August 28, 2013

Dear Daughter : Vinka & Puzzle Kehidupan


Tulisan ini adalah sebuah apresiasi terhadap tantangan spontan yang diberikan oleh Mak Indah Juli untuk teman-teman dalam pengurus KEB (Makmin). Ada keunikan yang tanpa kami sadari bersama, bahwa ke-8 Makmin KEB memiliki anak pertama, yang berjenis kelamin putri semua. Dari tantangan ini, sayalah yang pertama ditantang untuk menuliskan sebuah postingan yang berkaitan dengan “Anak Perempuan.” - Dear Daughter. Lalu setelah itu, saya harus melempar tantangan ini pada makmin kedua. Baiklah,  mak Indah... Saya akan torehkan kisah indah ini, kelak akan menjadi warisan yang akan dikenang oleh putri-putri kita.

Untuk ananda Vinka. Setiap untaian kata ini bermakna spesial untukmu nak, tak hanya untuk memenuhi ajakan menulis, tapi semua ini bisa menjadi ungkapan yang tak pernah terucap oleh Mama, karena Mama masih perlu waktu untuk bisa mengatakannya. Untukmu anakku sayang, Vinka.

*******
Anakku… 

Bila ibu boleh memilih, apakah ibu berbadan langsing atau berbadan besar karena mengandungmu, maka ibu akan memilih mengandungmu. Karena dalam mengandungmu ibu merasakan keajaiban dan kebesaran Allah sembilan bulan, nak.
Engkau hidup di perut ibu
Engkau ikut kemanapun ibu pergi. 
Engkau ikut merasakan ketika jantung ibu berdetak karena kebahagiaan. 
Engkau menendang rahim ibu ketika engkau merasa tidak nyaman, karena ibu kecewa dan berurai air mata....

August 21, 2013

Perawan atau Tidak? Tes dulu!



Judulnya pasti menimbulkan pertanyaan ya....
*****
Beberapa hari ini linimasa ramai sekali dengan pembahasan soal keperawanan. Yak, ternyata hal tersebut muncul dari keputusan Dinas kota Prambumulih, Sumatera Selatan yang akan melakukan tes keperawanan terhadap siswi sekolah menengah atas. Meh... sungguh keputusan absurd tuh. Bukan twitter kalau tidak menyuguhkan berita-berita up to date. Dats why, sampai saat ini saya masih betah menyimak linimasa, karena lebih cepat mendapatkan berita-berita terbaru.

image here
 Keperawanan, (mungkin saja) bagi setiap perempuan sudah mulai sulit terjaga dengan baik di jaman yang modern ini. Tapi, tetap saja. Banyak kaum perempuan yang tetap mengagungkan keperawanan di atas segalanya. Bagaimanapun, hal tersebut menjadi acuan atau hal yang sangat dijaga oleh perempuan selama hidupnya hingga seseorang menikahinya. Apa jadinya jika ternyata, anak perempuan yang masih perawan, yang belum pernah terjamah oleh siapapun, harus menerima nasib untuk dites keperawanannya agar bisa sekolah lanjutan tingkat atas, disentuh2 kemaluannya oleh orang lain. Okelah, dokter yang test, tapi tetap saja, merugikan. Saya baru saja membaca blog Om Jay di BlogDetik yang membahas tentang hal ini. Om jay katakan, bahwa : "Saya tak bisa membayangkan bila anak pertama saya Intan yang kini masuk SMA kelas X di SMA 6 Bekasi harus mengikuti tes keperawanan. Saya tak ridho dunia akhirat anak gadis saya di tes keperawanannya meskipun oleh seorang dokter. Buat apa?" Tidak hanya Om Jay,  saya sendiri pun engga rela kalau menjelang SMA nanti Vinka harus disentuh2 oleh orang lain. *siapin samurai -__-

Entah darimana idenya para pejabat itu mengeluarkan keputusan yang aneh. Dan tentu, hal ini juga akhirnya memicu banyak masyarakat Indonesia menolak dan kontra dengan keputusan tersebut. Termasuk  Mendikbud, M. Nuh. Terus, kalau ketauan engga perawan, engga boleh sekolah lagi? Kalau sudah tau masih perawan atau engga, apa untungnya buat mereka? Yang ada, mereka malah melanggar HAM siswi-siswi tersebut akan hak-nya dalam menerima pendidikan dan bentuk diskriminasi terhadap kaum perempuan. Sekalian saja, tes keperjakaan. Keperawanan bisa hilang kalau ditengok sama keperjakaan, kan? Absurd nih :))

Biasanya, saya mencoba melihat sebuah keputusan dari berbagai sudut pandang. Tapi kalau soal tes keperawanan ini, Aeh, sepertinya tak ada sudut pandang lain yang bisa saya keluarkan selain menolak karena jengah dengan hal tersebut. Bagaimana dengan teman-teman soal tes keperawanan ini?

August 17, 2013

Sang Malam



Malam....
Tiba-tiba saja aku merindukan sebuah malam yang selalu kulalui dengan keheningannya yang tak memihak. Rindumu merenda dalam naluriku. Ya, kamu hadir meski aku sedang dalam rasa yang tak pasti, kamu ada ketika aku tak memintamu untuk bersamaku. Apakabar malamku? Apakah kau merindukanku juga?

Rasanya, lama sekali blog ini terlupakan. Lagi-lagi, haruskah saya katakan bahwa kesibukan kian menyita sebagian waktu atau malamku untuk menorehkan sebuah inspirasi? Ah, rasanya tak perlu. Cukup dengan kembali menorehkan apa yang ada dalam rasa dan pikiran, maka semua alasan itu akan kembali memunculkan inspirasi yang tak biasa. Ciyus? Iya in aja deh :))

Alhamdulillah, melewati puasa, hari raya Idul Fitri 1434 H dan HUT RI ke-68 dalam waktu yang berurutan, menjadikan masa-masa terlewati dengan begitu indah dan menyenangkan. Hampir semua masa itu terlewat dengan banyak senyuman, meski tak bisa ditampik, sesekali ada mulut manyun yang saya ekspresikan, hehe. Saya hanya bisa senyum simpul mengingatnya. Entahlah, meski mencoba untuk menghindari suasana tak nyaman, di luar dugaan, semua kenikmatan itu selalu ditambah oleh Allah dengan kenikmatan lainnya. Saya menyadari, mungkin saya tak perlu menolaknya secara berlebihan, karena hal tersebut tentu akan menambah mulut saya untuk semakin manyun. Lebih baik saya menerimanya terlebih dahulu, merasakan, intropeksi lalu mengubahnya dengan sudut pandang yang lebih baik. Tidak secara langsung akan terasa hasilnya, tapi setidaknya... mencoba adalah langkah terbaik yang bisa dilakukan. Bener, apa bener?....

August 06, 2013

Menciptakan Kebahagiaan. Sanggupkah?


Melewati 1 bulan penuh tantangan diantara 11 bulan lainnya, tentu bagi sebagian orang bukanlan sesuatu yang harus diberatkan. Sebuah tantangan itu bisa menjadi sebuah kenikmatan jika kita sendiri mampu melihatnya dari sudut yang lain. Tapi sebagai manusia biasa, tidak bisa dipungkiri kalau akhirnya ramadhan seolah menjadi bulan yang hanya diisi oleh sebuah kebiasaan. Menyajikan berbagai makanan ala ramadhan seperti kolak, manisan kurma hingga ketupat lebaran. Tak hanya itu, tradisi mudik yang terjadi seminggu sebelum hari raya, tentu akan menjadi pemberitaan yang tak henti-hentinya di media cetak atau elektronik, bahkan social media.

Selain kebiasaan dan tradisi yang menemani langkah ramadhan tersebut, hati kita pun bisa saja terbawa pada suasana yang tak biasa. Namun alangkah lebih baik jika ramadhan membawa hati, rasa dan pikiran kita ke arah lebih baik, pada rasa ikhlas dan rasa syukur yang tak henti, karena yang terpenting, kita masih diberi kesempatan untuk melewati ramadhan kali ini dengan segala kekurangannya. Lalu, apa jadinya jika ramadhan tak memberikan hasil apa-apa untuk kita, selain lapar dan dahaga?

Ah tentu... saya tak menilai bahwa ramadhan ini telah saya lewati dengan baik dan khusyu. Dari waktu yang sekejap ini, dan diantara sekian banyak waktu yang telah saya isi dengan kekhilafan, tak mungkin dalam waktu 1 bulan lantas saya langsung kembali menjadi fitrah dan pribadi yang bersih. Jika saja boleh meminta, seandainya setiap bulan adalah ramadhan, tentu setiap waktu itu pula akan menjadi sebuah rem dalam ikhtiar saya menjalani hidup. Pertanyaannya, apakah saya mampu menjalaninya jika hal tersebut benar-benar ada? Lillahita'ala....

August 04, 2013

10 tahun sudah.


Alhamdulillahirobbil Alamiin... 4 Agustus 2013

Doa Ayah:
"Semoga Allah SWT selalu memberikan kemudahan kelancaran kesehatan dan keselamatan dunia dan akhirat." Aamiin.

Doa Mama:
"Semoga Kaka Vinka menjadi putri yang solehah, makin pinter, sehat selalu , penuh kebahagiaan dan keberkahan. Berbakti pada orangtua dan berguna bagi agama, bangsa dan negara." I love you, my dear.