April 03, 2017

Indonesia Bebas Anemia Bersama Sangobion


Minggu pagi kemarin, saya hadir ke acara Indonesia Bebas Anemia bersama Sangobion, di halaman Keong Mas TMII. Meski termasuk yang bisa menempuh jarak dengan waktu sekitar setengah jam dari rumah, tapi saya jarang sekali main-main ke sana. Dan akhirnya, sejak  Sabtu saya memutuskan untuk menginap di TMII bersama anak-anak. Ini juga karena biar enggak kesiangan saja, sih. Soalnya bangunin anak-anak subuh banget itu kan, PR yes. 

Dan saat Minggu pagi tiba, saya dan anak-anak bergegas menuju tempat acara. Terlihat sudah banyak orang-orang berkumpul di halaman Keong Mas, dengan seragam merah. Di area acara Indonesia Bebas Anemi ini juga, sudah ada satu panggung besar, dan bagian kanan kirinya sudah berjejer tenda putih. Yang kanan untuk area donor darah, dan yang bagian kiri, untuk Tanya Anemia Center.

Jujur yaa, saya memang mengkonsumsi Sangobion sejak SMA. Kenapa? Karena saya merasa memiliki penyakit darah rendah. Eh, memangnya, darah rendah sebuah penyakit? Atau,  apasebenarnya saya ini hanya kurang darah, dan bukan darah rendah? Well said, setelah saya memasuki area Tanya Anemia Center, di sini saya baru tahu, ternyata kedua hal tersebut berbeda. Plus, ketika mendengarkan pemaparan dari Associate Director Marketing PT Merck, Anie Rachmayani, at least saya jadi semakin paham bedanya.

Dari informasi yang ibu Anie katakan, kurang darah itu artinya kadar hemoglobin dalam darah kurang dari normal. Darah rendah bisa terjadi ketika tekanan darah yang diukur dengan pengukur tekanan darah berada di bawah normal. Nah, biasanya, saat kurang darah, mata berkunang-kunang dan gampang pusing karena hemoglobin yang berfungsi membawa oksigen ke seluruh tubuh kurang. Oke fiks, ini terjadi saat saya sakit beberapa waktu lalu. Sama persis gejalanya nih.

Sedangkan darah rendah, adalah sama seperti kurang darah, dan terjadi karena ada gerakan berdiri dari posisi duduk atau jongkok mendadak sehingga aliran darah di otak turun tiba-tiba akibat gravitasi bumi. Kurang darah berarti ada “zat” dalam darah yang berkurang, sedangkan darah rendah ada tekanan darah dalam pembuluh darah yang berkurang. Nah, kalau ini contohnya ketika saya mau memasuki masa haid. That’s why, menjelang masa haid, sata mengkonsumsi sangobion 3x sehari.

Oh iya, kemarin di twitter ada juga yang Tanya. Kalau dikonsumsi terus menerus, ada efek samping enggak? Ini jawaban simple dari pengalaman saya aja ya. Karena kalau dihitung-hitung, sejak SMA, which means, udah hampir 18 tahun saya mengkonsumsi Sangobion, ya Alhamdulillah fine-fine aja. Insya Allah aman. Karena Sangobion kan, multivitamin yang mengandung zat besi dan beberapa komponen vitamin dan mineral lain yang ditujukan untuk mencegah dan mengatasi anemia akibat kekurangan zat besi. “Seperti itu, sis!” :D


Balik lagi ngomongin event Indonesia Bebas Anemia bersama Sangobion.

Selain aktivitas donor darah, dan Tanya Anemia Center, pagi kemarin juga masyakarat yang hadir diajak untuk melakukan senam Anemiaction dari Sangobion selama 5 menit, yang diresmikan langsung oleh Ibu Anie dan direksi Sangobion. Gerakannya soft banget kok, bukan ajruk-ajrukan. *heh, bahasa apa ituh, ajruk. Intinya, gerakan ini bisa diikuti oleh semua usia. Sekaligus acara ini juga memecahkan rekor muri sebagai peserta senam Sangobion terbanyak. Mona Ratuliu sebagai Brand Ambassador Sangobion pun, ikut melakukan senam ini. Ah… seru dan penuh banget deh kemarin. Alhamdulillah cuaca pagi juga cukup bersahabat.


Masih inget Rudy Choirudin dong yes. Iyaa, di acara Sangobion dese juga ada lho memandun acara demo masak. Yang seru di bagian ini, peserta juga dilibatkan dalam aktivitasnya. Plus, doi nyanyi-nyanyi merdu supaya penonton enggak bosan. Sayang, enggak bisa nyobain hasil resep arahan Rudi. Tapi kalau lihat menunya, yakin banget, itu pasti enak. *maaf enggak ada foto menu makanannya, susah naik panggungnya, hahaha. 


Daaaan…. Kejutan di akhir acara pun tiba juga. Nidji…!
Saat matahari semakin naik ke langit-langit TMII, dan disaat peserta mulai pada melipir mencari tempat teduh, Nidji pun berhasil memecahkan suasana. Dan area depan panggung pun mulai ramai dengan Nidji cholic berbaur dengan penonton lainnya.



Yuk, ah.
Kita sama-sama cegah anemia dengan memperbanyak aktivitas/ gerakan olahraga. Perbanyak zat besi juga, dan perbaiki pola hidup sesuai kebutuhan tubuh kita. 

Salam #Anemiaction

April 02, 2017

Ternyata, Sudah 1 Tahun!

Whuooo, ternyata sudah 1 tahun blog ini SANGAT terbengkalai saudara-saudara. Iyaa, ini adalah blog kedua setelah mirasahid.com, dan ternyata... kehilangan ruh Sang Mpunya. 

Anyway, ok, saya akan coba menghidupkan kembali blog ini deh ya. Kita mulai dari cerita agak serius.

Pernah enggak, teman-teman, merasakan bahwa waktu berjalan begitu cepat. Takut-takutnya nih, kalau kata ustadz, itu tanda-tanda kiamat. Dih, kok Seram amat sih bahasannya soal kiamat. Iya, kemarin enggak sengaja dengar di mobil uber, yang Alhamdulillah dapat driver soleh. Jadi radio yang diputar tentang ceramah gitu. 

Merasa bahwa perlu sesekali mendengar ceramah seperti itu. ((SESEKALI??)), oke maaf, ralat. Sebaiknya sesering mungkin, saya pun sengaja mendengarkan isi ceramah di radio tersebut. Dan iya, salah satu yang disampaikannya adalah tanda-tanda kemunduran jaman, Ya Allah, jujur saja, saya merinding mendengarnya. Apalagi salah satu ciri-ciri kemunduran jaman yang banyak dirasakan semua orang, pun termasuk saya adalah, merasa bahwa waktu berjalan begitu cepat. Jleb. Huuu, iya eke merasakan itu. Bagaimana dengan kalian, gaes?

Ada peribahasa, "Menjadi tua itu, pasti. Menjadi bijak itu, pilihan."
Nah, bijak yang dimaksud itu, seperti apa ya teman-teman? Apakah cukup kita dengan mampu mengontrol emosi, lebih wise, lebih cool, atau apa? Soal ini teman-teman pasti punya pandangan masing-masing. Dan buat saya pribadi, bijak dalam usia-usia matang, adalah sebuah proses kembali memaknai sebuah keberadaan kita di dunia ini.

Setelah banyak sekali melakukan kesalahan, dan semoga saja saya bisa belajar dari kesalahan tersebut, tentu saja... saya juga ingin berproses untuk kembali menjadi baik/ lebih baik dan bijak dibanding sebelumnya. Bukan, bukan pencitraan yaa. Ini hanya gambaran bahwa, seorang manusia itu akan masuk dalam fase seperti ini. Sebuah fase di mana apa yang dilakukan ingin bermanfaat dan senantiasa mendapatkan ridhoNya. Ya, mungkin ini juga peringatan dari Allah Swt, bahwa hati saya sedang bekerja. Yakalau saya enggak merenungi setiap fase, mungkin hati saya sudah jadi batu. Dan bersyukur, gejolak itu saya rasakan, meski untuk benar-benar menjadi lebih baik itu memang terus berproses. 

Nah, teman-teman, gimana sih pengalaman kalian memasuki usia-usia 35 ke atas? Apa metamorfosis kalian setelah usia 35 ke atas? Asli, saya mau banget belajar dari sharing2 teman2. Siapa tau kita bisa saling mengajarkan. *Ahzeg...

Yuk, ditunggu komennya ya