August 28, 2013

Dear Daughter : Vinka & Puzzle Kehidupan


Tulisan ini adalah sebuah apresiasi terhadap tantangan spontan yang diberikan oleh Mak Indah Juli untuk teman-teman dalam pengurus KEB (Makmin). Ada keunikan yang tanpa kami sadari bersama, bahwa ke-8 Makmin KEB memiliki anak pertama, yang berjenis kelamin putri semua. Dari tantangan ini, sayalah yang pertama ditantang untuk menuliskan sebuah postingan yang berkaitan dengan “Anak Perempuan.” - Dear Daughter. Lalu setelah itu, saya harus melempar tantangan ini pada makmin kedua. Baiklah,  mak Indah... Saya akan torehkan kisah indah ini, kelak akan menjadi warisan yang akan dikenang oleh putri-putri kita.

Untuk ananda Vinka. Setiap untaian kata ini bermakna spesial untukmu nak, tak hanya untuk memenuhi ajakan menulis, tapi semua ini bisa menjadi ungkapan yang tak pernah terucap oleh Mama, karena Mama masih perlu waktu untuk bisa mengatakannya. Untukmu anakku sayang, Vinka.

*******
Anakku… 

Bila ibu boleh memilih, apakah ibu berbadan langsing atau berbadan besar karena mengandungmu, maka ibu akan memilih mengandungmu. Karena dalam mengandungmu ibu merasakan keajaiban dan kebesaran Allah sembilan bulan, nak.
Engkau hidup di perut ibu
Engkau ikut kemanapun ibu pergi. 
Engkau ikut merasakan ketika jantung ibu berdetak karena kebahagiaan. 
Engkau menendang rahim ibu ketika engkau merasa tidak nyaman, karena ibu kecewa dan berurai air mata....

Anakku…
Bila ibu boleh memilih apakah ibu harus operasi caesar, atau ibu harus berjuang melahirkanmu. Maka ibu memilih berjuang melahirkanmu. Karena menunggu dari jam ke jam, menit ke menit kelahiranmu, adalah seperti menunggu antrian memasuki salah satu pintu surga
Karena kedahsyatan perjuanganmu untuk mencari jalan ke luar ke dunia sangat ibu rasakan
Dan saat itulah kebesaran Allah menyelimuti kita berdua
Malaikat tersenyum diantara peluh dan erangan rasa sakit, yang tak pernah bisa ibu ceritakan kepada siapapun
Dan ketika engkau hadir, tangismu memecah dunia. 
Saat itulah…saat paling membahagiakan. Segala sakit & derita sirna melihat dirimu yang merah, Mendengarkan ayahmu mengumandangkan adzan, Kalimat syahadat kebesaran Allah dan penetapan hati tentang junjungan kita Rasulullah ditelinga mungilmu

Anakku…
Bila ibu boleh memilih apakah ibu berdada indah, atau harus bangun tengah malam untuk menyusuimu, maka ibu memilih menyusuimu
Karena dengan menyusuimu ibu telah membekali hidupmu dengan tetesan-tetesan dan tegukan tegukan yang sangat berharga
Merasakan kehangatan bibir dan badanmu didada ibu dalam kantuk ibu adalah sebuah rasa luar biasa yang orang lain tidak bisa rasakan

Anakku…
Bila ibu boleh memilih duduk berlama-lama di ruang rapat atau duduk di lantai menemanimu menempelkan puzzle Maka ibu memilih bermain puzzle denganmu
Tetapi anakku…
Hidup memang pilihan…Jika dengan pilihan ibu, engkau merasa sepi dan merana, maka maafkanlah nak…Maafkan ibu…Maafkan ibu…

Percayalah nak, ibu sedang menyempurnakan puzzle kehidupan kita, agar tidak ada satu kepingpun bagian puzzle kehidupan kita yang hilang
Percayalah nak…Sepi dan ranamu adalah sebagian duka ibu
Percayalah nak…Engkau adalah selalu menjadi belahan nyawa ibu…
- Puisi karya Ratih Sanggarwati (Ratih Sang) -

Mom & Vinka
*************
Malam ini, tiba-tiba saja air mata membasahi pipi ini. Entah apa yang membuat air mata ini menetes. Ah ya, mungkin karena puisi di atas begitu indahnya, hingga Mama sendiri tak mampu menahan rasa yang terurai dalam bait-bait tersebut. 10 tahun lalu, saat kamu terlahir dari perut Mama, Mama harus berjuang hampir 7 jam menahan sakit yang membahagiakan. Bahkan diantara kesakitan itu, kamu menambah kenikmatan lain, seolah sudah tak sabar ingin Mama gendong, maka kaki kanan mu pun tiba-tiba mendorong keluar. Sementara saat itu dokter belum tiba di ruang melahirkan. Suster mulai panik, karena ternyata Mama merasakan dorongan kaki sebelah kirimu menghentak keluar. Mama ingin membantumu segera melihat dunia ini, tapi suster menahan Mama sampai dokter tiba. Hasilnya, kaki kananmu sengaja Mama jepit oleh kedua paha Mama agar kaki kirimu tidak keluar. Subhanallah, Mama ingat betul saat itu, nak. Merasakan kaki mungilmu diantara paha Mama. Hingga akhirnya, dokter datang dan proses melahirkan pun berjalan. Meski kaki yang keluar terlebih dulu, Alhamdulillah Allah Swt memudahkan segalanya, tanpa harus melalui caesar.

Dan malam ini, tiba-tiba saja Mama merasa bersalah padamu, nak. Dari sekian tahun perjalananmu menapaki kehidupan ini, Mama telah melepaskan 2 tahun bersamamu, dan harus rela terpisah jauh darimu. Ini memang tak adil untukmu. Hanya untuk alasan memenuhi kebutuhan hidup dan membantu mencari nafkah, Mama terlalu tega meninggalkanmu di Bandung bersama Nenek. Maafkan Mama ya, nak. Pilihan Mama terlalu egois saat itu.

Tidak bisa dihindari, ketika akhirnya kamu pun tidak begitu dekat dengan Mama di usiamu yang masih balita. Karena Mama hanya bisa menemuimu menjelang weekend, lalu kembali ke ibukota untuk memenuhi kewajiban lain dengan rasa dilema akan sebuah pilihan. Hingga akhirnya terjadilah sebuah kecelakaan motor tahun 2006 yang menyebabkan sebagian wajah Mama tak berbentuk, Mama ingin sekali memelukmu, Mama bersyukur karena Allah Swt masih memberikan kesempatan kepada Mama untuk menunggumu datang dari Bandung. Meskipun Mama harus menahan sedih, ketika kamu merasa asing pada Mama karena tidak mengenali wajah Mama, dan enggan Mama peluk. Mama ingat sekali saat itu, nak. Kamu hanya melihat Mama dengan wajah polos, seolah-olah ingin mengungkapkan, “Kenapa wajah Mamaku begitu?” Tapi tak apa, nak. Mama mengerti. Melihatmu datang saja, Mama merasa semakin lebih baik.

Waktu berjalan, akhirnya Mama memutuskan untuk berhenti dari dunia kantor yang memberikan banyak kesempatan, lalu memilih untuk menemanimu bersama calon adik yang akan lahir saat itu. Dan Mama sama sekali tidak menyesalinya. Karena, kamu tahu, nak? Berada bersamamu, adik Zahran dan Ayah, meski hanya di ruangan kontrakan kecil di sudut Jakarta, adalah kebahagiaan yang tidak tergantikan oleh apapun. Itulah saat-saat indah kebersamaan kita sekaligus menjadi awal kita dalam menyempurnakan puzzle kehidupan.

Zahran - Vinka - Mama
Melewati hari-hari bersamamu, sepertinya tak mudah, nak. Perpisahan 2 tahun telah membuatmu menjadi dekat dan lekat pada sosok nenek yang menemanimu saat itu. Mama mencoba memahaminya, karena semua itu membutuhkan proses. Dan Mama pun tidak perlu menyalahkan siapa-siapa. Saat itu yang Mama rasakan, adalah kita telah bersama, dan saatnya memulai dan membuat kebahagian bersama tanpa perlu khawatir terpisah lagi. Ya, itu yang terpenting. Selain itu, nenek pun telah membantu menjadikanmu sosok yang periang, sosok yang menyenangkan dan sehat.

Kini, di usiamu yang menginjak 10 tahun, keinginan untuk mendengarkan segala cerita dari kegiatan yang kamu lakukan, sudah mulai berjalan dengan baik. Meskipun saat ini Mama masih saja sibuk dengan urusan Mama, kamu tak pernah menuntu apapun. Kamu dan Adik Zahran selalu megantar dan menyambut Mama tatkala Mama pulang dari beraktivitas. Hampir tiap hari, kamu bercerita tentang seorang teman di sekolah, tentang kecintaanmu membaca buku lalu menceritakannya lagi pada Mama, tentang group boyband yang kamu suka, tentang seorang teman yang kamu sukai, Hiihii... Bahkan, kamu rela menunggu Mama pulang dari beraktivitas, untuk menyampaikan bahwa, kamu sudah mendapatkan palang merah di bulan Juni lalu. Ya Allah... gadis kecilku. Sepertinya baru kemarin Mama berusaha keras untuk mendekatimu, sepertinya baru kemarin Mama mencoba menjadi teman bagimu, dan kini... kamu menjadi seorang anak gadis yang bertumbuh dengan cepat, seperti seorang sahabat dan perwujudan diri Mama.

Vinka
Sejak kecil kamu tak pernah meminta apa-apa, kamu adalah anak penurut. Kamu hanya mengangguk tatkala ditawarkan makanan, atau benda-benda lain tanpa meminta yang tidak tersedia. Kamu selalu menuruti apa yang menjadi arahan Mama dan Ayah. Namun, Mama yakin, di balik rasa diammu, kamu memiliki harapan dan cita-cita besar dalam pikiranmu. Kembangkan itu semua ya, nak. Selama Mama dan Ayah masih ada, maka kamu tak perlu menghawatrikan apapun. Kami akan ada untuk membantu mewujudkan harapan dan impianmu. Begitupun untuk adikmu, Zahran.

Jika nanti Mama tua dan renta, tak perlu khawatirkan Mama, karena Mama akan tetap menjagamu. Dan jika waktu tempuh Mama dalam menjalani kehidupan ini tak cukup lama, jagalah Mama dan Ayah dengan doa tulusmu, ungkapkan selalu di setiap rakaat sholatmu, perkuat di setiap sudut malammu, dan dekatkan selalu dirimu pada Sang Pencipta. Di usiamu saat ini, kamu bisa menjadi seorang Kakak yang begitu perhatian, kakak yang begitu mencintai adiknya, maka kelak kalian besar nanti, Mama tidak khawatir, bahwa kamu mampu menjaga adikmu dan membimbingnya. Karena kamu sudah membuktikannya saat ini. Ah, Mama sangat mencintai Kakak Vinka dan Adik Zahran.

Putriku sayang, Vinka....
Puzzle kehidupan selalu tak mudah, kamu harus mencoba mencari partikel-partikel kehidupan dari setiap sudutnya, untuk dikembangkan menjadi bentuk yang utuh. Kelak kamu akan menemukan rasa bosan, jenuh mencari-cari setiap kepingannya. Tapi percayalah pada satu hal. Meski kepingan itu tak beraturan, meski kepingan itu terpecah-pecah, puzzle kehdiupan akan selalu menunjukkan bentuknya, selalu memberikan impian dan harapan di setiap kesempatan. Percayalah pada dirimu sendiri, nak. Dalam setiap tempat di hati Mama, selalu ada namamu, dan Mama doakan di setiap sujud dan nafas Mama. Cinta Mama tak pernah habis untukmu.

With love... Mama, Ayah & Adik Zahran...

*************

Memiliki satu putri dan satu putra dengan segala cerita di dalamnya, dan membingkainya dalam pigura hati, adalah kebahagiaan yang terindah untuk saya. Meski saya masih menginginkan (mungkin) 2 anak lagi, tapi dengan hadirnya 2 malaikat kecil saat ini tentulah tak akan pernah habis cerita ini. Lalu, bagaimana dengan sahabat saya yang memiliki 3 putri dan 2 putra, mak Sary Melati? Tentu akan banyak sekali yang menjadi catatan indah dalam kesehariannya. Maukan dirimu membagi kisah indahnya dalam tantangan “Dear Daughter” #MakminKEB ini, mak Sary? 

33 comments:

Indah Juli said...

Tulisan ini akan menjadi kenangan-kenangan dan sejarah juga buat Vinka, betapa cinta Mama akan selalu menyertai hidupnya.

Terima kasih sudah berbagi, Mira Sahid, semoga apa yang kamu doakan untuk Vinka terwujud *kisskissbuat kakak Vinka*

RedCarra said...

Huaaaa T____T
Peluk untukmu dan semua, Maaaak!

Jadi panik, aku nanti bakalan nulis apa huhuhu..

Terima kasih sudah sharing, Mak. Speechless.

Reni said...

Membaca artikel ini sampai meneteskan air mata, tulisan ini akan msnjadi saksi bisu tentang kecintaan seorang ibu pada putrinya :) Nice post.

liannyhendrawati said...

hiks jadi terharu *usap air mata
Smoga smua doa dan harapan buat Vinka terkabul ya mak..

marsudiyanto said...

Saya jadi bisa belajar pada tulisan Mbak Mira, karena kedua anak saya cowok semua...
Dan saya belum pernah bikin puisi untuknya

Lusi said...

Yo wes sini kasih aku tissue huhuhhuuuuuuuu nangis malem2

Nophi said...

terharu mbak...
nice post,

Umi Azzahra said...

Sangat menyentuh sekali mbak.... :-)

Situs Jual Beli Online said...

Maak makasiih tulisannya seolah aku2 yang menulis, turut merasakan danterbawa suasana..
Makasih ya telah membuatku mengeluarkan air mata kebahagiaan #terharuu

Hani S said...

Oke mak, hati saya meleleh pagi2..
Inspirasi utk bisa berjuang di meja jihad beberapa bula lagi. Dan meluangkan sebanyak mungkin waktu bagi si buah hati.

Terus menulis utk para malaikat kecil itu mak.. *ketjup*

cheila said...

aq benar-benar terharu....

salam buat kakak vinka ya teh

Rachmawati yusuf said...

tulisan ini mengingatkan pada perjuangan mama ketika mangandung sy dahulu...

juga mengingatkan 7 bulan perjalanan saya mengandung yang paling tercinta, calon anak yg sholih...


T___T

fitri anita said...

nice post mbak mira..bagus banget postingannya

Bunda Kanaya said...

setiap ibu selalu berusaha memberikan yang terbaik ya mbak buat anak-anaknya... tulisan mba Mira bikin aku terharu.. :'(

Karryna said...

Terharu bacanya, meleleh ni mara Mak. Semoga Vinka jadi anak kebanggaan dan cantik selaluuu!

Winda Krisnadefa said...

Aaakkk
...usap air mata bacanya...:')

IrmaSenja said...

Vinka dan Zahran akan slalu ingat betapa mamanya sangat mencintai mereka, dan mereka akan slalu bangga padamu mba *peluk

Keke Naima said...

duh, seperti biasa kalimatnya selalu bagus *speechless

Om Srondol said...

masih syok ama Vinka yang tingginya mo ngalahin emaknya... ckckckkc

Sary Melati | @saryahd said...

Ternyata aku belum komen di sini. Terlalu sibuk jalan-jalan ke luar negeri #plak :D

Mak, mengenal dirimu, aku yakin Mira punya cinta tak terbatas untuk Vinka dan Zahran. Dan, mereka pasti sangat bangga dan bersyukur punya mama yang hebat seperti dirimu. Aku juga bangga bisa mengenal dan bersahabat denganmu :)

bunda aisykha said...

jadi ibu memang "sesuatu" banget,,biar bgaimanapun,,ibu akan selalu brusaha mmberi yg terbaik apapun yg terjadi,,tengkyu sharingnya mba myra,,

alaika abdullah said...

Kaka Vinka pasti bangga punya Mama spt dirimu, Mak. Ya kan, Ka Vinka? Dan tante Al yakin banget, harapan Mama Insyaallah akan terwujud dengan baik, melihat Kaka Vinka yang begitu baik hati dan penyayang, pasti akan tetap menjadi Kaka yang selalu welas asih dan ngayomi terhadap adik Zahran. Juga akan menjadi putri terkasih Mama dan Ayah, yang akan selalu menghadiahkan cinta kasih dan doa bagi mereka, ya kan Ka?

Mak, terharu banget membaca tulisanmu ini, what a great mom you are! *BigHugandKisses.

Mugniar said...

Waah anak gadis .... pinter pula ambil gaya saat difoto persis mamanya.
Moga kedekatannya semakin besar dan berkah buat keduanya. Sukses ya VInka n mamanya :)

Mugniar said...

Aihhh komen saya manaa tadi?

anny said...

Mak Puisinya Indah.
Vinka sekarang tumbuh jadi gadis mungil yang cantik. Perjuangan mama yang selalu ingin memberikan yg terbaik buat Vinka. Salut :)

Christanty Putri Arty said...

semoga sharing artikel dalam blog ini bisa menjadi kenangan manis untuk anak-anak nantinya yaa Mak..salut untuk mak satu ini yang hebat dan penuh perjuangan :)

catatan kecilku said...

Mak... selalu saja kisah antara Mama dan putri tercinta mampu menerbitkan haru yang luar biasa.
Seneng sekali membaca sharing emak2 Blogger ttg putri2 tercinta mereka. :)

Santi Dewi said...

Vinka mengerti bahwa mamanya sangat mencintainya. Salam hangat buat Vinka :)

indah nuria Savitri said...

cinta sejati yang tidak pernah akan luntur ya mak....gentle reminder untuk selalu ingat mengekspresikan cinta kita ke anak-anak...kiss kiss buat Vinka mba...terakhir acara di Pusdiklat Kemlu sempet ketemu anak-anakku kan mak :D...

NOE said...

Heuheu... puisi diatas itu ngeplak banget ya, pas bagian puzzle. iya, hidup memang pilihan. Dan sedih banget pasti pas anak nggak mau dipeluk. Dulu, aku jg nitipin anak di lampung, sediih banget kalo pas ditelpon dan mereka sama skali nggak mau diajak ngobrol :(

noe said...

Puisinya baguus, meweek.. tak kira udah mulai disitu suratnya, nggak taunya dibawah puisinya surat sebenernya yang bikin tambah nangis batin heuheu

Latree said...

aargh...
*elap air mata*

hanari said...

sangat inspiratif sekali, bahwa kita benar-benar harus ada untuk anak-anak kita.