangtua, khususnya ibu, agar mampu melihat lebih dalam lagi tentang pandangan sebuah noda, sebagai hal-hal yang akan menjadi acuan kebijakan kita dalam menentukan langkah. Tak selamanya noda (kotoran) itu akan merugikan kita atau membuat anak sakit, dan tak selamanya noda kehiduapn yang mampir dalam kehidupan kita sebagai pemutus gerak langkah kita. Selayaknya hal tersebut mampu menjadi inspirasi dan dapat lebih banyak memberikan hikmah yang lebih positif untuk pembacanya. Dengan begitu, kita akan bisa bersahabat dengan noda.

"Well, nampak seru kan?". Beli deh bukunya, harganya sangat terjangkau, ko.

Semakin siang, saya pribadi mendapatkan banyak pelajaran dari acara ini, karena Ibu Sani B Hermawan, seorang psikolog mampu memberikan tambahan mengenai sisi positif dari sebuah noda, khususnya bagi anak-anak. Lengkap, gelas kosong saya mulai terisi lagi di acara itu :D.

Selanjutnya apa?
Ada doorprize dan games. Nah, untuk games yang menang tentu dari KEB, hihihi, *langganan. Tapi sayangnya, tiap kali doorprize, yang menang selalu para jurnalis itu yaa? *ah, semoga memang tidak ada niat membeda-bedakan kasta blogger dengan mereka.

Acara selesai, dilanjut dengan makan siang. "Percaya ga?," nampaknya semua undangan di situ ga ada yang kelaperan deh, soalnya setiap makanan yang satu habis, pelayannya dengan sigap mengganti lagi dengan yang baru, daaan... makanannya enak-enak semua, bo :D

Suasana ruangan makan - foto : Nunik Utami

Merasa cukup kenyang, saya pun beramah tamah dengan beberapa tamu undangan di sana (termasuk ngobrol sebentar dengan mas Benny). Dan alhamdulillah, di acara ini ada beberapa wajah baru dari KEB yang ikut kopdar. Aaaak, senangnya, engga 4L (Lo Lagi Lo Lagi) :P.

KEB bersama mba Silly (Blood for life) - foto : Winda K

February 01, 2013

Tas Selingkuh



Sri menimang-nimang tas branded itu. Bentuknya cantik sekali. Terbuat dari kulit sintetis yang diemboss berwarna putih dengan aksen kulit sintetis bertekstur kulit ular. Berkali-kali dia menimang lalu menaruhnya kembali, lalu kembali mengambil dan menimangnya lagi. Pikirannya kacau.

Dalam keasikannya menimang tas di sebuah mall bilangan Jakarta pusat, tiba-tiba Sri dikejutkan dengan seseorang yang  mengambil tas tersebut dari tangannya. Seorang perempuan cantik berpakaian seksi dengan rok pendek sempat membuat Sri terbelalak.

"Sorry, tas ini sudah saya beli," sapa perempuan itu dengan nada sinis.

Merasa belum sanggup membeli tas itu, Sri pun hanya bisa terdiam sambil merasakan kesal atas sikap perempuan yang sombong itu. Namun, sebelum ia meninggalkan tempat itu, Sri melihat jelas bagaimana perempuan seksi itu menghampiri seorang lelaki ganteng dan menuju kasir pembayaran. Dan lelaki itu sempat melirik pada Sri.

"Hmmm, dasar orang kaya sombong, awas aja, aku bakalan nabung lebih banyak uang supaya ga usah mikir lama-lama kalau mau beli tas mahal," batin Sri.

Keesokan harinya Sri beraktifitas seperti biasa. Dia bekerja di sebuah kantor provider yang terletak di Jakarta pusat. Hari ini memang hari tersibuk yang akan dia hadapi. Setumpuk dateline dan proposal masuk, harus ia selesaikan segera.

"Sri, kamu dipanggil bos tuh di ruangan," kata Indah, teman kerja Sri.

"Waduh, aku bakalan dimarahi bos nih, laporanku belum selesai juga." kegelisahan nampak sekali di wajah Sri.

Dengan ketukan pintu yang pelan, Sri mencoba mendengar sambutan dari dalam.

"Ya, masuk" suara dari dalam terdengar nyaring sekali.

"Sri, coba tolong antar istri saya ke bank sekarang, karena ada beberapa cek yang harus dicairkan," perintah bosnya

"Baik, pak," jawab Sri

Sebelum menegur seorang perempuan yang sedang memandangi ke luar jendela yang berdiri tepat di sebelah bos itu, Sri nampak heran dengan tas putih yang ada di meja itu. Ia ingat betul tas itu, karena baru kemarin ia menimangnya di sebuah mall. Sontak pikiran Sri pun melayang pada sosok perempuan yang kemarin ditemuinya di mall dengan sikapnya yang kurang menyenangkan.

"Ah, tas itu," batin Sri.

Sesaat kemudian, perempuan cantik itu menoleh ke arah Sri. Belum sempat mengambil tas nya, perempuan itu pun seolah kaget melihat Sri. 
Sri dan perempuan itu hanya bisa terdiam bisu, saling menatap dengan heran.

"Kalau perempuan ini istri bosku, siapa laki-laki yang kemarin ia lihat bersama perempuan ini dan bergandengan dengan mesra?"

Prompt challengge 2 - Tentang Tas