June 20, 2013

Menjaga Nafas Cinta


Nafas Cinta...
Ah ya... lagi-lagi kalau sudah temanya "Cinta", saya selalu excited dan punya banyak bahan. Apalagi kalau harus dikaitkan dengan orang terdekat... suami, anak-anak, orangtua, keluarga bahkan sahabat-sahabat seperjuangan, termasuk kalian yang tetap konsisten menjaga silaturahmi melalui dunia maya ini. Apa jadinya, jika saya tidak menemukan dunia blogging? Mungkin saja saya akan menjadi seorang yang terus mengejar karir atau menjadi cupu sekalian. Demi apa itu semua coba? - Demi cinta tentunya, #eaaa...

foto dokumen pribadi
 Menjalani LDR dengan suami, tak jarang membuat saya menjadi sosok yang lebih mandiri, walau di sisi lain kadang saya bisa sangat rapuh sekalian. Bagaimana tidak, separuh nafas saya tak terendus secara nyata (di samping saya) dan hanya bisa dibayangkan melalui energi cinta yang masih tetap harus dijaga secara utuh. Sanggupkah saya...

Ada rasa sedih ketika melihat sekumpulan keluarga yang sedang berada di mall dengan formasi lengkap, sementara saya, hanya bertiga dengan anak-anak saya.
Ada rasa sepi ketika saya pulang ke rumah setelah beraktivitas dan tidak ada suami yang seperti biasanya selalu ada di samping tempat tidur
Ada rasa kosong ketika saya menemui kondisi kurang nyaman, dan hanya pelukan yang saya butuhkan, sementara suami tidak ada
Ada rasa iri ketika melihat sebagian sahabat dilarang pergi berkegiatan oleh suaminya, sementara saya.. mau pergi kapanpun, hampir tak pernah ada larangan
Ada rasa... ada rasa lainnya yang kadang tidak bisa saya ungkapkan, bahkan kian menjadi teman yang akrab dengan keseharian saya. Bagaimana saya menyikapi semua itu? Ini tidak mudah, kawan!

Cukup... jika harus saya teruskan keluhan saya, sepertinya tak akan ada habisnya, dan hanya akan menambah kekosongan hati saya. Eh, memangnya... saya kesepian gitu? 

Waktu, dan proses kehidupan selalu saya yakini bahwa di dalamnya selalu menawarkan kesempatan dan harapan. Dengan pandangan seperti itu, setidaknya bisa membuat saya bertahan akan kegaulan yang kadang menghampiri. Awal mulanya memang sedikit terasa sulit menjalani LDR ini, hingga memasuki bulan-bulan yang penuh ujian (dan saya menyebutnya kenikmatan). Dari sanalah, kami menemui sebuah masa yang tidak biasa. Setelah melewati serangkaian kisah, maka tak ada alasan bagi kami untuk tidak kembali menata partikel-partikel cinta yang selama ini seperti muram, bahkan aromanya hampir tak tercium.

Beruntung bahwa saya dan suami selalu mengedepankan komunikasi, sekalipun harus sampai menangis dan berargumen, pada akhirnya... proses berpikir secara dingin mengembalikan kami pada kenyataan, bahwa meskipun kami berjauhan, selama diantara keduanya memiliki keyakinan dan bersandar terus pada Sang Pemilik Dzat, maka sebaiknya sudah tak ada lagi keraguan.

Memang, saya suka iri melihat keluarga utuh yang sedang menikmati liburan, tapi tentu saya lebih bersyukur karena Tuhan menganggap saya mampu menjalani semua ini secara mandiri.
Memang, sepi itu kadang hadir ketika saya kembali ke rumah, tapi saya akan bersyukur, bahwa kembalinya ke rumah, saya bisa melakukan lebih banyak hal yang tetap membuat saya produktif bersama anak-anak, lebih dekat dengan mereka dan bisa setiap saat berbagi cerita tentang ayahnya serta kerinduan kami.
Memang, ketika saya mendapati sebuah masalah, pelukan menjadi alternatif agar saya bisa lebih tenang, tapi tentu saya bersyukur... dengan begitu, saya lebih dekat dengan Sang Khaliq serta lebih intens berkomunikasi dengan suami melalui telepon. Tak jarang, apa yang kami bicarakan selalu tentang menenangkan satu sama lain, hingga kami berdua merasa semakin kuat untuk bertahan.
Memang, saya iri sama suami yang suka melarang istrinya pergi kemana-mana, itu tandanya si istri mendapat perhatian. Tapi tentu saya sangat bersyukur memiliki suami yang ternyata jauh lebih perhatian. Di balik sikap cueknya, hampir tidak pernah ada kegiatan saya yang dilarang, melainkan saya dibiarkan terjun dulu, merasakan prosesnya, dan beliau tetap memberikan arahan serta kemungkinan-kemungkinannya. Dengan begitu, jarak jauh seolah tak terasa bagi saya. Dia selalu ada untuk saya.

Lalu, nikmat mana yang harus saya dustakan?
Apa karena saat ini kami LDR lalu saya harus mengeluh terus-terusan? Akan ada saat saya mangalaminya, tapi di saat lain, saya memilih untuk menikmatinya. Ya... menyemai cinta setiap saat adalah hal terindah bagi saya, meskipun hal tersebut masih jauh dari kesempurnaan. Sudah selayaknya saya bersyukur atas semua kenikmatan ini. Banyak hal yang menjadi bagian kenangan dari apa yang telah suami berikan untuk saya, terutama... tekadnya yang hampir tak pernah meleset dalam memenuhi keinginan saya dan anak-anak. Meski kecupan pagi hari saat ini terputus, tapi setiap bagun tidur, sms manis selalu masuk ke hp saya terkirim dari suami. Isinya, tentu hal-hal yang indah.

Ah sudahlah... saya pikir akan panjang sekali kalau harus saya tuliskan semuanya. Bagi saya, menjalani proses pematangan cinta, wajar adanya jika terbentur dalam kondisi-kondisi yang mengharuskan kita berusaha kembali menata hati, pikiran demi sebuah nafas yang bernama cinta. Dengan kembalinya nafas cinta yang sempat bias aromanya, adalah sebuah langkah awal demi kekuatan yang mampu menjaga partikel-partikel kehidupan dengan segala kisahnya. Cinta akan membawa kami pada sebuah tujuan yang indah. Cinta harus bersentuhan dengan segala rasa, namun cinta tetap memiliki kekuatan yang tak pernah surut. Cinta tak pernah habis untuk diberi, karena cinta... adalah tentang bagaimana kamu memberi.

Tulisan ini diikutsertakan untuk GA dalam rangka launching blog My Give Away 
Niken Kusumowardhani

27 comments:

Indah Juli said...

Mencintai dicintai
Memberi, diberi
Mengasihi, dikasihi
Menyayangi, disayangi :)

Mira Sahid said...

@Mak Indjul : Tarik menarik ya, mak. Thankf for comment

Esti Sulistyawan said...

Yang penting kepercayaan, komitmen dan komunikasi ya Mak (sesama pelaku LDR)

Mugniar Marakarma said...

Secara tak langsung LDR membentuk mam Mira jadi sosok yang tangguh ya. Mudah2an bisa bersatu kembali secepatnya ya mak.

Moga menang ya, saya juga ikutan ini :)

Ejawantah Wisata said...

Cinta membauat segala sesuatunya akan mnenjadi indah.

Sukses buat GA nya Mba.

Salam wisata

Mira Sahid said...

@Esti : betul... Semoga semua itu dikuatkan oleh Allah Swt ya, ma kasih

@Mugniar : Alhamdulillah, Insya Allah. Ma kasih ya, mak

@Ejawantah : Amiin. Ma kasih ya mas

sri sugiarti said...

Mak...hikss.aku gak bisa komen ..cuma terharu saja membacanya

Idah Ceris said...

....Meski kecupan pagi hari saat ini terputus, tapi setiap bagun tidur, sms manis selalu masuk ke hp saya terkirim dari suami. Isinya, tentu hal-hal yang indah.

Saya saluuuut untuk Emak2 yang berLDR, tapi tetap semangat seperti iniih.

Sukses ngontesnya ya, Mba.

Niar Ci Luk Baa said...

bebas kemana2 bikin mandiri, niar percaya mbak mira pasti mandiri banget kesana kemari sendiri #aktif banget.

Aiihh sms tiap pagi, romantisnya :D

Lidya - Mama Cal-Vin said...

aku gak bisa kasih saran tentang LDR, tapi dari tulisan-tulisan disini aku jadi tahu bagaimana rasanya LDR. Good luck ya mak , sebentar lagi bisa sama-sama lagi kan :)

newmyinspiration said...

salut bgt kalo udah nikah bisa LDR, yg jelas Tuhan mmberikan LDR kepada mereka yg benar2 saling percaya satu sama lain. Keep spirit inside makmin...:)

Niken Kusumowardhani said...

Mak Mira, saya selalu kagum kepada pasangan yang berLDR dan bisa menjalaninya dengan baik. Saya yakin, hal itu tidak mudah. Semoga mak Mira dan keluarga selalu dalam lindungan Allah.

Terima kasih partisipasinya, sudah tercatat sebagai peserta.

hazmi SRONDOL said...

percaya cinta = percaya keajaiban.

*nyontek judul buku Gde Prama

Suci Nabbila said...

wah mbak mira LDR ya mbak sama suami :( sama kayak kakakku, mbak.. malah dia yg diluar kota, sementara suami dan anaknya stay di Bandung.. Ak aja suka kasian.. selalu kangen anak dan suami :'(

sabar ya mbak.. kalau kata pacarku (aku LDR juga hahaha) "Kebahagiaan itu kita yang tentukan. Cara dan bentuk kita berbahagia, belum tentu sama seperti orang lain. Jangan samakan, karena ini kita yang rasakan." :)

kempor said...

Lihat sekedar melihat, dan saya sedikit nyengir kalo baca yang cinta cinta an.
nggak tau cinta itu apa, cinta itu sesuatu yang belum saya rasakan. kasiha n banget gue yak mbak.

kalau kata temennya kera sakti. beginilah cinta deritanya gak ada abisnya, kyk jamur dimusim penghujan :D

IrmaSenja said...

Jangan pikirkan menerima jika mencintai ya mba :)

Santi Dewi said...

Saling mencintai, tak harus saling bersentuhan secara fisik kan, mak?

Lianny Hendrawati said...

smoga bisa bersama lagi mak. Tapi hubungan LDR ini membuat mak Mira menjadi mandiri. Salut banget ..

Sary said...

Meskipun frekuensi LDR-an ku gak sepanjang kalian, Mak, tapi aku tau rasanya. Kalau bipang enak, kayanya munafik. Bilang gak enak, koq kayak gak bersyukur, ya, karena ada kenikmatan lain yang Tuhan kasih untuk kita. Jadi kalau kita ingin bahagia, pilihannya adalah menjalani hidup kita dengan bahagia, apapun kisahnya :)

Mira Sahid said...

@Sri : Hihihi, ma kasih ya, mak. Jangan sampai nangis yak *lho

@Idah : Iyes, ma kasih ya Idah, ketjoeps

@Niar : Yup Niar, kalau bukan karena LDR, mungkin aku masih jadi istri yang manja. Ma kasih ya

@Lidya : Aamiin, Insya Allah, mak. Semoga diparengkeun terus

@Newmyinspiration : Iyes, semoga tulisannya memberi manfaat ya :)

@Niken : Aamiin, Bunda. Sering-sering ngadain GA tema cinta yak :))

@Hazmi : sip

@Suci : Betul sekali. ma kasih supportnya ya, Suci :)

@Kempor : Sebetulnya, selama ini kamu udah memiliki cinta, hanya tinggal memunculkannya. Insya Allah, semoga segera dipertemukan dengan cinta sesungguhnya ya

@Irma : Rite, semoga kita bisa berbenah diri terus setiap saat ya, neng

@Santi : Mungkin iya bagi yang belum menikah :)

@Lianny : Aamiin, semoga aku bisa bertahan ya, mak. Ma kasih

@Sary : rite, mak. Layaknya pemain film, ya kita tinggal memerankan skenarionya dengan baik. Thank you, mak

lies hadie said...

Tapi aku kok yakin ya Mak Mira kuat dan bisa menjalani ini semua...karena apa Mak ? Cintaaaa...# eaaaaa :)

Ina Rakhmawati said...

wah so sweet mbaaakkk :')

semoga langgeng selamanya!
amien...
^^

Nathalia Diana Pitaloka said...

semua pasti ada hikmahnya ya..
salut sama mba :)

muhammad ridwan said...

datang berkunjung...
segala sesuatu, ketika dipandang dari sisi positifnya, semuanya akan menjadi indah... :)

Nchie Hanie said...

tetep Mak Mira yang Ku kenal adalah sosok yang mandiri, kuat dan selalu ceria dalam menjalani apapun :D

Semangaat Maak

Niken Kusumowardhani said...

Selamat, mak Mira. Artikel ini termasuk sebagai pemenang GA Menyemai Cinta.
http://forgiveaway.blogspot.com/2013/07/pemenang-ga-menyemai-cinta.html

Noorma Fitriana M. Zain said...

selamaatt ya makz.. tulisan ini menaaaaaaaaaaaang