July 25, 2013

Tuhan, Bekukan Hatiku!


Seandainya aku boleh memilih, aku ingin mengulang saat itu, saat di mana aku tak perlu merasakan perihnya rasa dan sakitnya hati oleh sikap yang selalu menuai atas nama cinta. Seandainya Ibuku masih berada di sampingku, tentu aku lebih mudah berkeluh kesah tanpa perlu merasa bingung harus mencurahkan isi hatiku. Seandainya aku adalah seorang perempuan yang memiliki masa lalu yang lebih baik, tentu aku tak akan mungkin terpenjara akan buruknya masa lalu yang kini selalu kau ungkit-ungkit. Seandainya...seandainya... Ya Tuhan, adilkah ini untukku? Aku tak kuasa menahan semua rasa ini. Perih, sakit, aku rapuh, Tuhanku. Jika tak ada lagi yang perlu kuperjuangkan, maka hanya satu yang kuminta, bekukanlah hati ini, bekukanlah rasa yang ada dalam hati ini, jauhkan aku darinya, Tuhan.
*****

Just is... Lahaula Wala Kuwwata Illabillahil Aliyyul Adziim.
Sahabatku, seandainya saat kau ucapkan semua itu, aku berada di dekatmu, tentu aku tak akan tinggal diam mendengar keluh kesahmu. Setidaknya, sedikit pelukan mungkin akan bisa menenangkanmu. Tapi tolong, jangan pernah berpikir bahwa Tuhan tidak berlaku adil padamu. Aku mungkin tak bisa merasakan sakitnya rasamu, bahkan aku pun tak mampu memberikan solusi terbaik, tapi percayalah sahabatku, Allah Swt tidak mungkin memberikan suatu permasalahan tanpa solusi dan kesanggupan umatNYA....

Saat kau menyatakan bahwa kau meminta agar Tuhan membekukan hatimu pada orang yang kau sayangi, aku sedih sahabatku. Ah ya, mungkin aku terlalu naif karena aku tidak berada di posisimu. Namun hanya perlu kau tau, bahwa hati yang kau miliki ini adalah sebuah jembatan antara kau dan Tuhanmu. Di sanalah bermuara segala rasa, termasuk rasa yang kau alami saat ini. Namun, apakah sampai di situ saja? Tentu tidak. Hatimu akan jauh lebih menemukan muara yang sebenarnya jika kau benar-benar menyandarkan sepenuhnya pada Sang khalik. Dan ketika kau menemui kejenuhan dan rasa bosan karena rasa sakit yang tak kunjung padam, semua itu bukan soal bagaimana Tuhan tidak berlaku adil padamu, tapi tentu sejauh apa kehikhlasan kita dalam menerima.

Ada kalanya kita sangat menginginkan orang lebih mengerti apa yang kita mau, namun terkadang kita lupa, sudah sebesar apa kita memberi? Hidup ini saling bersentuhan, saling bersinergi. Jika kau sedang dalam kondisi tak nyaman seperti sekarang ini, maka mulailah memberikan apa yang ada dalam hatimu. Tak perlu fokus pada orang yang kamu sayangi, karena memberi bisa dengan berbagai cara dan pada siapapun. Setidaknya, ada banyak jalan yang bisa kita tempuh untuk memperbaiki kondisi yang tidak stabil ini. Maafkan aku karena terlalu lancang dengan semua yang kuucapkan. Namun perlu kamu tahu, sahabatku. Kehidupan itu adalah sebuah proses, akan ada awal dan akan ada akhir. Dalam perjalanan menuju akhir, kita akan berjumpa dengan pertengahan yang di dalamnya akan selalu menawarkan segala arah. Seberapa beratnya jalan yang kau tempuh, seberapa banyak kerikil yang membuat jalanmu tertatih, ingatlah bahwa di depan sana akan ada sebuah masa yang tak akan pernah kau pikirkan sebelumnya. Yakinlah itu, sahabatku. Just is....

13 comments:

Indah Juli said...

Kamu cenayang ya, paranormal?
Baca ini aku jadi mikir :))
Like this posting.

Mira Sahid said...

@indah Juli : meh, wkwkwkw. Pagi2 ngakak baca komen mak Indah. Apa sik, mak? lagi enggak nyaman kah? sini, pukpuk :-*

puteriamirillis said...

syukurlah ini bukan masalahmu mbak, tapi semoga sahabatmu bisa adem dengan tulisan ini mbak yu...:)

Sary Melati | @saryahd said...

Pukpuk yang lagi minta dibekukan hatinya :)

Nchie Hanie said...

pagi ini hatiku dah beku Mak..
kedinginaan :D

Uniek Kaswarganti said...

tak mengapa mak, hati beku itu semoga hanya sementara, hanya proses melewati kesakitan yg sedang 'berdarah'. waktu dan kekuatan iman yg akan menyembuhkannya
*halah koq jadi mellow ya :)

Icoel said...

Hahhh...MakPon Buka konsultasi bola ajaib? Okelah ikut konsul, duduk paling depan, antri
Gratis ya mak? Hihihi...#ditoyor sama MakPon merusuh :P

Nice posting mak, banyak hal baik yang bisa dilakukan daripada meratap ya mak (y)

zaffara said...

Tulisanmu memeang sangat menenangkan mbak.Moga semua baik2 aja ya ...:)

Hanna HM Zwan said...

sebuah renungan disinag hari mbk... :D

Niar Ningrum said...

jadi kangen sahabat ku apah kbar nya yaa disana? sama2 sibuk nya mbak, jadi bener2 kokbaca ini rasanya menohok.

mbak mira adem banget yaa bilangnya seperti ini.

Lusi said...

Oooowww.... Kalau aku lagi sedih, aku justru memohon kesibukan,mohon hati secair mungkin, semakin banyak orang yang bikin aku ribet semakin baik. Emosi bisa tersalurkan, tersamarkan bersama hal2 yg bikin puyeng itu. Harapannya ya terus lupa pada inti masalah. Gak perlu memaksakan ada solusi disemua masalah. Sambil bergerak, mungkin menemukan jalan keluar.

E. Novia Wahyudi said...

Wah, kalau hatinya dibekukan nanti jadi berdarah dingin dong. *heh,ga nyambung* :D

Kalau hanya merasakan manisnya kehidupan, kapan belajarnya? Bukan begitu kan, Mak! Hihi *sok bijak saya*

Lidya - Mama Cal-Vin said...

tulisan ini juga sebagai pengingat buat aku mak