April 06, 2015

Pentingnya Asupan Gizi Pada 1000 Hari Pertama

Sering kali, atau beberapa waktu terakhir ini saya mendapatkan komentar, "Mir, kamu kok, makin kurus sekarang?" Kalau sudah begitu, biasanya saya cuek aja dan menjawabnya dengan bahasa canda. "Iya, memang bawaan lahirnya kurus, kok. Tapi jangan bilang kalau kamu ngiri ama badanku, ya." Hihihi, impas. Tapi jujurnya juga, saya enggak tersinggung kok, mendapat komentar seperti itu. Memang beneran badan saya ini langsing sik. Kemarin saja, saya masih dikomentari kaya "ABG." *Bangga amat*, wekekek.

Dulu, dulu banget jaman SMP, SMA, saya memang nggak suka sama sayuran. Maunya makan pakai daging atau ayam terus. Kalau enggak pakai lauk-lauk itu, saya ogah makan. Mending nahan laper dan main terus deh. Dan kebiasaan itu ternyata terbawa terus sampai saya menikah. Dan pada saat hamil, barulah saya memaksakan untuk makan sayur, plus ikan yang nggak pernah saya suka sama bau amisnya. Tapi karena untuk memenuhi gizi bayi di kandungan, ya terpaksa dijabani lah. 

Nah, orang-orang seperti saya inilah, yang sebenarnya harus dikembalikan ke jalan yang benar dan diberikan pemahaman akan pentingnya gizi untuk kesehatan diri. Memangnya cukup hanya dengan makan ayam atau daging? Padahal kebutuhan diri kita kan, banyak banget, bukan sekedar protein saja. 

Jumat, 20 Maret 2015 lalu saya menghadiri Nutritalk yang diadakan oleh Nutrisi untuk Bangsa - Sarihusada dengan tema "Sinergi Pengetahuan Lokal dan Keahlian Global bagi Perbaikan Gizi Anak Bangsa." Dalam acara ini hadir Dr. Martina Alles, direktur Developmental Physiology & Nutrition Danone Nutricia Early Life Nutrition, Belanda dan Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, Guru Besar Tetap Ilmu Gizi Fakultas Ekologi Manusia, IPB.

Dr. Martine Alles
Welfie dulu sebelum acara dimulai :)