March 04, 2013

Mengikat Hati dengan Kasih Sayang


Hati... adalah sebuah kelenjar terbesar dalam tubuh kita yang berada tepat di sebelah kanan rongga perut setiap manusia, di bawah diafragma. Fungsinya yang vital, mengharuskan kita agar mampu menjaganya tetap sehat.  Sayangnya, konsumsi alkohol dan zat kimia seringkali membuat hati rusak dan menyebabkan penyakit lainnya. 

Begitupun hati yang terdapat dalam kalbu setiap insan. Seringkali, kita tidak menyadari bahwa hati yang tertanam dalam diri kita jauh dari kesucian. Miris, memang. Tapi, begitulah kenyataan yang sering saya temui, termasuk hati saya yang tak luput dari penyakit. 

Sejak lahirnya kita ke dunia ini, Allah Swt tentu telah menempatkan hati kita sesuai dengan takarannya. Jika kita mampu menjaga hati dengan terus bersandar pada Sang pencipta, maka Insya Allah kita akan terbebas dari segala penyakit hati. Dan sebaliknya, sebagai manusia yang jauh dari kesempurnaan, jika hati kita ditemani oleh hawa nafsu, maka hanya akan ada prasangka dan kotoran lainnya menemani keseharian kita.

Seiring berjalannya waktu, kita akan menemukan fase-fase kehidupan yang selalu melibatkan hati. Dari hati tersebut, menimbulkan rasa yang mampu terungkapkan melalui tindakan. Entah itu marah, kesal, sedih, bahagia atau lainnya. Siapa yang bertanggung jawab terhadap rasa tersebut? Tentu kita sendiri sebagai manusia. Dan, apakah rasa tersebut dapat tercipta dengan melibatkan orang lain?

Ketika setiap manusia menemukan takdirnya, yaitu menikah dengan pasangan yang dicintainya, hati lah yang menjadi landasan ikatan tersebut. Ada kasih sayang yang tertanam di antara keduanya. Namun jangan bilang, bahwa sebuah pernikahan tidak melibatkan hati. Walau sebagian pasangan (*mungkin) ada yang mengalaminya, alias menikah karena dijodohkan atau alasan lainnya. Tapi saya yakin, tetap ada hati yang dilibatkan, meskipun rasa tidak nyaman menemaninya.

Sebagai manusia yang selalu berinteraksi dengan lingkungan sekitar, sadar atau tidak, kita sering menggantungkan hati pada orang lain, termasuk hubungan suami istri. Kita menjadi dekat sekali dan bisa merasakan energi yang terungkap darinya. Ya, tidak heran, karena pernikahan telah mengikat hati mereka menjadi satu, melewati setiap detik, menit, jam dan waktu setiap saatnya. Lalu, mengapa seringkali kita menemui hati-hati yang tersakiti, bahkan menjadi kosong? Apakah itu disebabkan oleh dirinya sendiri yang tak mampu menjaga hati atau karena ikatan dari pasangan kita yang mulai bias mengisi hati kita?

Lika-liku pernikahan memang akan sangat erat dengan pasangan suami istri. Dengan segala resikonya, kita dihadapkan pada berbagai insiden, baik yang dianggap kecil maupun besar. Dan di sinilah peran kita sebagai pasangan yang mengarungi bahtera rumah tangga bersama, dituntut agar mampu memaknainya dengan bijak. Tidak sedikit, konflik yang terjadi dalam rumah tangga, berakhir pada sebuah judge alias saling menyalahkan.  Kita selalu mengharapkan agar bisa dimengerti oleh pasangan, tapi apakah kita sudah mampu mengeti pasangan kita sendiri? Memang, peran satu sama lain menjadi penting dalam mengisi hati untuk keberlangsungan sebuah pernikahan. Tapi, tentu kita juga tidak mengharapkan pemaksaan. Seorang suami dengan egonya sebagai seseorang yang mampu melindungi, dan seorang istri dengan egonya yang selalu ingin dimanja serta diperhatikan, membuat hati menjadi semakin bias dari kemurniannya. Jika sudah begitu, kita bisa saja bertindak tanpa menghiraukan hati kita, dan hanya ego yang mendominasi.

Apa yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan hati yang semakin bias oleh berbagai insiden dan konflik? 
Seorang sahabat mengatakan pada saya, bahwa "Hati hanya bisa diikat oleh kasih sayang." Benarkah demikian? Mari kita renungkan bersama-sama.

Seorang anak balita yang sedang dalam pertumbuhan akan menjadi seorang pemberontak ketika ancaman sang Ayah atau Ibu dalam mendidik mereka dengan sebuah larangan yang terus menerus. Begitupun pada manusia dewasa. Ada yang mencoba menyikapinya dengan lapang dada, tapi tak sedikit dari mereka justru mencari hati lain yang mampu mengisi hatinya. Tapi, kenapa tidak menyandarkan hatinya pada Sang Pencipta? Ya, itulah manusia. Ada suatu kondisi yang kadang membuat dia merasa benar dengan apa yang dipikirkannya. Sehingga, dia harus menemukan sebuah titik terendah untuk menyadari bahwa sandaran paling sempurna hanyalah pada Sang pemilik Dzat.


Hati...
Aku tau, 24 jam kau bekerja menemaniku, memberikan kekuatan pada ragaku
Aku tau, kau bekerja keras agar tetap bersih sekalipun aku berulah
Aku tau, kau berusaha sekuat tenaga agar tetap berfungsi, sekalipun aku lupa kebutuhanmu
Aku tau, kau selalu menahan sakit ketika aku memenuhimu dengan prasangka
Tapi, ijinkan aku untuk membuatmu kembali pada hakikatmu
Tentang bagaimana tetap memberi dengan ikhlas
Tentang memberi tanpa perlu berekspektasi
Tentang memaknai segala sesuatunya dengan kasih sayang
Karena aku tau, hanya dengan kasih sayang, semua penyakit yang menghampirimu akan terkikis sedikit demi sedikit. Dengan kasih sayang, kau akan selalu menjadikan raga yang membungkusmu sebagai seorang penyanyang.
Maafkan aku, hati. Aku mencintaimu apa adanya, karena kamu begitu istimewa, begitu suci dan bersih. Aku tau, jika hatimu selalu bersih dengan memenuhi semua kewajiban-kewajiban, maka firasatmu akan selalu menuntunku ke surga. Amiin Ya robbal alamin.

13 comments:

Goresanku said...

Touching ...
tulisan dini hari yg menyentuh hati Makpon. Semoga bisa selalu menjaganya tetap dalam fitrahnya ya :)

IrmaSenja said...

Terbangun dini hari dan menemukan catatanmu, mak :)

Aku hafal kalimat itu :D
iya, sandaran terbesar hati kita hanyalah Allah, menyandarkan kebahagiaan pd mahluk hanya akan membuat hati kita lelah.

Tapi mengintimidasi, ancaman,keegoisan tdk akan mampu mengikat hati seseorg. coba berikan kasih syg, perhatian, keperdulian/ respect, itu yang akan membuat hati seseorg ttp tinggal. #Nyambung gak ya :p

Inspiratif mba, hatur nuhun suguhan kopi dini harinya *kiss

Goiq said...

kita diberi hati dan sudah seharusnya kita harus bisa menjaga hati :)

Pakde Cholik said...

Manusia yang tak punya kasih sayang hidupnya akan hampa dan merana ya jeng.Bisa2 dia akan menjadi buas.
Salam hangat dari Surabaya

Vira Elvira said...

lagi dalam suasana HATI yang kurang enak tapi jadi adem begitu baca postingannya mbak... :)

Erfi Susanti said...

Menyentuh sekali mak.... :-)

Anonymous said...

Just want to say your article is as surprising.
The clearness in your post is just spectacular and i could assume
you are an expert on this subject. Fine with
your permission let me to grab your RSS feed to keep up to date with forthcoming post.
Thanks a million and please keep up the gratifying work.

my page - Article Submissions

Anonymous said...

Good day! This is my first visit to your blog! We are a team of volunteers and starting a
new project in a community in the same niche.
Your blog provided us useful information to work on.
You have done a marvellous job!

Here is my blog :: muscle building capsules

Anonymous said...

Touche. Outstanding arguments. Keep up the amazing
spirit.

my web site ... hair loss products for women

Akhmad Muhaimin Azzet said...

Hati adalah pusat segalanya bagi kehidupan manusia. Maka, menjaga hati adalah keniscayaan. Salah satunya adalah menjaga kelembutannya agar kita sebagai manusia bisa bersikap kasih dan sayang.

Ari Tunsa said...

dari hati pula kebencian atau kasih sayang bisa muncul :D

Pesta ulang tahun said...

nice post :D salam kenal yaaaa

Tarmizi Achmad said...

dalam banged postingannya menyentuh hati..