July 30, 2014

Jurus Pamungkas Mudik dan Lebaran



Alhamdulillah, ramadhan telah selesai. Meskipun sedih karena ternyata waktu terasa begitu cepat sekali berlalu, semoga saja ramadhan ini membawa berkah dan semoga kelak bisa dipertemukan kembali pada ramadhan berikutnya. Aamiin. Selamat Lebaran 1435 H teman-teman, Taqobalallaahu Minna Waminkum, Shiyaman Wa Shiyamakum. 

*****
“Mama, kapan kita mudik ke Bandung?” 

Begitulah pertanyaan yang selalu dilontarkan dengan excited oleh anak-anak saya, Vinka dan Zahran. Tau bahwa sekolah sudah mulai libur dan berita mudik tersebar di mana-mana, maka mereka pun nggak pengin berlama-lama lagi untuk segera mudik. Hihihi, padahal mudiknya deket, Cuma ke Bandung. Tapi tentu saja, bagi anak-anak, hal tersebut adalah sesuatu yang paling ditunggu.

Mudik kali ini masih sama dengan tahun sebelumnya. Ya, karena Ayahnya anak-anak masih dinas di luar kota, otomatis perjalanan mudik pun hanya terdiri dari saya dan anak-anak saya. Tapi walaupun begitu, mudik tetaplah mudik, selalu menjadi hal yang sangat dinantikan.

Saat perjalanan mudik ke Bandung

Bicara soal mudik, saya percaya semua pernah mengalaminya. Mudik terjadi saat memperingati hari besar seperti lebaran atau hari raya lainnya. Tapi karena mayoritas umat muslim merayakan lebaran, maka mudik lebaran lebih terasa suasananya. Tradisi ini memang kuat sekali, bahkan banyak keluarga atau orang-orang rela melakukan perjalanan panjang yang melelahkan. Bersyukur saya tidak harus melewati lebih dari 3 jam perjalanan. Karena jarak tempuh Jakarta Bandung masih terbilang dekat.

Tapi, yang namanya perjalanan tetap saja bisa menimbulkan kelelahan. Apalagi kita membawa serta anak-anak. Mau jarak tempuh dekat seperti saya, ataupun jarak yang lebih lama, perjalanan bisa menguras fisik dan menyebabkan timbulnya beberapa keluhan. Nah, kali ini karena kondisinya berbarengan dengan ramadhan, di mana putri saya Vinka, yang berusia 11 tahun juga sudah berpuasa. Otomatis saya lebih memerhatikan kesehatannya. Kalau Adik Zahran sih, masih bolong-bolong puasanya. Nggak apa-apa deh, biarkan dia menjalani prosesnya sesuai kemampuannya.

Beberapa hari sebelum mudik, Vinka sempat mengeluhkan kepalanya yang pusing. Sempat khawatir juga sih, apakah saya tetap jalan ke Bandung atau menunggu sakit kepalanya hilang. Tapi namanya anak-anak, rasa nggak sabarannya untuk mudik lebih mendominasi. 

Namanya anak mulai mengeluh sakit, saya nggak pernah berdiam diri lama-lama. Buka-buka kotak obat di rumah, Alhamdulllah persediaan obat masih ada. Dan tentunya, obat yang selalu saya sediakan adalah Panadol. Baik itu panadol untuk dewasa maupun untuk anak-anak. Dan karena Vinka mengeluh sakit kepala, Panadol Paracetamol 6 tahun ke atas jadi pilihan. Nggak ribet juga, obatnya ada yang syrup, ada juga yang tablet bisa dikunyah dengan rasa yang disukai anak-anak. Malah, kalau pas Vinka minum obat, adik Zahran suka ikut-ikutan pengin minum obatnya, alasannya…”Aku juga sakit kepala, Mam” Hehehe, lucu-lucu deh tingkahnya. Sejauh ini, demi efektivitasnya, saya juga selalu sedia plester kompres demam anak, yaitu Panadol Panacool.


1 hari sebelum mudik, Vinka mengkonsumi Panadol Paracetamol, Alhamdulillah sudah lebih segar, dan siap mudik. Tapi, meskipun sudah lebih baik, saya nggak mau ambil resiko. Persediaan obat ini tetap saya bawa dalam edisi mudik dan lebaran ini. Jaga-jaga anak-anak atau bisa jadi saya sendiri yang kelelahan, saya sudah siap dengan jurus pamungkas saya, hahaha. 


Untuk teman-teman yang kemarin melakukan perjalanan mudik dan merayakan lebaran, punya cerita apa nih seputar keluhan anak-anak? Salah satu hal yang penting dalam perjalanan mudik adalah tetap menyediakan obat-obatan pribadi, setidaknya untuk pertolongan pertama. Jangan sampai mudik dan lebaranannya jadi kacau hanya karena keluhan yang sebenarnya bisa segera diatasi. Segala sesuatunya mesti dipersiapkan dengan strategi yang pas.  Insya Allah, kalau strateginya tepat, maka mudik dan lebaran pun akan menjadi momen yang penuh kebahagiaan, dan menyenangkan seperti yang saya alami, Alhamdulillah deh pokoknya. 

Selalu siap sedia Panadol dalam tas
Well, apakah teman-teman punya jurus pamungkas lainnya untuk mudik dan lebaran kemarin? Share dong....  

4 comments:

rahmi said...

Emang harus siap obat2an ya Mak kalo perjalanan jauh, apalagi bawa bocah

Astin said...

bisa dicoba niiich, Faiz juga habis mudik meskipun ke Priuk badannya panas... Mohon maaf lahir dan batin iyaaa Mak Mira, Kak Vinka dan kak Zahran

Ida Nur Laila said...

bawa mainan masal mak, misal catur, kartu UNO, gitar....dan karaokenan hehe

Mira Sahid said...

@Rahmi ; Banget, mak. Makasih sudah mampir ya, mak

@Astin : Sama-sama, mak. Maaf lahir batin juga. Iya. Semoga Faiz kembali pulih

@Ida : Kalau karaokean, bawa studionya kali mak, hihihi.