March 28, 2014

Napas Dulu, Yuk.


Sebelum baca tulisan ini, saya sarankan teman-teman untu tarik napas dulu. Siapa tau dengan bernapas, lebih bisa mencerna tulisan saya yang kadang suka sulit dipahami bagi sebagian orang. 

Seringkali dalam sebuah pembicaraan, sebutlah antara dua manusia, kadang kita menjadi lupa untuk mengambil jeda sebelum akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan pendapat kita. Hal ini bisa saja menimbulkan perspektif berbeda, dan parahnya bisa bikin dua-duanya sewot. Alih-alih pengin menjadi teman curhat yang baik, kok malah jadi adu argumen. Pernah berada dalam situasi kaya gitu? Yes, saya pernah.

Dari pengalaman tersebut, saya kembali mereview apa yang terbaik yang bisa saya dapatkan. Ternyata, menarik napas itu adalah sebuah teknik yang wajib terus diaplikasikan karena ampuh adanya. Ya, sesimpel itu. Tarik napas, hembuskan sambil melepaskan dan menghirup energi baru. Apalagi ketika kita sedang berbicara dengan teman, saudara atau pasangan kita, tarik napas adalah jeda yang paling efektif agar kita terhindar dari ngoto-ngototan. Sayangnya, kadang kita suka nggak sabaran. Bukannya mengambil jeda, kita malah jadi ingin buru-buru mengungkapkan pendapat kita, seperti nggak sabaran memotong pembicaraan lawan kita karena merasa punya pandangan lain tentang tema yang dibahas.

March 19, 2014

Buat Apa Asuransi? Saya Sehat, Ko



Sebenarnya, tulisan ini masih sedikit nyambung dengan tulisan saya sebelumnya di Blog Inspirasi Mama. Etapi, apa kaitannya dengan judul Asuransi, Mir? Jadi gini… 

Pernah kan, ditawari sebuah produk oleh sales, salah satunya asuransi? Mungkin sama seperti teman-teman lainnya, toh saya merasa sehat, untuk apa saya buang-buang duit bikin asuransi. Alhamdulillah, selama ini pun saya jarang sakit, kalau cuma flu atau demam, dengan istirahat cukup, Insya Allah bisa kembali membaik. Begitulah pikir simpel nya saya. Suka atau tidak, daripada nyimpen uang di asuransi, mending saya simpan uangnya dengan berinvestasi, bisa investasi LM, reksadana, atau apapun itulah. 

Ilustrasi gambar (dulu) saat malas mendengarkan presentasi jika ditawari asuransi (*mukanya engga banget ya, flat tak bertujuan wakakakak)

March 16, 2014

Mandiri itu, Penting!



Sejak suami saya dinas di luar kota, saya dituntut untuk lebih mandiri dalam segala hal. Mulai dari urusan dapur, anak-anak dan urusan lain seperti ngecek genteng bocor, angkat galon, paku-pakuan, bahkan hal-hal lain yang kadang membutuhkan tenaga dan pikiran lebih banyak. Meskipun begitu, hal yang paling utama yang saya jaga dengan suami adalah terus berkomunikasi. Bagaimanapun, setiap kali mengambil keputusan, ya nggak mungkin saya ambil langkah secara mandiri. Karena itu, setiap hari kami nggak pernah melewatkan minimal 15 menit untuk berkomunikasi melalui telepon dan membahas apa saja, termasuk membahas kasih sayang. Eh, kok dibahas :D

Apalagi kalau sudah menyangkut soal dapur dan keperluan sehari-hari. Karena saat ini suami saya sebagai pencari nafkah utama, sementara saya sifatnya membantu, maka segala lalu lintas keuangan pun dilakukan melalui rekening. Suka atau enggak, memiliki rekening di bank menjadi penting untuk saya dan suami yang terpisah jarak. 

Luarbiasanya nih, dunia perbankan saat ini pun berkembang pesat dengan terobosan produk-produknya. Seperti hal nya internet yang menjadi candu bagi sebagian orang, maka mau nggak mau, perusahaan-perusahaan besar pun, khususnya yang di dalamnya ada transaksi seperti bank, akan menggunakan berbagai fitur untuk memudahkan konsumennya. Contoh kecil, kalau jaman dulu banget, mau transfer uang harus melalui kantor pos atau wesel. Kemudian berkembang dengan penggunaan melalui ATM. Nggak mau ketinggalan, fitur dari berbagai bank pun merambah ke dunia online, hingga akhirnya lebih mendekat pada alat yang kita gunakan sehari-hari, yaitu handphone atau gadget dan smartphone. Yup, sebuah fitur yang paling praktis untuk orang yang super sibuk atau emak yang suka rempong kaya saya nih :D.

March 03, 2014

Blogger's Factory Visit to Sharp


Beberapa waktu lalu, saya bersama suami sempat melihat-lihat barang elektronik di sebuah mall di kawasan Bekasi. Ada rencana mau membeli sebuah televisi nih, karena televisi di rumah sudah mulai menampakkan gejala “udzur” nya. Setelah hunting seharian, ternyata kami belum menemukan sebuah televisi dengan merk yang pas. Maklumlah, saat ini merk-merk elektronik kan, banyak banget. Dan hasilnya gimana, belum jadi beli tv-nya, karena ternyata tv di rumah kembali bersahabat meski masih khawatir “udzur” lagi J

Ngomongin soal merk elektronik, pernah membayangkan nggak, bahwa barang-barang yang kita lihat tersebut, yang dipampang di etalase-etalase toko itu, seperti apa prosesnya, sebelum akhirnya terpampang  sebagai barang –barang elektronik seperti  tv, lemari es, mesin cuci dan sebagainya. Saya sendiri suka kepo juga, gimana sih daleman pabriknya itu, atau apa saja bahan-bahannya.

Beruntung ketika saya bersama empat orang teman dari Blogger Bekasi diberi kesempatan untuk melakukan Factory Visit ke salah satu pabrik di kawasan Karawang. Jujur saja, ini kesempatan langka, karena yang mengundang kami pun bukan brand sembarangan.