June 25, 2013

Sebesar Apa Rasa Pedulimu?


Sejak (kalau enggak salah) Februari apa Maret 2013, teman yang menjadi sahabat perjalanan saya sudah pergi meninggalkan saya. Bukan, bukan karena berantem atau saling tonjok-tonjokan, tapi semua itu dilakukan demi sebuah kenyamanan, karena selama 2 tahun yang lalu ia lebih banyak menguras kantong saya. Meski tak bisa ditampik bahwa ia juga sudah banyak menolong saya. Ngomongin apa sih, Mira?

Jadi gini, teman yang saya tinggalkan tersebut bukan teman dalam bentuk sosok manusia, tapi sebuah kendaraan roda empat yang sempat saya miliki 2 tahun terakhir. Intinya, si Jessi terpaksa saya lepas dengan harga miring karena makin hari ulahnya makin menguras kantong saya. Setiap bulan ada saja keluhan-keluhannya. Maklum, pas beli modalnya seken, etapi Alhamdulillah juga, karena diberi kesempatan untuk merasakan punya mobil sementara. Setelah si Jessi tidak bersama saya lagi, praktis saya kembali ke ritual biker, ngangkot, nge-bis dan ngojek. Masalah? Engga! Karena sebelum punya mobil pun saya sudah terbiasa dengan hal tersebut. 

Jujur saja, 2 minggu setelah melepas si Jessi saya masih suka manyun-manyun sendiri ketika harus keluar rumah dengan matahari yang pasti akan membuat kulit saya tampak lebih eksotik, atau tiba-tiba banyak debu yang menempel di wajah karena naik motor. Tapi, lambat laun, saya mulai terbiasa lagi dan menerima semua itu dengan senang-senang saja. Mau gimana lagi? Saya selalu meyakini, Allah selalu punya rencana dengan semua hal, termasuk saat ini...
Mulai bertambahnya kegiatan-kegiatan atau undangan yang ditujukan kepada KEB, tentu mengharuskan (minimal) saya dan beberapa makmin untuk bisa menghadirinya sebagai perwakilan pengurus. Tak jarang acara yang dihadiri waktunya malam. Pada saat masih memiliki mobil dulu, maksimal keluar dari tempat acara jam 11 malam pun masih saya jabani. Tapi setelah Jessi enggak ada, saya harus mengukur diri, karena bis dan angkot menuju rumah saya bukan angkutan yang standby 24 jam. Meskipun ada, dan tersedia taksi, saya suka merasa khawatir pulang terlalu larut. Apalagi jarak pusat Jakarta ke rumah memerlukan waktu tempuh hampir 1,5 jam.

Nah, kalau melihat linimasa twitter, ada namanya komunitas nebengers, yang kalau saya perhatikan, yang memberi tebengan atau yang mau nebeng bisa saling berinteraksi, tinggal janjian aja gitu melalui akun yang di mention ke nebengers. Tapi, sampai saat ini saya belum pernah nyoba dan  penasaran juga. Terlebih, yang memberi tebengan kan belum kita kenal. Boleh kan, sedikit khawatir juga. Dats why sekali waktu mungkin saya harus mencobanya.

Beruntung saya memiliki teman dekat atau sahabat yang masih utuh kendaraannya, alias mobil, sehingga memungkinkan sekali untuk bisa jadi tebengan jika tujuannya bersamaan. Untuk acara-acara KEB di siang hari, kalau makmin Irma lagi sempat, pasti akan menggunakan mobilnya (ma kasih ya nengnong Irma), tapi kalau sudah urusan malam, doi agak kesulitan. Alhamdulillah, KEB masih punya makmin yang super eksis, yaitu makpuh Indah Juli. Beberapa waktu terakhir ini, kami harus menghadiri acara malam, dan Alhamdulillah mba Indah selalu menawarkan tebengan pulang pada saya. Padahal, rumah beliau kan, di daerah dekat-dekat Harapan Indah Bekasi sana, sementara saya di daerah Jatiasih. Luarbiasanya, setiap pulang, mba Indah selalu mau mengantar saya dulu bersama suaminya, mas Iwan, melewati jalur Jorr, minimal sampai turun di Jatiasih. 

Kamis beberapa hari yang lalu pun, sama. Beberapa teman KEB yang hadir di Obrolan Langsat, ada 4 orang, semua diangkut dengan mobil mba Indah, kebetulan semua jalurnya sama, melewati ruas toll TB Simatupang -Jorr. Yang terjauh adalah Yulia, yang akhirnya diminta ikut mba Indah dulu mengantar saya, setelah itu dipikirkan arah menuju Klender. 

Terus... maksud dari semua cerita itu, apa Mira?
Saya yakin, bukan karena saya satu board bersama mba Indah di jajaran pengurus KEB, tapi kalau sudah dari sananya punya rasa kepedulian tinggi dan ikhlas membantu sesama, maka bagi mba Indah  dan suaminya, bukan lagi halangan ketika harus memutar arah mengantar temannya dulu. Mengingat hari sudah malam, tentu mba Indah tidak tega membiarkan kami pulang begitu saja, sementara beliau sadar betul, bahwa beliau membawa kendaraan yang memungkinkan bisa memberi tebengan pda teman-temannya. Kecuali kalau jaraknya berlawanan arah, yaa sebagai orang yang nebeng harus realistis juga ya, alias jangan maksa minta dianterin :))

Hari gini, saya yakin banyak yang memiliki keluasan hati seperti mba Indah, tapi tak sedikit juga yang acuh tak acuh. Padahal, bisa jadi mungkin diantara temannya sangat membutuhkan tebengan, dan searah. Saya pribadi suka segan kalau mau ikut nebeng, meskipun misalnya ada yang searah. Apalagi kalau tidak ada sambutan dari yang mau ditebengi. Ah, mending ngangkot saja, itu lebih nyaman. Dan alhamdulillah, pada saat diberi kesempatan memiliki mobil, saya pun berusaha melakukan hal yang sama (maaf bukan sombong), tapi saya suka enggak tegaan gitu kalau ngelihat ada yang pulang malam naik angkot sementara saya bawa kendaraan. Sebisa mungkin, meskipun beda arah, saya selalu menanyakan kemana arah pulang mereka. Dan itu pun yang terjadi pada mba Indah. Beliau memang orang dan teman yang baik, serta punya kepedulian yang tinggi. Ngembang deh hidungnya, makpuh :))

Sebagai sesama muslim, sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk saling tolong-menolong, apalagi jika semua itu dilakukan dengan ikhlas dan diniatkan untuk mencari ridho Allah Swt. Insya Allah berkah. Meskipun terlihat sepele bagi sebagian orang soal tebengan ini, tapi bagi saya, ini semua lebih dari sekedar berbuat baik, karena berkaitan dengan kondisi malam hari yang lebih rentan dengan kejahatan. Terima kasih ya, mba Indah. Semoga engak kapok ditebengi terus, ta doakan semoga mobilnya diganti jadi alphard atau CRV, Aamiin, meskipun mobil yang sekarang tak kalah bagus. Terima kasih juga buat semua teman-teman yang pernah saya tebengi, termasuk bis, angkot dan abang ojek juga. Kalian luarbiasa.... (teriak ala Ariel).

Afirmasi mobil kesatu - Foto : Google
Afirmasi mobil kedua - Foto : Google
Catet! Penting memiliki mimpi besar, afirmasikan terus, berusaha dan berdoa, Insya Allah tercapai, Aamiin

Ya Allah, hamba bersyukur atas segala NikmatMU selama ini, dan jika hamba boleh meminta, ijinkan dan berikan kesempatan hamba untuk bisa berbuat baik dalam sisa usia yang tak pernah hamba tau. Aamiin...

Kamu, kamu dan kamu... sebesar apa rasa pedulimu terhadap sesama? Yuk, kita berlomba-lomba dalam kebaikan, Insya Allah berkah.

17 comments:

Rosid said...

Alhamdulillah, saya masih dipertemukan dengan orang-orang yang care & respect. Selanjutnya tinggal saya bagaimana caranya harus terus... terus... dan terus... mengalirkan rasa care & respect itu. :)

Winda Krisnadefa said...

mak injuuul....besok2 aku juga dianterin yaaa, sampe rumah... :))) #Plak
aku jadi inget mir, 3 tahun yg lalu aku pasang profile pic di FB mobil swift warna pink, dengan harapan it will drag the whole universe to get me closer to the pink thingy, tapi sampai sekarang belum kesampaian. tapi aku juga percaya kok, i will get it oneday, and i know i'm working on it, very slow...but at least i have a dream to catch and it makes me move forward to pursue! hang in there! :')

Titi Esti said...

Tosss Mak.. sesama biker. hebat euy di ibukota masih jadi biker.
Sebagai biker aku kena jam malam . Maghrib udah harus di rumah. Untuk yang super darurat maksimal habis magrib berangkat pulang.
Alhamdulillah ya.. punya temen temen yang peduli. Jempol buat mak Puh

suzie icus said...

Aaak... pagi2 baca ini jadi speechless... makasih emak2 cantik semua yg suka aku tebengin jugaa.. tak doakan tambah2 sukses semuanya, punya alphard satu2 ..lope yu pul :*

mohamad rivai said...

baru tahu mbak ada di twiter yg nebeng2 ntu..
coba cari ah, sapa tau bisa nebeng dari sby mpe solo sabtu besok -_-

btw otw bus way, 1 semester saya jalan kaki dan kalau ada acara saya selalu nebeng "entah bagaimanapun caranya" ~syalala

Dan itu semua baik baik saja dilakukan oleh pihak kedua selaku pemilik motor (inget bukan mobil yak).

Sedikit cerita saja, malming kemarin jalan kaki dari joyoboyo-kampus its. pas dijalan ada yang nawarin "tebengan" wow sangat sesuatu banget ditawarin tebengan sama seseorang, walopun nggak kenal n baru pertama ketemu :D

gak penting amat yak cerita gue -_-
n bathewe lagi, nggak minat minicooper Kaka?

Indah Juli said...

Hmmm, gue curiga postingan ini diikutsertakan dalam lomba blog :p
Kata Mas Iwan, selama bisa, ada transportasinya, dan arahnya sama kenapa harus beralasan tidak bisa mengantar :)
Anyway, terima kasih namaku disebut-sebut, bukan hanya hidung yang kembang kempis, isi dompet pun ikut kembang kempis.

Lidya - Mama Cal-Vin said...

Gak diragukan lagi rasa peduli makpon, buktinya aku suka diajakin nebeng hehehe. Makasih ya mak. Pantesan sempet lihat twit lagi ngebis ternyata si jazzynya sudah gak ada ya

sarijeruk said...

Ammmiiinnnnn Mak... semoga semua kebaikan yang diberikan oleh seluruh sahabat akan dibalas oleh Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Hehehheheh berarti jalanan Jakarta sekarang berkurang satu dong "road warrior" nya...

rahmah said...

Wah, asik nih... kapan2 kalau maen kesana ada yg bisa antar kemana-mana #eh #dikeplak

Semoga langgeng terus yah makpon :D

ekspresi jiwa said...

top mbak emang kudu menolong sesama krn suatu saat kita juga akan ditolong

Lusi said...

Tak doain mak Injul segera punya bus wwkwkwkkk.... But seriously empati itu seharusnya memang sesuatu yg otomatis, gak pake mikir2. Sayangnya sering pula kita kepentok orang jahat, jadi seperti ada pintu otomatis yg menutup kita meski kita tahu bhw kita bisa melakukan sesuatu. Anyway, care for each other yg bikin betah di KEB. Tapi tetep ati2 ya kalau harus keluar rumah u event, entah siang, entah malam. MUah u semuanya

alaika abdullah said...

Alhamdulillah kita masih dikelilingi oleh teman2 yang punya kepedulian seperti itu ya, Mak? :)

Dulu, waktu belum punya corry [my first car : new corrola], aku juga sering banget ditebengin oleh teman2 yang udh duluan punya mobil, atau motor. Dan otomatis, begitu beli corry, aku melakukan hal yang sama, tentu tak harus pada orang2 yang sama [yg pernah menolong kita], tapi membuka diri untuk bisa peduli juga pada teman2 yang membutuhkan bantuan/tebengan dari kita.

Corry [yang kubeli dengan modal seken] akhirnya harus dilepas gegara tak mampu lagi menyediakan anggaran perawatan yang minta ampun untuknya. Jual miring, dan dg serius mempererat ikat pinggang, akhirnya setahun kemudian, Gliv bisa hadiir mewujudkan impian. Alhamdulillah, jadi makin bisa nebengin banyak temen deh karena Gliv kan punya 3 rows of seat. :)

Ade Anita said...

iya benerrr... pasti banyak orang2 yang punya rasa setia kawan pada teman. btw, mira, aku bagi nomor teleponmu dong

Niken Kusumowardhani said...

That friends are for. Orang baik, temannya juga baik :)

Afirmasinya mantap-mantap kali tuh mak. Semoga terwujud.

Mama Obito said...

Sama donk..hihihi mobil dijual miring Mak! Kalau saya berpikir praktis saja, bolak balik kerja kalau di Denpasar, mending pakai motor, anti macet :-) dan soal tebeng menebeng, I have experienced it when I was studied in Nusa Dua. Jiaaaaah, ngga enak banget minta nebeng ama temen yang ngga rela ditebengin. Dari kejadian itu semakin semnagat kalau harus mandiri!

puteriamirillis said...

ah ketulusan jiwa hal yang banyak dicari banyak ini mbak,, :)

Nia Angga said...

hiks menohok bgt..
baru aja kmrn kejadian. aku ga nawarin seorang temen buat kutebengin karena rumahnya berlawanan bgt :(

semoga lain waktu Allah memberiku kesempatan untuk berbuat baik. aamiin