August 21, 2013

Perawan atau Tidak? Tes dulu!



Judulnya pasti menimbulkan pertanyaan ya....
*****
Beberapa hari ini linimasa ramai sekali dengan pembahasan soal keperawanan. Yak, ternyata hal tersebut muncul dari keputusan Dinas kota Prambumulih, Sumatera Selatan yang akan melakukan tes keperawanan terhadap siswi sekolah menengah atas. Meh... sungguh keputusan absurd tuh. Bukan twitter kalau tidak menyuguhkan berita-berita up to date. Dats why, sampai saat ini saya masih betah menyimak linimasa, karena lebih cepat mendapatkan berita-berita terbaru.

image here
 Keperawanan, (mungkin saja) bagi setiap perempuan sudah mulai sulit terjaga dengan baik di jaman yang modern ini. Tapi, tetap saja. Banyak kaum perempuan yang tetap mengagungkan keperawanan di atas segalanya. Bagaimanapun, hal tersebut menjadi acuan atau hal yang sangat dijaga oleh perempuan selama hidupnya hingga seseorang menikahinya. Apa jadinya jika ternyata, anak perempuan yang masih perawan, yang belum pernah terjamah oleh siapapun, harus menerima nasib untuk dites keperawanannya agar bisa sekolah lanjutan tingkat atas, disentuh2 kemaluannya oleh orang lain. Okelah, dokter yang test, tapi tetap saja, merugikan. Saya baru saja membaca blog Om Jay di BlogDetik yang membahas tentang hal ini. Om jay katakan, bahwa : "Saya tak bisa membayangkan bila anak pertama saya Intan yang kini masuk SMA kelas X di SMA 6 Bekasi harus mengikuti tes keperawanan. Saya tak ridho dunia akhirat anak gadis saya di tes keperawanannya meskipun oleh seorang dokter. Buat apa?" Tidak hanya Om Jay,  saya sendiri pun engga rela kalau menjelang SMA nanti Vinka harus disentuh2 oleh orang lain. *siapin samurai -__-

Entah darimana idenya para pejabat itu mengeluarkan keputusan yang aneh. Dan tentu, hal ini juga akhirnya memicu banyak masyarakat Indonesia menolak dan kontra dengan keputusan tersebut. Termasuk  Mendikbud, M. Nuh. Terus, kalau ketauan engga perawan, engga boleh sekolah lagi? Kalau sudah tau masih perawan atau engga, apa untungnya buat mereka? Yang ada, mereka malah melanggar HAM siswi-siswi tersebut akan hak-nya dalam menerima pendidikan dan bentuk diskriminasi terhadap kaum perempuan. Sekalian saja, tes keperjakaan. Keperawanan bisa hilang kalau ditengok sama keperjakaan, kan? Absurd nih :))

Biasanya, saya mencoba melihat sebuah keputusan dari berbagai sudut pandang. Tapi kalau soal tes keperawanan ini, Aeh, sepertinya tak ada sudut pandang lain yang bisa saya keluarkan selain menolak karena jengah dengan hal tersebut. Bagaimana dengan teman-teman soal tes keperawanan ini?

18 comments:

Winda Krisnadefa said...

selain bikin jengah, ini juga absurd banget...:(
keperawanan atau dalam hal ini selaput dara, bisa rusak bukan hanya karena berhubungan seks (seperti yg dikhawatirkan menjadi buruknya nilai moral jika dilakukan sebelum waktunya. selaput dara bisa rusak juga karena kecelakaan, aktifitas berat, olah raga, dan (naudzubillah min zalik) diperkosa. Bagaimana nasib mereka? bagaimana memilah2nya? kalau yg selaput daranya robek karena berhubungan intim dan karena ketidaksengajaan? siapa yg bisa menentukan? ini sudah wilayah Tuhan. Manusia mau jadi Tuhan, ya gini jadinya. Macam nggak ada kerjaan lain yang lebih penting.
Toh semua orang yg beragama juga tahu, berhubungan seks sebelum menikah adalah zinah, dan zinah adalah dosa besar. Ketimbang bikin test keperawanan, kenapa nggak mengadakan penyuluhan pendidikan seks dan agama lebih gencar lagi. Mereka ini diknas kan? tugasnya mendidik, bukan menghakimi, apalagi yg dihakimi sudah wewenang Tuhan. Be O De O Ha!

sri sugiarti said...

Aku kurang setuju mak .... dengan tes@ keperawanan..

Keke Naima said...

sy gak setuju.
ketika hamil diperiksa dokter kandungan aja, entah itu dokternya laki atau perempuan, kita suka ada rasa2 gimana, kan? Kebayang gak, sih efek psikologisnya buat anak2 perempuan kita ke depannya. *peraturan aneh!

Lisa Tjut Ali said...

saya kurang setuju juga mak mira
Allah saja menutup aib hambanya
ini kok malah tes keperawanan, itu sama saja buka aib namanya klo menurut saya.

chae rani said...

aneh banget si. kasian kan yah sama anak2 perempuan. kalau dia real virgin kan malah merusak mental.

fardelynhacky said...

Untungnya nggak jadi ya mak...kalo sempat jadi..sungguh terlalu. Siapapun si perempuan, perawan atau tidak, siapapun tidak berhak mengobok-obok kelamin mereka.
Sementara laki-laki, bisa bebas seenaknya..sungguh tidak adil.
Ck ck ck..susah jadi perempuan ya mak, jadi objek peraturan pemerintah yang pikirannya tentang selangkang melulu
Jadi ingat di Aceh tentang peraturan nggak boleh ngangkang naik motor.
Untuuung tuh peraturan nggak jadi diterapkan.
TFS ya mak Mira

Ejawantah Wisata said...

Apakah keputusan soal tes keperawanan dapat membatalkan UU yang menyatakan bahwa setiap orang memiliki kedudukan yang sama dalam menikmati pendidikan di Indonesia ? ? ?

Kalau memang peraturan ini di loloskan dan diterapkan, tolong para oknum yang memiliki ide seperti itu belajar lagi ya..........

Pertanyaannya sangat sederhana, adakah peraturan dapat mengalahkan UU ? ? ?

Bila sudah bisa dijawab, maka kita akan tahu siapa pelanggar UU tersebut.

Salam wisata

Zee said...

Itulah. Mlakukan tes berarti mempermalukan anak itu sendiri. Seorang perempuan menjadi tidak perawan belum tentu adalah kesalahan dia. Bagaimana dengan korban pencabulan (duh ketok2 meja)....
Jengah...

Dina Begum said...

Jadi ingat sama temanku yang jatuh dari pagar akibat manjat-manjat lalu daerah kewanitaannya berdarah. Selama bertahun-tahun dia stress karena merasa tidak suci, sampai bekerja pun dia masih minder. Bagaimana coba perasaan anak-anak kita kalau peraturan ini sampai diterapkan. *geram*

Sarah said...

sama mbak, aku jg ga setuju dunia akhirat. titik. !!!

Niken Kusumowardhani said...

Keimanan yang makin menipis, itu yang harus kembali ditebalkan. Manusia menjadi merasa bisa menjalankan tangan Allah dengan memutuskan seseorang layak atau tidak berada di suatu tempat.

Selalu saja menyelesaikan masalah dengan membuat masalah baru, bukan mencari penyelesaiannya.

Keimanan. Itu kuncinya.

Sary said...

Kalo gak salah udah ada ralat berita. tampaknya wartawan yg nulis gak lengkap. aku kl baca berita di twitter biasanya diendapkan dulu krn belum tentu kebenarannya. kecenderungan orang sekarang, langsung merespon kl baca/dengar sesuatu yg gak disukai.

Soal tes keperawanan, kalo sampe ada... meh! kaga deh anakku ditas tes begituh *_*

Bunda Kanaya said...

dari awal baca berita ini aku sudah mengernyitkan dahi.... kok ada aja ide bikin peraturan yang aneh - aneh

Monika Yulando Putri said...

syukurlah beritanya hoax ternyata mbak, serem amat kalao beneran...

alaika abdullah said...

Hampir ga mampu komen saking tercengang dan ga habis pikir ttg ide gila ini, saat pertama kali baca informasi ini. Kalo ga salah wkt itu aku msh di luar sana. Sungguh, kaget, heran, tercengang dan ga habis pikir, kok bisa-bisanya sih dapat ide murahan seperti ini? Apa ga lebih baik memikirkan bagaimana meningkatkan sarana dan prasarana belajar agar kegiatan bersekolah ini dpt dicecap oleh seluruh putra putri negeri ini? Tak hanya mampu dijangkau oleh anak-anak orang 'mampu'? Bukankah memikirkan hal-hal seperti ini lebih mulia, drpada mengurus soal perawan atau tidaknya seorang anak manusia?

Ih, aku juga ga rela jika anak gadisku disentuh-sentuh oleh siapa pun yang bukan haknya, Mak. Enak saja. :D

Widodo van Sodhunk said...

Huft.... saya masing bingung terhadap cara fikir mereka. -_-

Alifia Zuanita Rahmasari said...

Allah saja menutup aib hambanya, kenapa oknum malah mencari2 aib? Perawan/tidaknya bagaimana kita menyikapinya. Pikir belakangan juga, jangan kedepannya aja. Piki bagaimana nanti nasib mereka yang (maaf) sudah tidak perawan. Mereka juga punya hak yang sama. Dan harus lebih bermutu untuk berfikir. Dangkal sekali pemikiran oknum2 ini.

hanari said...

kenapa ya, biasa ada pemikiran tes keperawanan. mereka mikir gak apa rela anak-anak mereka di obok2 juga.