August 14, 2015

Menerima Judgement

Judgement atau dalam bahasa Indonesianya penilaian, seingkali mengarah pada hal atau kalimat yang kurang meng-enakkan (menurut gue). Jarang sekali kata judge nemplok dalam pemahaman yang lebih positif (menurut gue lagi). Biasanya yang sering terdengar, “Lo jangan asal nge-judge dong.” Atau “Please, don’t  judge me.” Ah apalah, itu sih sepemahaman saya aja, kalau ada kurang atau mau nambahi, boleh.

Hanya saja, judge itu makin nggak asik ketika diidentikan dengan hal-hal yang sebenarnya bukan menjadi ciri khas seseorang yang harus dipatenkan. Misalnya begini, saya mau curhat sambil mojok dulu ya.


Dalam sebuah pertemanan/ sekumpulan orang-orang/ komunitas, kita saling mengenal satu sama lain melalui proses.Kita menyamakan kualitas, dan mungkin berusaha menyatukan kuantitas,  Namun karena kesibukan satu dan lainnya, terkadang intensitas pertemuan pun semakin berkurang. Dulu, jaman saya masih pelaku MLM, lingkaran pertemanan saya hampir semuanya pelaku MLM. Tapi, di luar lingkaran tersebut, saya juga punya sahabat-sahabat di lingkaran kecil yang masih intens sampai sekarang.

Lalu, perlahan saya keluar dari lingkaran MLM (Pensiun dari MLM, meskipun silaturahim dengan teman-teman mlm masih berlanjut), saya makin kecemplung dengan lingkaran pertemanan dunia maya. Warbiyasahnya, saya makin melek dan menemukan keasyikan baru, karena ternyata saya bisa memiliki teman dari Sabang sampai Merauke. Asik? Iya lah. Makin suka lah saya dengan dunia networking di social media dan dunia blogger (kala itu). Lagi, saya masih punya kok, lingkaran pertemanan kecil di luar lingkaran socmed tersebut.

Semakin bertambahnya networking di dunia online, dan seiring dengan berkembangnya KEB sejak didirikan 2012 lalu, saya wajib bersyukur, karena ternyata dari silaturahim tersebut banyak kesempatan dan peluang yang didapatkan. Merasa itu memberikan manfaat yang baik, saya pun mencoba fokus tanpa dengan disengaja melupakan sahabat di lingkaran lainnya.

Lalu cerita berbeda ketika dalam lingkaran-lingkaran kecil ini, ternyata kesibukan saya membuat saya ter-judge sebagai “Orang Sibuk”. Awalnya saya lempeng saja, toh memang saya sedang memanfaatkan banyak peluang. Buat emak tegar, pejuang 45 yang harus ekstra tenaga buat nyari nafkah seperti saya ini, jujur… melihat peluang sekecil apapun, rasanya sayang untuk dilewatkan. Tapi dengan resiko, intensitas saya dengan sebagian teman atau sahabat saya mulai berkurang.

Saya kada suka sedih, atau ngelus dada ketika tiba-tiba muncul foto teman-teman yang sedang makan siang di sini, atau sedang jalan ke suatu tempat. Iseng nyeletuk, “kok aku nggak diajakin sih?” (siape elo Mir?!) dan jawaban teman-teman, “kamu kan sibuk, Mir.” Oke, sekali menerima jawaban seperti itu, lempeng aja. Lama-kelamaan, meskipun saya berusaha menyempatkan waktu diantara segala hal yang harus dikerjakan, kok tetap saja, ketika ada hal yang sama, lalu saya tanyakan kembali, jawabannya juga sama. Beberapa kali. “Kamu kan sibuk, Mir.” *lemparaypon

Kesal? Jujur, iyaa. Kok nggak ada habisnya saya dijudge sibuk. Apakah ini dampak dari usaha beberapa tahun saya, di mana saya sedang berjuang untuk ini itu? Lalu kemudian ketika saat ini saya pun lebih banyak di rumah, tanpa pengumuman, orang masih mengira saya memang sibuk beneran, dan judge itu tetap harus dilekatkan dengan saya? Aaah… entahlah. Ini jadi pertanyaan dan intropeksi saya juga sih. Apa benar saya sibuk banget, atau hanya kebetulan saja saat setiap kali lingkaran teman yang ini ada acara, mungkin penyebabnya bentrok dengan tugas saya yang lain? Ya karena saya dengan sahabat-sahabat saya tersebut, pengen dong dilibatkan, minimal diajak (meski bukan orang penting). Tapi kalau ndak diajak sama sekali karena mereka sudah menjudge saya sibuk duluan, di situ saya merasa sedih dan merasa terbaikan. Apalagi dikira saya yang menjauh. 

Saya terus berpikir, bagaimana caranya supaya saya bisa tetap bertemu dengan sahabat dari lingkaran ini, atau itu, atau enoh dan enih. Tapi kan badan saya cuma satu. Saya Cuma berharap, teman-teman yang sudah berteman dengan saya tahunan ke belakang tersebut, (yang kenal betul siapa dan bagaimana saya) nggak sampai berpikir bahwa saya ini selalu sibuk, apalagi disangka menjauh. Whuaa, jangan deh berpikiran seperti itu yaa. Sakitnya tuh di sini beibs. (molai sensi). Nggak usah juga beranggapan kalau saya itu nggak kepengen berkumpul ketika ada acara. Aslinya pengen banget. Tapi ketika bentrok, otomatis saya utamakan yang di dalamnya menuntut tanggung jawab saya lebih banyak. *Sama aja sih Mir, elo Zebok!! Plis, plis… Aku masih Mira yang dulu, kok *pasang tampang memelas.

Udah gitu aja, namanya juga curhat. Aku coba ehlas menerima judgement ini.

Kalau ada yang mau kasih saran, kritik, masukan, boleh. But plis don’t judge me lah ya. Kecuali kalau saya dijudge;  Iyah, elo makin manis dan cantik aja Mir. Atau, eh, gue sumpahin lo bahagia dan banyak duit ya Mir. Atau, iya, elo layak jadi miss universe kok, Mir. *ditabok. :D

13 comments:

Sumarti Saelan said...

Dihhh, museum Sampoerna <3

Tetty Hermawati said...

setiap orang itu emang gak pernah bisa memenuhi ekspektasi orang lain ya mak. Yang kita bisa ya ikhlas menerima apapun kata orang lain dan terus melakukan yg terbaik tanpa harapan penilaian dari siapapun :)

suria riza said...

Iniiii aku ajakkkk.berartiiii dataaanggg yaaa pas raffiiiiii

Noorma Fitriana M. Zain said...

Ciyee mak mir sibuukk teruss niyeee.. *dilempar bakso

Mas Huda said...

makanya ada kata don't judge the book by it's cover ya

Ila Rizky said...

Wajar, mak. Hehe. Makin sering terlihat aktif, orang akan melihat waktunya penuh dengan kegiatan2. Padahal sebenernya ga gitu juga. Lingkaran kecil biasanya menjauh karena udah beda visi aja, kadang ngobrol pun mungkin ga segitu asyiknya dibanding dulu sebelum waktu sibuk. Yang penting nimbrung aja kalo pas ada obrolan. :D

bunda rizma said...

pukpuk mak cantik. sabar ya mak... saran saya teteop jalin silaturahim atau bisa dengan 'lebih' dekati salah satu dari mereka,cerita bagaimana perasaan mak pon. hingga akhirnya bisa mengerti dan kembali lengket lagi seperti sedia kala. maaf kl ngga membantu

Nia Angga said...

sabar ya mbak..
mbak mira mungkin bisa mulai dengan ngajak mereka janjian maksi bareng biar tau kalo meski sibuk, mbak mira masih punya waktu buat mereka

or kalo mereka ga bisa sth bbrp diajak hangout bareng, tapi masih bisa hangout ama temen yang lain, serta masih komen kalo mbak mira yang sibuk.. it means, mereka bukan temen yg baik.. tinggalin aja hihihi plis jgn dilempar raypon yaa

HP Android said...

Yah, sabar saja ya mbak? hehehe... :D

Mei Wulandari said...

Mak Mira salam kenal yaaaa :)
Baca curhatan dari awal sampai akhir bisa disimpulkan kalo temen2 Mak Mir hanya melihat dari satu sisi saja. Kan namanya juga orang kadang sekali tahu teman kita sibuk pasti besok-besoknya dicap sibuk terus huhhuhu, padahal kan gak gitu juga, pengin ikut ngumpul bareng jg.
Sarannya sih Mak Mir buat pengumuman di sosmed (facebook misalnya), "woro-woro kalau Mira yang dulu tetaplah Mira yang dulu, Aku gak sibuk kok, jalan yukkkks"
Hahahhaha *maaf sarannya ngaco*

tutorial hijab sederhana said...

Harus sabar memang mbak :D kesabaran adalah kunci utama agar semua berjalan lancar

hinaya said...

Yang kita bisa ya ikhlas menerima apapun kata orang lain dan terus melakukan yg terbaik tanpa harapan penilaian dari siapapun :)

hinaya said...

Yang kita bisa ya ikhlas menerima apapun kata orang lain dan terus melakukan yg terbaik tanpa harapan penilaian dari siapapun :)